BOGOR, Bisnistoday — Di tengah hiruk-pikuk modernisasi Kota Bogor, berdiri kokoh sebuah situs bersejarah yang menjadi saksi bisu masa kejayaan Kerajaan Pajajaran, yakni Prasasti Batutulis. Terletak di Jalan Batutulis, Bogor Selatan, situs ini menjadi pengingat akan kejayaan leluhur Sunda yang telah bertahan lebih dari empat abad lamanya. Meski kini dikelilingi oleh pemukiman padat dan jalan raya, keberadaannya tetap memancarkan aura sakral yang tak lekang oleh waktu.
Prasasti Batutulis didirikan pada tahun 1533 Masehi oleh Prabu Surawisesa, putra dari Prabu Siliwangi, sebagai bentuk penghormatan kepada ayahandanya. Batu besar berwarna abu tua itu menjadi simbol duka sekaligus penghormatan atas runtuhnya Kerajaan Pajajaran setelah diserang oleh Kesultanan Banten dan Cirebon. Tulisan yang terukir dengan aksara Sunda Kuno di permukaannya merekam kisah panjang tentang kesetiaan seorang anak kepada leluhurnya dan cinta terhadap tanah Sunda.
Secara fisik, Prasasti Batutulis memiliki tinggi sekitar 151 sentimeter dan lebar 145 sentimeter, terbuat dari batu andesit alami dengan pahatan halus. Di permukaannya terdapat sebelas baris aksara Sunda Kuno yang sebagian besar berisi pujian kepada Prabu Siliwangi dan doa untuk kelestarian negeri Sunda. Berdasarkan penelitian Balai Arkeologi Jawa Barat, isi prasasti juga menyebut nama tokoh spiritual seperti Guru Dewata Prana dan Sang Hyang Dewa Niskala, yang dianggap sebagai pelindung kerajaan.
Penemuan ilmiah pertama terhadap situs ini dicatat oleh arkeolog Belanda N.J. Krom pada awal abad ke-20. Ia menilai Prasasti Batutulis sebagai salah satu bukti tertulis paling penting dalam memahami sistem pemerintahan Sunda Kuno. Kini, prasasti tersebut menjadi objek penelitian berkelanjutan, terutama dalam bidang epigrafi dan arkeologi. Para peneliti terus menelusuri makna simbolik dari setiap aksara yang terukir, untuk memahami nilai-nilai spiritual dan politik masa Pajajaran.
Dalam observasi lapangan, batu ini disimpan di ruang kecil sederhana beralaskan karpet hijau. Warga setempat, termasuk Bapak Firman, telah menjaga situs ini secara turun-temurun selama lebih dari 30 tahun. Menurutnya, prasasti bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan “roh” dari kebanggaan warga Bogor terhadap leluhur Sunda. “Kami menjaganya bukan karena tugas, tapi karena rasa hormat pada sejarah,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Pemerintah Kota Bogor melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata telah menetapkan Prasasti Batutulis sebagai cagar budaya yang wajib dilestarikan. Situs ini juga dijadikan destinasi edukatif bagi pelajar dan peneliti yang ingin mengenal sejarah Sunda secara langsung. Setiap tahunnya, ribuan pengunjung datang, baik untuk berziarah, melakukan penelitian, maupun sekadar mengenang jejak kejayaan Prabu Siliwangi.
Prabu Surawisesa sendiri dikenal sebagai raja yang berjuang mempertahankan Pajajaran di masa transisi kekuasaan abad ke-16. Dalam naskah Carita Parahyangan, ia disebut telah berperang 15 kali untuk melindungi kerajaannya dari ancaman luar. Pendirian Prasasti Batutulis menjadi bentuk pengabdian terakhirnya terhadap sang ayah sekaligus simbol akhir dari kejayaan Pajajaran sebelum kekuasaan beralih ke wilayah pesisir.
Kini, di tengah pesatnya pembangunan Kota Bogor, Prasasti Batutulis tetap menjadi saksi sejarah yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Bagi masyarakat, situs ini bukan hanya batu bertulis, tetapi warisan budaya yang meneguhkan identitas Sunda. Di balik ukiran yang kian menua, tersimpan pesan abadi, bahwa kemajuan sejati berakar dari penghormatan pada sejarah dan leluhur.(RF)


