JAKARTA, Bisnistoday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir pekan, Jumat (15/03) ditutup turun tajam sebesar 105,26 poin ke posisi 7.328,04. Sementara indeks LQ45 melemah 14,12 poin ke posisi 997,46.
Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya menyebut, pelemahan IHSG terimbas oleh bursa kawasan regional Asia. “Bursa regional Asia terkoreksi setelah rilisnya data Indeks Harga Produsen (IHP) Amerika Serikat (AS) periode Februari 2024 yang tercatat naik 0,6 persen month to month (mtm), setelah sebelumnya meningkat 0,3 persen (mtm) pada Januari, atau melebihi ekspektasi kenaikan 0,3 persen (mtm).”
Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis surplus neraca perdagangan Indonesia periode Februari. menyempit tajam menjadi 0,87 miliar dolar AS, dari sebelumnya tercatat sebesar 5,46 miliar dolar AS pada bulan yang sama tahun 2023, atau jauh di bawah perkiraan pasar yang sebesar 2,32 miliar dolar AS. “Ini merupakan surplus neraca perdagangan terkecil sejak Mei 2023 lalu, karena ekspor turun di tengah impor yang melonjak,” sebutnya.
Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tiga sektor meningkat yaitu dipimpin sektor transportasi & logistik yang naik sebesar 1,47 persen diikuti sektor teknologi dan sektor kesehatan yang masing-masing naik 0,37 persen dan 0,08 persen.
Sedangkan delapan sektor terkoreksi dimana sektor keuangan turun paling dalam minus 1,96 persen, diikuti sektor barang baku dan sektor infrastruktur yang masing-masing minus 1,82 persen dan 0,95 persen.
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu KICI, MITI, NIKL, IMJS dan TINS. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni CUAN, SMLE, IOTF, PTPS, dan UDNG.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.106.264 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 25,69 miliar lembar saham senilai Rp17,85 triliun. Sebanyak 226 saham naik, 312 saham menurun, dan 230 tidak bergerak nilainya.
Rupiah Merosot
Sementara itu, nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) jelang akhir pekan merosot di tengah pasar memproyeksikan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed masih mempertahankan suku bunga acuannya atau Fed Funds Rate (FFR).
Pada akhir perdagangan Jumat (15/03), kurs rupiah melemah 19 poin atau 0,12 persen menjadi Rp15.599 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp15.580 per dolar AS.
“Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh prospek Fed Funds Rate yang masih akan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan sejalan dengan inflasi AS yang masih sulit turun,” kata analis pasar uang Bank Mandiri Reny Eka Putri.
Reny menuturkan data sektor tenaga kerja AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan tingkat pengangguran yang meningkat menjadi sebesar 3,9 persen pada Februari 2024, lebih tinggi dari perkiraan pasar dan Januari 2024 yang sebesar 3,7 persen.
Sementara itu, terdapat sedikit kenaikan pada non-farm payrolls (NFP) AS dengan penambahan sebesar 275 ribu pada Februari 24 seiring meningkatnya pekerjaan pada sektor kesehatan.
Lebih lanjut, inflasi AS terbaru dirilis meningkat menjadi 3,2 persen (yoy) pada Februari 2024, lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar sebesar 3,1 persen (yoy) karena adanya kenaikan harga pangan dan energi.
Baca juga: Inflasi Dalam Negeri Naik, IHSG Melemah
Begitu pula untuk inflasi inti meningkat sebesar 3,8 persen (yoy) pada Februari 2024, di atas konsensus sebesar 3,7 persen (yoy). The Fed memperkirakan ekonomi AS tumbuh lebih rendah sebesar 1,4 persen pada 2024 dibandingkan capaian pertumbuhan sebesar 2,5 persen pada 2023.
Perkembangan data-data ekonomi AS tersebut membuat AS berhati-hati sebelum menyesuaikan arah suku bunganya, sehingga hampir dapat dipastikan pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Maret 2024, The Fed masih akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,5 persen.
Menurut ekspektasi pasar, kemungkinan terdekat bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga acuannya akan dilakukan pada Juni 2024. Perkembangan data-data ini pula yang masih mempengaruhi pasar valas global termasuk rupiah./









































