JAKARTA, Bisnistoday – Sebagian besar masyarakat yang berhasil menduduki jabatan tinggi atau pengusaha kelas atas mengaku dilahirkan dari perdesaan. Begitupun, tidak sedikit dari mereka mengaku lahir di desa, hidup sulit di desa, lalu pergi ke kota menjadi orang berhasil, lalu lupa akan tempat kelahirnya. Lalu ketika sudah usia lanjut, ingin menengok kembali desanya dan ingin meninggal di desanya.
“Desa hanya tempat lahir dan ingat akan mati dikuburnya di desa. Lalu mereka bersenang-senang ketika berhasil sukses dihabiskan di perkotaan,” ungkap Wamendes PDT, Ahmad Riza Patria, saat acara Guyub APUDSI (Asosiasi Pelaku Usaha Desa Seluruh Indonesia) di Jakarta, Rabu (19/2) malam. Ketika menjadi orang sukses, lupa untuk membangun desanya, lalu saat mau meninggal ingin dikubur di desanya.
Menurut Riza, fenomena ini sudah terbiasa dan umum di masyarakat Indoesia. Kehidupan desa hanya sebagai pengingat masa kecil. Lalu perkembangan hidup yang cenderung materialistis menjadikan masyarakat berbondong-bondong memadati perkotaan di Indonesia.
Wamendes dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Ahmad Riza Patria sekaligus Ketua Dewan Penasehat APUDSI menuturkan, bahwa tren hidup di perkotaan tidak bisa dibendung tetapi paling tidak dapat ditekan, dengan menghidupkan kembali ekonomi perdesaan secara otomatis mengurangi urbanisasi.
Seperti yang diceritakan Riza Patria, bahwa di Indonesia ada sebanyak 75.265 desa. Dari jumlah tersebut, ada kategori desa mandiri, desa maju, desa berkembang, maupun desa tertinggal. Dari sebanyak 75 ribu desa tersebut terdapat 3 ribu desa belum mendapatkan akses listrik. Sedangkan 22 ribu desa lainnya belum tersentuh akses internet.
Gaya Hidup Materialistis Perkotaan
Di Indonesia juga, lanjut Riza, sebanyak 73% Penduduknya masih ber KTP Desa. Sedangkan 45% masih tetap tinggal di desa. Berbeda dibanding dengan Korea Selatan, 83% pendudukan sudah tinggal di perkotaan, Jepang malah 93% pendudukanya tinggal di kota dan hanya sedikit di perdesaan. “Ini menjadi masalah serius dalam pengembangan desa.”
Kedua negara di Asia tersebut, memang tingkat urbanisasi dari desa ke kota sangat tinggi. Tipe warganya memang sangat bekerja keras, dan ingin mendapatkan penghidupan layak di kota. Pendek kata, bahwa gaya hidup masyarakat di Korea maupun di Jepang sudah lifestyle perkotaan. “Gaya hidup perkotaan ini lalu diturunka dari kakek nenek nya.”
Ia mengutarakan, lalu apa yang terjadi gaya hidup perkotaan yang cenderung materialistis, hingga mengharuska warga perkotaan ini menghidupi dirinya dengan kerasa sehingga tidak cukup waktu untuk menjaga kehidupanya sebagai manusia yang menikah, melahirkan, berpasangan dan sebagainya.
“Lalu trennya warga hanya memilih punya anak satu, takutnya tidak ada yang mengurus. Berbeda dengan Indonesia, banyak anak banyak rezeki.Perkembangan belakangan bahwa warga perkotaan ini sudah enggan menikah. Di Jepang sekitar 15% warganya berumur 15-40 tahun, masih lajang. Bahkan mereka tak memiliki pengalaman berpacaran.”
Butuh Pengembangan
Ini menjadi fenomena di dunia. Begitupun di Indonesia akan terjadi apabila tidak mengerem arus urbanisasi ke kota. Padahal di desa banyak potensi yang bisa dikembangkan. Misalnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) banyak multiplier effect yang tumbuh di perdesaan. Banyak peran desa dan kesempatan di desa sehingga betah tinggal di desa. “Kami ajak semua elemen terlibat aktif dalam pengembangan desa. “
Selain itu, perlunya para pengusaha besar dan menengah untuk terlibat aktif dalam pegembangan ekonomi desa. Bahkan, para ormas semua diminta keterlibataya dalam membangu desa.
“Kami mengharapkan, para jenderal memiliki satu desa binaan di kampungnya masing -masing. Semua pejabat daerah harus turun tangan membangun kepedulian desa. Jangan sampai lahir di desa, senang-senang di kota, dan kembali tua serta meninggal di desanya lagi, tanpa banyak yang diperbuat bagi desanya.”/








































