www.bisnistoday.co.id
Selasa , 8 September 2026
Home OPINI Gagasan Negara Kaya dengan Rakyat Miskin Papa
GagasanOPINI

Negara Kaya dengan Rakyat Miskin Papa

Masyarakat miskin di Indonesia
Social Media

INILAH negeri yang kontras, Indonesia yang kaya sumber daya alam, khasanah kebudayaan,  keanekaragaman  hayatinya terluas nomor dua di dunia.  Tetapi, hidup rakyatnya yang terbanyak hidup jadi petani, nelayan, petambak, peternak, perajin hidup miskin tak terperi.

Suroto

Untuk sekedar hidup layak pun tak mampu mereka cukupi. Sementara para mafia kartel yang kerjanya berkongkalikong dengan pejabat membuat kebijakan yang untungkan mereka sendiri, hidup berlebihan dan bermewah mewah.

Sejak menjadi bangsa merdeka 78 tahun silam, kata rakyat identik dengan miskin, kumuh, tidak berpendidikan. Mereka itu juga yang selama ini dijadikan sebagai target kelompok para makelar program pemerintah, dan sasaran bantuan bantuan dan utang luar negeri serta penerima buih janji sampah politisi.

Kemiskinan di Indonesia bukan hanya gambarkan potret buram kondisi masyarakat. Tapi juga kondisi kesenjangan yang tajam dari elit kaya dan rakyat banyak. Selain wariskan ketidakberdayaan berkelanjutan.

Kekayaan 5 anggota keluarga konglomerat kaya sebesar Rp1300 triliun sama dengan kekayaan 100 juta rakyat Indonesia dari yang termiskin. Penelitian SMERU (2020) juga menyebut 87 persen dari keluarga miskin itu tetap wariskan kemiskinan.

Politisi, birokrat setengah abad lebih melakukan upaya program pengentasan kemiskinan tersebut. Namun lagi lagi nasib mereka tetap sama, miskin papa. Sementara para makelar program hidup enak sejahtera.

Kesalahan Terus Diulang

Rakyat diadvokasi, diberdayakan, dibina, dan segudang istilah yang selalu berganti ganti dengan  hasil sama, miskin berkelanjutan. Kesalahan lama terus diulang dan solusinya selalu sama. Sakitnya sakit lama, tapi obatnya juga obat lama. Aktor elitnya juga sama, turun temurun beranak pinak.

Sebagian lagi anak-anak muda idealis yang baru lulus dari kampus lalu berteriak lantang untuk menyerukan lakukan perubahan dari dalam. Masuk ke ruang politik praktis dengan slogan, “orang baik harus masuk lakukan perubahan, jangan biarkan para pencoleng memimpin”.

Siklusnya ternyata juga terus berulang, para elite intelektual itu hanya memperpanjang siklus pengkhianatan. Para aktivis yang dulu pernah berjuang hingga sampai diculik, sekarang antara penculik dan yang diculik sedang asik bermesraan. Mereka ternyata hanya turut memperpanjang siklus pencolengan.

Harapan perubahan seakan pupus sudah. Tidak mungkin berharap pada elite kaya perompak republik, tidak mungkin berharap kepada politisi dan birokrat boneka elite kaya. Sulit diharapkan juga datang dari hero-hero intelektual yang garang dan bersuara lantang tapi idealisme sangat tipis jaraknya  dengan isi perutnya.

Apakah kita bisa berharap pada perubahan alamiah? seperti bekerjanya alam?. Membiarkan  alam  mencari jalannya sendiri. Padahal, banjir bah tak terbendung di tengah hutan yang telah dirusak oleh elit konglomerat hitam pengejar keuntungan itu hasilnya melalap semuanya. Rakyat kecil menjerit dimana mana. Mereka lagi lagi yang jadi korban pertama. Sementara elit pemilik korporasi justru yang sering mendapat talangan (bailout) negara.

Konsep Antonio Gramci mungkin salah satu harapannya, munculnya mesias yang disebut dengan intelektuil organik. Sekelompok elit intelektuil yang dengan ketulusan dan kerelaan hati membela rakyat dan berkerja bersama mereka. Membangun basis dan menjalani laku hidup yang sama dengan rakyat yang mereka bela. Para elit pembaharu genuine. Mereka yang bersama sama rakyat merebut apa yang menjadi hak mereka yang dirampok. Pertanyaanya, masih adakah intelektuil organik di tanah suci Republik Indonesia tercinta ini?./ Oleh Suroto, Anggota Lembaga Think Thank AKSES

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Bencana Banjir Bandang dan Longsor di Nepal, 26 Agustus 2026 (Dok: NDTV)
Gagasan

Membaca Ramalan di Tengah Bencana

PADA  24 Juni 2026, dua gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,2 SR dan...

Ustadz Das'ad
Gagasan

Meneladani Rasulullah Disaat Riuh Digitalisasi

JAKARTA, Bisnistoday- Di tengah kehidupan yang semakin cepat, tuntutan gaya hidup yang...

Bencana Banjir Bandang dan Longsor di Nepal, 26 Agustus 2026 (Dok: NDTV)
Gagasan

Ketika Alam Mulai Kehilangan Daya Tahannya

SEJUMLAH  kengerian demi kengerian terjadi di berbagai belahan dunia: badai, kebakaran hutan,...

Saiful Chaniago
Gagasan

Gas sebagai Jembatan Energi Indonesia

MENJAGA lampu tetap menyala bukan sekadar perkara menekan sakelar. Di baliknya terdapat...