BOJONEGORO, Bisnistoday – Pagi itu, deru mesin roda tiga terdengar di jalanan kecil Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro. Di atasnya, beberapa karung sampah rumah tangga terguncang. Tapi, berbeda dengan biasanya, sampah-sampah ini bukan sekadar menumpuk di TPA. Mereka kini punya “masa depan” baru: diolah menjadi energi, pakan ternak, hingga kompos.
Inovasi ini lahir lewat program “Si Imut My Darling” dengan singkatan dari Integrasi ikan maggot, unggas, dan ternak bersama masyarakat sadar lingkungan – hasil kolaborasi warga desa dengan PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12.
“Sampah yang dulu jadi masalah, kini bisa jadi sumber rezeki. Dari dapur langsung masuk ke budidaya maggot, sementara plastik kami olah jadi bahan bakar alternatif,” ungkap Edi Arto, Officer Community Relation and CSR PEPC Zona 12, sambil menunjuk ke mesin pirolisis sederhana di sudut lahan
Perempuan Desa Jadi Garda Depan
Di Desa Sendangharjo, pengelolaan sampah bukan hanya urusan laki-laki. Justru, 23 perempuan yang tergabung dalam bank sampah memegang peran penting. Mereka rutin menimbang sampah, mengedukasi tetangga, hingga membagikan tas sampah agar warga terbiasa memilah sejak dari rumah.
“Dulu kami hanya kumpulkan botol bekas dari proyek. Tapi setelah pandemi, kami serius kembangkan bank sampah. Alhamdulillah, sekarang setiap bulan bisa kumpulkan 300–400 kilogram sampah,” cerita Ujang, perwakilan Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan (BSM-KH)
Bagi para ibu rumah tangga, aktivitas ini bukan hanya soal kebersihan, tapi juga menambah penghasilan keluarga. Sampah yang sudah terpilah bisa dijual, diolah, bahkan dipakai sendiri sebagai pupuk atau pakan.
Maggot, Lele Dan Keluarga
Tak hanya perempuan, remaja desa juga ambil bagian. Mereka mengelola kandang kambing, kolam lele, hingga ayam petelur. Semua pakan hewan itu sebagian besar berasal dari maggot larva lalat yang dibudidayakan dari sampah organik.
“Dengan maggot, 85 persen kebutuhan pakan hewan kami terpenuhi. Biaya pakan berkurang drastis, hasil ternak tetap melimpah,” ujar Ujang tersenyum.
Dari maggot, lahir lele segar untuk lauk makan malam. Dari ayam petelur, gizi keluarga tercukupi. Dan dari kompos, sawah lebih subur. Semua berawal dari sampah dapur yang dulu dianggap tak berguna.
Inspirasi Banyak Tempat
Kini, Desa Sendangharjo mampu mengolah hingga 1 ton sampah per hari, bahkan ditargetkan bisa mencapai 2 ton. Lebih dari sekadar mengurangi timbunan, program ini membentuk kesadaran baru: bahwa sampah punya nilai jika dikelola dengan benar.
“Ini bukan hanya program, tapi gerakan bersama. Kami ingin anak-anak di desa tumbuh dengan kebiasaan mencintai lingkungan,” kata Edi Arto.
Di desa kecil di Bojonegoro ini, warga berhasil membuktikan: dengan kerja sama dan inovasi, masalah sampah bisa berubah jadi sumber kehidupan. Dari sampah, lahirlah berkah./



