JAKARTA, Bisnistoday – Ketidakpastian ekonomi global dan persaingan perdagangan yang semakin ketat, peluang justru terbuka lebar bagi produk-produk lokal Indonesia. Dari batik, makanan olahan, kerajinan tangan, hingga produk kreatif berbasis budaya, pasar internasional kini mulai melirik kualitas produk UMKM nasional. Namun, persoalan klasik masih membayangi: banyak pelaku usaha kecil memiliki produk bagus, tetapi belum memahami jalan menuju ekspor.
Kondisi inilah yang mendorong Menteri Perdagangan, Budi Santoso atau yang akrab disapa Mendag Busan, menggerakkan program penguatan UMKM ekspor. Dalam sebuah forum diskusi bertajuk “NGOPI: Ngobrol Produk Indonesia” di Jakarta, Mendag Busan mengajak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk lebih percaya diri menembus pasar global.
Forum yang digelar bersama gerakan pemberdayaan UMKM Local Champion Indonesia (LCI) itu bukan sekadar ajang diskusi santai. Di balik suasana akrab ala warung kopi, tersimpan agenda besar pemerintah: menciptakan lebih banyak eksportir baru dari sektor UMKM.
“Banyak UMKM sebenarnya punya produk bagus, tetapi belum tahu caranya ekspor. Padahal peluang pasar internasional terbuka sangat luas,” ujar Mendag Busan dalam forum tersebut.
Ekspor Tak Lagi Rumit
Selama ini, ekspor kerap dianggap sesuatu yang rumit dan hanya bisa dilakukan perusahaan besar. Mulai dari urusan dokumen, logistik, standar produk, hingga pencarian buyer luar negeri menjadi tantangan tersendiri bagi UMKM.
Namun kini, pemerintah mencoba memangkas hambatan tersebut melalui program “UMKM BISA Ekspor”. Program ini mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli dari berbagai negara melalui sistem pitching dan business matching secara virtual.
Melalui dukungan 46 perwakilan perdagangan RI di 33 negara, pelaku UMKM dapat dipandu mulai dari pemetaan pasar hingga presentasi langsung kepada calon buyer mancanegara. “Seluruh tahapan dilakukan virtual sehingga UMKM dari daerah mana pun bisa ikut tanpa harus datang ke luar negeri,” kata Mendag Busan.
Strategi ini menjadi penting di era digital ketika akses pasar internasional semakin terbuka, tetapi persaingan juga semakin tinggi. Pemerintah ingin UMKM Indonesia tidak hanya bertahan di pasar domestik, tetapi juga mampu menjadi pemain global.
Inaexport dan Jalan Digital UMKM
Dorongan ekspor UMKM juga diperkuat melalui platform digital Inaexport. Platform ini dirancang sebagai layanan terpadu yang menghubungkan eksportir Indonesia dengan buyer internasional.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, mengatakan akses informasi pasar menjadi faktor penting dalam memenangkan persaingan global.
Menurutnya, banyak UMKM sebenarnya memiliki kualitas produk yang kompetitif, tetapi kalah karena minim informasi dan jejaring bisnis. “Inaexport menjadi one-stop service bagi pelaku usaha untuk terhubung dengan buyer di seluruh dunia secara gratis,” jelas Puntodewi.
Platform tersebut menyediakan katalog produk, data pasar internasional, hingga profil buyer potensial yang dapat diakses UMKM. Langkah digitalisasi ini dinilai penting untuk mempercepat transformasi perdagangan Indonesia.
Dari Warung Kopi ke Pasar Dunia
Founder Local Champion Indonesia, Dhika Yudistira, mengatakan forum “NGOPI” lahir dari obrolan sederhana antara pelaku usaha dan pemangku kepentingan.Dari diskusi informal itulah muncul kesadaran bahwa UMKM membutuhkan ruang dialog yang lebih terbuka dengan pemerintah. Bukan hanya mendengar kebijakan, tetapi juga menyampaikan langsung persoalan di lapangan.
“Potensi produk UMKM Indonesia sangat besar. Yang dibutuhkan adalah penguatan ekosistem agar pelaku usaha bisa tumbuh bersama,” ujar Dhika.
Dalam forum tersebut, para pelaku usaha juga menyampaikan berbagai keluhan mulai dari biaya logistik, penyederhanaan regulasi, hingga penguatan platform digital ekspor. Pemerintah menilai masukan tersebut penting untuk menyusun kebijakan perdagangan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan pelaku usaha kecil.
Harapan dari Solo
Di sudut forum, Abdullah, pelaku UMKM batik asal Solo, tampak antusias mengikuti diskusi. Selama ini ia mengaku yakin produknya memiliki potensi pasar internasional, tetapi tidak memahami prosedur ekspor.
Baginya, tantangan utama bukan pada produksi, melainkan akses dan pengetahuan.“Kalau produksi kami mampu. Yang belum kami pahami itu tata cara ekspornya,” ujarnya penuh harap.
Cerita Abdullah merepresentasikan ribuan UMKM lain di Indonesia. Mereka memiliki kreativitas dan kualitas produk, tetapi masih membutuhkan pendampingan agar bisa masuk rantai perdagangan global.
Momentum Baru Ekonomi Nasional
Kontribusi UMKM terhadap ekonomi Indonesia selama ini sangat besar. Sektor ini menyerap mayoritas tenaga kerja nasional dan menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Karena itu, peningkatan kapasitas ekspor UMKM tidak hanya berdampak pada pertumbuhan usaha kecil, tetapi juga terhadap ketahanan ekonomi nasional.
Di tengah perlambatan ekonomi global, diversifikasi pasar ekspor melalui UMKM dinilai menjadi strategi penting pemerintah. Semakin banyak UMKM masuk pasar internasional, semakin kuat daya tahan ekonomi Indonesia menghadapi gejolak global.
Melalui pendekatan kolaboratif, digitalisasi, dan pendampingan langsung, pemerintah kini mencoba mengubah paradigma lama bahwa ekspor hanya milik perusahaan besar.
Dari ruang diskusi sederhana bertema “NGOPI”, harapan itu perlahan tumbuh: produk lokal Indonesia bukan sekadar berjaya di negeri sendiri, tetapi juga mampu bersaing di pasar dunia./


