www.bisnistoday.co.id
Rabu , 8 Juli 2026
Home OPINI Gagasan Ada “Jejak” Nabi Ayyub di IKN
GagasanOPINI

Ada “Jejak” Nabi Ayyub di IKN

*Ishaq Zubaedi Raqib Adalah Pemerhati Masalah Sosial Keagamaan
Social Media
Bagi sebagian besar umat Islam, hikayat Nabiyuna Ayyub As, termasuk sirah yang tak pernah kering. Bak gentong raksasa, ia menyimpan pelajaran dan ibroh yang tak akan pernah habis hingga Hari Kiamat. Bagaimana bisa lenyap, sedang Allah SWT sendiri yang menceritakan hikayat itu, lewat firman-firman yang luhur dalam Alquran. Dihafal oleh tak terhitung makhluk penghuni bumi, dan, tentu saja jadi tasbih para penghuni langit.

Kisah itu, dapat dengan mudah ditemukan di surah Shod, ayat 41 hingga 44. Dalam rangkaian ayat-ayat tersebut, dengan lugas, umat dapat pemahaman, betapa lewat Nabi Ayyub, Tuhan mengajarkan para hamba-Nya bagaimana menyikapi kemuliaan hidup dunia lewat karunia anak-anak yang berbakti, harta berlimpah, isteri salehah. Semua lenyap dalam sekejab. Tiada guna sedikit pun saat ujian sakit mendera !

Tak kurang sejumlah riwayat, baik dari atsar, khabar atau hadits, menukil kisah dramatik ini. Nabi Muhammad SAW dalam sejumlah kesempatan menyampaikan kepada para sahabat, detik-detik Nabi Ayyub lepas dari deraan virus atau bakteri atau kuman, yang belum pernah ada (memapar) sebelumnya. Sakit yang membuatnya tak berdaya. Belatung-belantung memenuhi tubuh dan menyebar hingga bagian terdalam badannya kecuali satu, kalbunya ; taman Tuhan.

Sebab Tanah

Sebelum musibah menimpa, Nabi Ayyub dilaporkan dalam banyak tabaqat, hidup dengan harta yang tiada ternilai, banyak anak, serta tuan atas hamparan tanah dan sejumlah bangunan yang luas. Semua itu dicabut dari tangannya oleh Allah SWT. Nasib melemparkan Nabi Ayyub ke dunia sebaliknya. Ia hidup di tempat pembuangan sampah di kotanya, selama delapan belas tahun. Kehidupan yang penuh derita.

Ingatkah kita dengan penggalan ayat-ayat hikayat Nabi Ayyub ini ? Ada dua unsur penting yang akhirnya jadi asal muasal wasilah kesembuhannya. Apa itu ? Tanah dan air. Tentu, Allah SWT sajalah yang berkuasa menentukan kapan penyakit akan diangkat dan kapan kesembuhan akan diturunkan. Termasuk kepada Nabi Ayyub. Ketika bagi Allah sudah tiba waktunya, maka Dia akan menyediakan “sebab” agar jadi wasilah kesembuhan. Tanah Air !

Sudah barang pasti ada yang bertanya kenapa Allah menjadikan tanah dan air sebagai sebab. Sangat jelas, itu adalah hak sepenuhnya Allah SWT. Mengapa bukan tongkat ? Yang dengan itu Nabi Musa As membelah lautan. Sebab dengan tongkat, Nabi Ayyub dipapah setiap kali mau berwudhu. Atau unta ajaib yang jadi bukti kerasulan Nabi Saleh ? Sebab dengan ternak Nabi Ayyub jadi saudagar yang kaya raya ?

Sebagaimana dipahami, tidak semua firman-Nya bisa dijelaskan dengan mata telanjang. Allaahu A’lami Bi Murodihi–Allah Lebih Tahu dengan apa yang Dia maksud. Termasuk saat Allah menjadikan tanah-air sebagai sebab kesembuhannya. Dari Tafsir Ibn Katsir kita dapat penjelasan bahwa, ketika usia penyakit mencapai 18 tahun, Allah mengijabah munajat dan doa Nabi Ayyub. Hanya kepada Allah dia memohon dan menggantungkan asa.

Tuhan mengamarkan kepada Nabi Ayyub agar menghentakkan kaki ke tanah tempat dia berpijak. Tanah yang sekian puluh tahun lamanya keluarga mulia ini tinggal, tanah tempat dia diuji dengan kemuliaan dunia dan tanah di mana ujian itu turun. Tanah yang telah menyerap miliaran gelombang elektromagnetik karena jadi tempat dia memuja, mengabdi, dan bersujud kepada Allah SWT. Tanah adalah unsur utama penciptaan manusia.

Unsur Air

Ayyub diperintah untuk bangkit dari tempat duduknya. Sesuai wahyu, ia menghentakkan kakinya ke tanah. Dengan wasilah hentakan kaki ke tanah, lalu terciptalah mata air. Allah meminta Ayyub mandi dengan air dari mata air bekas hentakan kakinya itu. Atas kuasa Allah, secara ajaib, lenyap sudah semua penyakit yang ada di tubuhnya. Berguguran ribuan belatung yang selama delapan belas tahun “menemani” Nabi Ayyub dalam ujian.

Untuk kedua kalinya, Allah YME memerintahkan kepadanya untuk menginjakkan kaki ke tanah. Ia memilih bagian lain, sesuai wahyu, maka Allah menyumberkan mata air lainnya. Lalu Dia memerintahkan Nabi Ayyub untuk minum dari air tersebut. Setelah minum air itu, maka lenyaplah semua penyakit yang ada di dalam perutnya dan menjadi sehatlah ia seperti sedia kala. Nabi Ayyub sehat lahir batin !

Semua kemuliaannya di dunia yang lenyap, perlahan dikembalikan Allah. Yang pertama adalah memulangkan isterinya yang sempat diminta pergi oleh Nabi Ayyub karena menggunting sebagian rambutnya untuk dijual demi kebutuhan makan. Nabi Ayyub tidak berkenan dan berjanji, jika sembuh, ia akan mendera isterinya seratus kali dengan cambuk. Janji ini berbentuk nadzar yang wajib hukumnya ditunaikan. Mengabaikan nadzar, adalah dosa.

Sekali lagi, Allah SWT menganugerahi “sebab” dan wasilah untuk Nabi Ayyub. Untuk “membayar” khidmahnya yang panjang kelada suaminya, Allah perintahkan Nabi Ayyub mengambil lidi, bukan cemeti atau pecut apalagi cambuk, untuk mendera isterinya sebagai bentuk pelaksanaan janji. Berapa kali ? Hanya sekali, tapi lidinya berjumlah seratus lembar. Sungguh ! Betapa Allah selalu memberi jalan mudah bagi semua hamba-Nya agar tetap dalam ketaatan kepada-Nya.

Tanah Air di IKN

Beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi mengambil sebab lewat tanah dan air. Sejumlah gubernur hadir. Ada momen penyerahan kendi berisi air. Ada juga unsur tanah. Presiden memulai hajat nasional ini dengan menyebut nama Allah SWT atau “dzikrullah.” Tak sedikit yang berkomentar. Ada yang dapat memahami, ada yang mengkritisi. Sejumlah orang mengecam dan mengantarkan presiden ke bibir jurang kemusyrikan. Tapi banyak juga yang mengamini.

Sebagai Kepala Pemerintahan, Jokowi adalah orang nomor satu di republik ini. Bahkan, sebagai Kepala Negara, Jokowi masuk dalam jajaran “The Muslim 500 : The World’s 500 Most Influential Muslims 2022” atau tokoh muslim paling berpengaruh tahun 2022. Berdasarkan data yang diunduh dalam laman Themuslim500.com diketahui Presiden Jokowi berhasil menempati posisi ke-13. Suatu angka pengakuan yang bukan main-main.

Kalau Jokowi berharap unsur tanah dan air sebagai wasilah agar Allah menjadikannya sebagai sebab bagi lenyapnya segala macam kesulitan dalam membangun Ibu Kota Negara, maka itu adalah caranya memohon kepada Allah SWT. Tak ada yang dapat memastikan, siapa tahu, Jokowi mengambil simbol perjuangan Nabi Ayyub saat lepas dari penyakit lewat “hentakan” tanah dan siraman air. Wallaahu A’lamu Bishshowaab. (*)

* Ishaq  Zubaedi Raqib adalah pemerhati masalah sosial keagamaan

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Kemiskinan
Gagasan

Pengakuan Seorang Anak Tentang Kehidupan Keluarga Miskin Kota

SEJAK tahun 2021, ayah saya bekerja sebagai buruh harian lepas di Yogyakarta....

Orasi Ilmiah
Gagasan

“Dramaturgi” Dibalik Skandal Riset “Bodong”

DUNIA akademik Indonesia baru saja dihantam badai yang memalukan di panggung internasional....

Kopdes Merah Putih
Gagasan

Jangan Dipersempit, Koperasi Desa Merah Putih Mesti Dipandang Lebih Holistik

RASANYA, perlu diselaraskan dalam pemikiran koperasia atas hadirnya program Koperasi Desa /Kelurahan...

Dream Job
Gagasan

Secercah Harapan Muncul, Semoga Badai Ekonomi Segera Berlalu

BELUM LAMA INI, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan perlunya disiplin fiskal. ...