JAKARTA, Bisnistoday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan awal pekan, Senin (08/07) ditutup melemag tipis 2,39 poin ke posisi 7.250,97. Sementara indeks LQ45 turun 2,30 ke posisi 904,32. Melemahan mengkuti pelemahan bursa saham kawasan Asia.
Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya, Senin (08/07) menyebut, pada perdagangan hari ini bursa regional Asia bergerak cenderung terkoreksi. Hal ini turut menekan pergerakan IHSG. Pelaku pasar tampaknya cenderung menanti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) dan China pada pekan ini.
Di sisi lain, pasar mencermati perkembangan perang dagang antara Uni Eropa dan China karena memburuknya hubungan akibat penerapan kenaikan tarif Uni Eropa pada mobil listrik China.
Uni Eropa menaikkan bea masuk atas impor mobil listrik China hingga hampir 38 persen dalam upaya melindungi industri otomotif mereka, sehingga menambah tekanan pada Beijing di tengah perang dagang yang sedang berlangsung dengan AS.
Menantikan data inflasi China, data tersebut tentunya untuk menopang dan mengukur kesehatan perekonomian, mengingat China merupakan salah satu kekuatan ekonomi di global.
Data cadangan devisa China turun 9,7 miliar dolar AS menjadi 3,222 triliun dolar AS pada Juni 2024 dari 3,232 triliun dolar AS pada Mei 2024, karena dolar menguat terhadap mata uang lainnya.
Dari dalam negeri, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) periode Juni menurun dibandingkan dengan Mei 2024, yang mana Bank Indonesia (BI) dalam rilisnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia turun menjadi 123,3 pada bulan Juni 2024 dari 125,2 pada Mei 2024, yang merupakan angka terendah sejak Februari 2024.
Meskipun menurun, mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat, yang tercermin dari IKK Juni 2024 berada pada level optimis di atas 100.
Namun demikian, IKK tentunya tetap menjadi perhatian karena penurunan ini tidak terlepas sikap konsumen dalam konsumsinya di tengah masih dibayangi ketidakpastian ekonomi global dampak dari inflasi dan suku bunga sehingga mendorong konsumen cenderung menahan diri untuk membelanjakannya.
Dibuka menguat, IHSG bergerak ke teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, delapan sektor menguat dipimpin oleh sektor properti yang naik sebesar 2,55 persen, diikuti oleh sektor infrastruktur dan sektor barang konsumen non primer yang masing-masing naik sebesar 1,55 persen dan 1,29 persen.
Sedangkan, tiga sektor turun yaitu sektor energi turun paling dalam minus 0,44 persen, diikuti sektor barang baku dan sektor keuangan yang masing-masing turun sebesar 0,22 persen dan 0,20 persen.
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu GOLF, WIKA, BLES, ISEA dan WTON. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni ATLA, ESTA, PART, JARR dan KKGI.
Baca juga: Awal Pekan IHSG dan Kurs Rupiah Merosot
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.273.187 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 18,85 miliar lembar saham senilai Rp10,76 triliun. Sebanyak 318 saham naik 256 saham menurun, dan 223 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain, indeks Nikkei melemah 131,69 poin atau 0,32 persen ke 40,780,69, indeks Hang Seng melemah 275,54 poin atau 1,55 persen ke 17.524,06, indeks Shanghai melemah 27,47 poin atau 0,93 persen ke 2.922,44, dan indeks Strait Times melemah 6,34 poin atau 0,19 persen ke 3.404,46
Rupiah Menguat
Di pasar uang, kurs rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 20 poin menjadi Rp16.258 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.278 per dolar AS.
“Penguatan rupiah terhadap dolar AS Senin ini karena pelaku pasar melihat peluang pemangkasan suku bunga acuan membesar setelah data tingkat pengangguran AS terus naik di akhir pekan kemarin,” kata pengamat pasar uang Ariston Tjendra seperti dikutif Antara.
Selain data tingkat pengangguran AS yang terus naik, data PMI sektor jasa juga di luar dugaan masuk ke area kontraksi.
Ariston menuturkan indeks dolar AS terlihat menurun ke bawah area 105, pagi ini di sekitar 104,92 dan sore ini lebih turun lagi di kisaran 104,86. Namun, di sisi lain, sikap pasar masih tergantung oleh dinamika data AS yang akan dirilis ke depannya seperti pekan ini yang akan menghadirkan dengar pendapat antara Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell dengan Kongres tentang kebijakan moneter dan data inflasi konsumen AS Juni 2024.
Ia mengatakan pernyataan atau data yang mendukung penurunan inflasi bisa terus menekan dolar AS dan sebaliknya.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin menguat ke level Rp16.265 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.312 per dolar AS./

