JAKARTA, Bisnistoday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan awal pekan. Senin (27/05) ditutup melemah 45,95 poin ke posisi 7.176,41. Sementara indeks LQ45 turun 6,04 poin ke posisi 889,79.
Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Senin (27/05) menyebut, sentimen eksternal dan internal membayangi pergerakan IHSG.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi pada 2024 sekitar 4,7 hingga 5,5 persen, yang dilatarbelakangi oleh pertumbuhan ekonomi kuartal I-2024 yang sebesar 5,11 persen.
Dari mancanegara, bursa regional Asia dibayangi oleh berkurangnya ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed, terutama setelah risalah pertemuan The Fed pada Mei 2024, yang mengungkapkan kekhawatiran inflasi yang sedang berlangsung, dengan beberapa pejabat cenderung menaikkan suku bunga.
Dalam pandangan risalah itu, para petinggi The Fed masih mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang belum di tentukan, karena keraguan suku bunga yang berlaku apakah mampu menurunkan inflasi.
Hal tersebut dilatarbelakangi sikap dari Gubernur The Fed Jerome Powell dan pejabat The Fed lainnya menekankan perlu lebih banyak bukti bahwa inflasi berada pada jalur yang berkelanjutan menuju target 2 persen yang ditetapkan The Fed, sebelum memangkas suku bunga acuan.
Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, dua sektor meningkat yaitu dipimpin oleh sektor teknologi sebesar 2,36 persen, diikuti oleh sektor barang konsumen primer yang turun sebesar 0,07 persen.
Sedangkan sembilan sektor terkoreksi yaitu sektor properti turun paling dalam minus 1,68 persen, diikuti sektor barang baku dan sektor infrastruktur yang minus 1,52 persen dan minus 1,29 persen.
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu TAXI, AMMN, PNLF, PPRI dan SSIA. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni IOTF, PTRO, CUAN, BRPT dan SURI.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.299.214 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 21,04 miliar lembar saham senilai Rp14,80 triliun. Sebanyak 207 saham naik, 367 saham menurun, dan 205 tidak bergerak nilainya.
Baca juga: Pasar Tunggu Hasil Sengketa Pilpres, IHSG Melemah
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain, indeks Nikkei menguat 253,89 poin atau 0,66 persen ke 38,900,00, indeks Hang Seng menguat 218,41 poin atau 1,17 persen ke 18.827,34, indeks Shanghai menguat 35,16 poin atau 1,14 persen ke 3.124,04, dan indeks Strait Times menguat 3,70 poin atau 0,11 persen ke 3.320,27.
Rupiah Turun
Sementara itu, kurs rupiah terhadap dolar AS ditutup merosot 77 poin atau 0,48 persen menjadi Rp16.072 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp15.995 per dolar AS.
“Pelaku pasar masih mengkhawatirkan The Fed yang masih akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama, menyusul risalah Federal Open Market Committee yang tetap bernada hawkish dan PMI Global S&P flash AS yang menunjukkan aktivitas bisnis yang kuat,” kata analis pasar uang Bank Mandiri Reny Eka Putri seperti dikutif Antara.
Reny menuturkan pergerakan valas masih akan dipengaruhi oleh sentimen dari AS. Investor mencermati data-data ekonomi AS yang baru yang menunjukkan meningkatnya data durable goods order.
Pesanan baru AS untuk barang-barang tahan lama yang diproduksi naik sebesar 0,7 persen month on month (mom) pada April 2024, lebih rendah dari sebesar 0,8 persen pada Maret 2024.
Risalah Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru juga menunjukkan pembuat kebijakan prihatin atas inflasi yang sulit turun dan beberapa anggota mengindikasikan kesediaan untuk memperketat kebijakan lebih lanjut jika inflasi melonjak.
Konsensus pasar saat ini hanya melihat potensi penurunan suku bunga acuan hanya satu kali pada 2024 dan kemungkinan baru akan terjadi menjelang akhir tahun.
Pada perdagangan pekan ini, investor akan memantau rilis Indeks Harga Indeks Harga Belanja Personal (PCE) AS dan pidato oleh beberapa pejabat bank sentral AS atau The Fed.
“Sementara itu, dari domestik minim rilis data sehingga sentimen pasar cenderung akan melihat perkembangan eksternal,” ujarnya.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin melemah ke posisi Rp16.064 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp15.995 per dolar AS./







































