BANDUNG, Bisnistoday – Berawal dari ketidaksengajaan, siapa yang menyangka Ai Mulyani (56) saat ini sukses dengan usaha saroja mini (sarmini) bermerek Ceu Odah.
Berawal pada tahun 2017 lalu, saat itu bibinya yang memang seorang pedagang penganan tradisional Sunda, seperti rengginang, peuyeum, dan sebagainya, mendapatkan pesanan kudapan saroja.
Namun, karena satu dan lain hal, sang bibi menolak pesanan tersebut. Alhasil, Ai pun menawarkan diri untuk membuatkannya.
Dengan bermodalkan cetakan yang dipinjamnya dari sang bibi, Ai malah ketagihan berjualan saroja. Saat itu, ukurannya belum mini alias masih normal.
“Akhirnya karena sudah senang berjualan, ibu (Ai) mulai mengurus legalitas PIRT. Ketika ibu ingin beli cetakan dan mencari di Google, kata yang jualnya, di daerah Tasik sedang musim sarmini, saroja mini. Ibu pesan dan ternyata respons konsumen bagus karena kan ini kecil, mungkin jadi enak juga satu kali gigitan,” ungkap Ai, kepada Bisnis Today, Selasa (30/6).
Kesuksesan Ai tentu tidak mudah diraih. Ai sempat jatuh bangun, mulai dari kesulitan mendapatkan pemasok bahan baku yang pas hingga kesulitan sumber daya manusia. Sebab, ternyata membuat saroja membutuhkan teknik khusus.
“Pernah, lagi banyak orderan, akhirnya minta tolong orang, ternyata gagal semua produknya. Jadi, sekarang masih digarap berdua dengan suami saja,” kata Ai yang setiap harinya bisa memproduksi 1 sampai 5 kilogram tepung untuk saroja.
Tidak mau menyerah, Ai pun mulai rajin mencari informasi terkait pelatihan ataupun pendampingan untuk UMKM. Akhirnya, pada tahun 2021, Ai menemukan Rumah BUMN BRI yang berada di Jalan Jurang, Bandung.
Ai mendapatkan banyak pelatihan hingga dibantu untuk akses perizinan halal serta akses permodalan berupa Kredit usaha Rakyat (KUR) dari bank BRI.
Momentum yang tak terlupakan adalah ketika ikut pameran yang difasilitasi Rumah BUMN. Ia tak menyangka, semua produk sarmini yang dibawanya ludes habis terjual sebelum pukul 11.00 siang.
“Dulu sama sekarang jauh. Tahun 2018 ibu mulai rajin cari informasi pembinaan, mulai dari Disdagin dan banyak lagi. Kemudian, perdana ikutan pameran ketemu BRI, ibu masuk ke sana, jadi binaannya, ikut banyak pelatihan, sampai akhirnya ikutan bazar. Dari sana, mulai merek Ceu Odah lumayan dikenal banyak orang,” kata warga asal Gegerkalong, Bandung, tersebut.
Dari pameran tersebut, Ai mendapatkan pelanggan setianya yang sampai sekarang rutin memesan produknya.
“Sangat terasa programnya sama ibu buat branding produk ibu sudah sangat luar biasa. Semoga ke depannya UMKM yang difasilitasi BRI semakin maju,” katanya.
Adapun saat ini sarmini dijual Rp30 ribu per pcs, sementara produk tape ketan hitam Rp50 ribu. Kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan tersendiri bagi Ai dan pelaku usaha lainnya sehingga terpaksa melakukan penyesuaian harga pada produk yang dijual.
“Bahan baku sudah pasti naik, termasuk juga bahan penunjang seperti label, plastik, dan lainnya naik semua, Penopang Utama
Penopang Penguatan UMKM
Dalam kesempatan berbeda, Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan (Unpas), Acuviarta Kartabi, menyebut perbankan memiliki peran strategis dalam mendorong inklusi keuangan sekaligus memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui penyaluran pembiayaan yang produktif.
Salah satu instrumen yang dinilai efektif adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR), yang hingga kini menjadi penopang permodalan bagi pelaku UMKM.
Acuviarta Kartabi mengatakan akses perbankan yang semakin luas sangat penting untuk menjangkau masyarakat yang selama ini belum tersentuh layanan keuangan formal. Menurutnya, kehadiran perbankan juga dapat menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pinjaman berbunga tinggi maupun pinjaman online ilegal.

“Perbankan memiliki fungsi sebagai lembaga intermediasi sekaligus agent of development. Karena itu, akses layanan keuangan harus menjangkau masyarakat hingga ke pedesaan dan pelosok, bukan hanya di perkotaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kebutuhan permodalan masih menjadi persoalan utama yang dihadapi pelaku UMKM. Berdasarkan berbagai survei, keterbatasan modal selalu menjadi salah satu hambatan terbesar dalam mengembangkan usaha.
Dalam kondisi tersebut, KUR dinilai menjadi salah satu program pemerintah yang efektif karena menawarkan bunga yang lebih rendah melalui subsidi pemerintah. Skema tersebut dinilai mampu membantu pelaku usaha memperoleh akses pembiayaan yang lebih terjangkau.
Meski demikian, Acuviarta menegaskan bahwa keberhasilan KUR tidak cukup diukur dari besarnya penyaluran kredit.
Pendampingan dan edukasi kepada pelaku UMKM juga harus menjadi bagian penting agar dana yang diterima benar-benar dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.
“KUR jangan hanya berhenti pada penyaluran kredit. Harus ada pembinaan, pendampingan, dan literasi keuangan sehingga dana digunakan untuk mengembangkan usaha, bukan untuk kebutuhan konsumtif,” katanya.
Ia menilai masih terdapat kesalahpahaman di sebagian masyarakat yang menganggap KUR sebagai bantuan pemerintah yang tidak perlu dikelola secara produktif. Padahal, pembiayaan tersebut merupakan kredit yang harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas usaha agar mampu berkembang dan menghasilkan keuntungan.E2









































