Press "Enter" to skip to content

Subholding Upstream PT Pertamina Gencarkan Optimasi Biaya Operasi 

Salah satu fasilitas produksi di Regional Indonesia Timur Subholding Upstream.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Paska restrukturisasi holding-subholding Pertamina di tahun 2020, Subholding Upstream yang mengelola seluruh wilayah kerja hulu Pertamina terus melakukan optimasi biaya operasi. Hal ini terungkap dalam townhall meeting Subholding Upstream secara virtual tentang kinerja Semester I-2021. 

Henricus Herwin, VP D&P Technical Excellence & Coordination sebagai Project Manager dari Tim Cost Optimization menjelaskan tujuan OPTIMUS (Optimization Upstream) adalah untuk membangun budaya optimasi biaya dalam etos kerj dengan biaya efektif dan efisien. OPTIMUS juga menyasar optimasi biaya untuk aktifitas pengembangan yang memungkinkan perusahaan untuk dapat terus mengembangkan sumber daya dan produksi secara lebih aggresif dan berkelanjutan. 

‘’OPTIMUS dilakukan dengan menggunakan 7 pilar, yaitu peningkatan akurasi budget, inovasi teknis dan standarisasi desain, perubahan filosofi kerja, optimisasi operasional, optimisasi supply-chain, kerja sama antar perusahaan dan renegosiasi kontrak, serta organisasi yang adaptif,” ungkap Henricus dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (14/9).  

Berita Terkait : Pertamina Kembangkan Platform Data Migas Nasional

Tujuh pilar ini, lanjut Henricus, sangat mungkin dijalankan dengan adanya regionalisasi dan operasi tanpa batas (Borderless Operation)  serta pemanfaatan fasilitas bersama dan juga didukung dengan digitalisasi. 

“Capaian optimasi ABO (Anggaran Biaya Operasi) yang terealisasi hingga akhir bulan Juni 2021 melalui OPTIMUS sudah mencapai USD 349 juta atau 112% dari target tahunan yang ditetapkan,” terangnya.

Menurut Henricus, capaian target optimasi biaya tahun 2021 di Subholding Upstream diperoleh dari berbagai kegiatan berdasarkan 7 pilar optimasi biaya tersebut. Salah satunya adalah melalui penerapan DRUPS (Diesel Rotary Uninterruptible Power Supply) dengan sumber power supply dari layanan PLN Super Ultima-2 Power Plant di Pertamina EP (PEP) Tanjung Field yang masuk dalam pengelolaan Regional Kalimantan. 

“Penerapan teknologi DRUPS ini sangat berdampak baik pada peningkatan power quality-reliability menjadi diatas 99% serta dapat mengurangi beban biaya produksi lebih dari 45%. Sebelumnya, biaya produksi PEP Tanjung Field cukup tinggi dan sebagian besar untuk penggunaan BBM dan pelumas  pada power supply sehingga perlu adanya alternative power supply yang lebih ekonomis namun tetap reliable,” jelas Henricus. 

Berita Terkait : Pertamina Berkontribusi Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca

Selain dari biaya produksi dan reliability, penerapan DRUPS ini juga sebagai bentuk sinergi BUMN dan dapat berpotensi untuk menurunkan sampai dengan 35 juta ton CO2eq emisi gas rumah kaca serta penurunan limbah B3. Selain itu, salah satu program optimasi biaya lainnya di lingkungan Subholding Upstream dilakukan di Blok Mahakam. Dengan optimasi well intervention melalui metode redesign dan kolaborasi, PHM yang termasuk dalam Zona 8 Regional Kalimantan mampu melakukan penghematan biaya.  

John H. Simamora, Direktur Perencaan Strategis dan Pengembangan Bisnis Subholding Upstream menuturkan, dengan pola regionalisasi dan borderless operation di Subholding Upstream maka akan tercipta value creation dan optimasi biaya dari seluruh proses yang menjadi lebih kolaboratif antar zona dan wilayah kerja. 

“Saya yakin dengan solidaritas kita dan kekuatan seluruh aset sumber daya yang kita miliki, khususnya SDM yang berkualitas, berkomitmen, dan berkontribusi,  akan menjadi bekal untuk mencapai semua target serta aspirasi perusahaan,’’ tutur John dalam kegiatan Town Hall Meeting bersama seluruh Perwira Subholding Upstream Pertamina./

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *