JAKARTA, Bisnistoday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir pekan, Jumat (01/03) ditutup melemah 4,20 poin ke posisi 7.311,91. Sementara indeks LQ45 turun 2,03 poin ke posisi 987,89.
Pelemahan dipicu oleh peningkatan inflasi di dalam negeri. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada Februari 2024 sebesar 0,37 persen (mtm), atau lebih tinggi dibandingkan sebelumnya yang hanya 0,04 persen.
Secara tahunan, inflasi pada Februari 2024 tercatat sebesar 2,75 persen year on year (yoy), atau masih berada dalam kisaran target pemerintah yang sebesar 1,5 sampai 3,5 persen.
Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG bergerak ke zona merah hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor meningkat di mana sektor properti paling tinggi yaitu 0,29 persen, diikuti sektor energi dan barang konsumen non primer yang naik masing- masing sebesar 0,22 persen dan 0,14 persen.
Lima sektor terkoreksi dimana sektor keuangan turun paling dalam minus 0,83 persen, diikuti sektor teknologi dan sektor kesehatan yang masing-masing minus 0,68 persen dan 0,36 persen.
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu MUTU, VISI, SMLE, FILM dan TAYS. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni ALII, VKTR, FIRE, MMIX, dan WIDI.
Baca juga: IHSG Melemah Didorong Turunya Saham Sektor Transportasi dan Logistik
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.229.532 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 15,52 miliar lembar saham senilai Rp10,75 triliun. Sebanyak 231 saham naik, 285 saham menurun, dan 242 tidak bergerak nilainya.
Rupiah Menguat
Sementara itu di pasar uang, nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS ditutup naik dipengaruhi data inflasi Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) Amerika Serikat (AS) yang menurun. Pada akhir perdagangan Jumat (01/3), rupiah menguat 15 poin atau 0,10 persen menjadi Rp15.704 per dolar AS dari sebelumnya Rp15.719 per dolar AS.
“Inflasi AS yang menurun, mengonfirmasi peluang pemangkasan suku bunga The Fed di semester kedua tahun ini. Jadi mungkin ekspektasi pasar ini bisa menahan penguatan dolar AS,” kata pengamat pasar uang Ariston Tjendra seperti dikutif Antara.
Ariston mengatakan Indeks Harga PCE inti AS Januari 2024 dirilis sebesar 2,8 persen secara year on year (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 2,9 persen.
Selain itu, data PMI manufaktur China yang dirilis hari ini masih menunjukkan level kontraksi di 49,1. Itu menunjukkan belum ada pemulihan berarti pada sektor manufaktur China yang menjadi penggerak perekonomian negara-negara mitra dagang China seperti Indonesia dan bisa memberikan sentimen negatif ke rupiah.
Di sisi lain, isu kenaikan harga pangan masih bisa memberikan sentimen negatif ke rupiah. Naiknya inflasi akibat hal ini bisa menurunkan daya beli masyarakat dan mengganggu pertumbuhan ekonomi.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat meningkat ke level Rp15.696 per dolar AS dari sebelumnya Rp15.715 per dolar AS./









































