JAKARTA, Bisnistoday – Data menunjukkan pengembangan dan pengusahaan listrik panas bumi hampir di semua negara relatif lebih lambat dibandingkan jenis pembangkit listrik yang lainnya. The Credit Suisse Analysis menyebutkan bahwa meskipun harga listrik panas bumi dapat lebih murah dibanding harga listrik dari jenis pembangkit lainnya, tetap terdapat potensi bisnis listrik panas bumi tidak lebih menarik.
“Permasalahan yang ada tersebut, pengembangan dan pengusahaan panas bumi pada dasarnya belum dapat sepenuhnya menggunakan mekanisme business to business. Pengembangan dan pengusahaan panas bumi pada umumnya masih memerlukan intervensi kebijakan,” tutur Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro kepada media di Jakarta, Kamis (8/8).
Sejak mulai diusahakan pada 1980 an sampai dengan akhir 2023, total kapasitas terpasang pembangkit listrik panas bumi Indonesia dilaporkan baru mencapai sekitar 2.597,51 MW, atau baru sekitar 10,3% dari total potensi sumber daya yang dimiliki Indonesia.
Lebih lanjut, Komaidi menguraikan, sejumlah faktor yang disebut menyebabkan pengusahaan listrik panas bumi menjadi tidak lebih menarik. Pertama, pembangkit listrik panas bumi disebut memiliki biaya investasi awal yang lebih mahal dibanding jenis pembangkit listrik lain.
Selain itu, yang kedua, lanjut Komaidi, investor masih menilai biaya operasional pembangkit listrik berbasis fosil yang lebih mahal tetap lebih menarik dibandingkan modal awal yang tinggi untuk usaha listrik panas bumi;
Komaidi menambahkan, juga pengembangan listrik panas bumi dinilai tidak fleksibel karena hanya dapat dibangun/dikembangkan di tempat tertentu sedangkan pembangkit listrik lain dapat dibangun di lokasi yang lebih fleksibel.
“Faktor lainnya, yakni adanya kesulitan untuk menemukan sumber panas bumi yang menyebabkan biaya eksplorasi menjadi lebih tinggi,” tambahnya.//









































