GARUT, Bisnistoday – Perubahan cara masyarakat bertransaksi dari uang tunai ke sistem digital tidak selalu berjalan mulus di tingkat bawah.
Di banyak wilayah, proses adaptasi itu justru menghadirkan celah yang membutuhkan jembatan agar layanan keuangan tetap dapat diakses semua kalangan.
Peran tersebut dijalankan Iman Sulaeman, pemilik agen BRILink “Iman” di Cibatu, Kabupaten Garut. Ia membaca perubahan pola transaksi sebagai peluang sekaligus kebutuhan yang harus dijawab secara langsung di tengah masyarakat.
Baca Juga: BRI: Tidak Boleh Ada Masyarakat Tertinggal dari Akses Keuangan
“Sekarang orang sudah mulai beralih dari uang kertas ke uang digital, di situ ada peluang yang cukup besar,” ujar Iman, Minggu (17/5/2026).
Sekitar empat tahun lalu, Iman memutuskan mencoba peruntungan dengan mendaftar sebagai agen BRILink. Prosesnya tidak instan, ia harus menunggu hingga tiga bulan untuk mendapatkan mesin EDC dan memulai operasional layanan.
Langkah itu menjadi awal dari perjalanan yang tidak hanya berdampak pada dirinya, tetapi juga bagi lingkungan sekitar. Dari usaha tersebut, ia mendapatkan tambahan penghasilan sekaligus menjadi bagian dari solusi akses keuangan masyarakat.
“Untuk saya sendiri ada tambahan pendapatan, meskipun sedikit-sedikit,” katanya.
Di sisi lain, kehadiran BRILink yang ia kelola membantu masyarakat menyeimbangkan penggunaan uang tunai dan digital. Transaksi yang sebelumnya harus dilakukan di bank kini bisa diselesaikan lebih cepat dan dekat.
“Untuk masyarakat sangat terbantu, karena transaksi jadi lebih cepat tanpa harus antre di bank,” ujar Iman.
Namun, di balik kemudahan itu, ia juga menyaksikan realitas yang tidak selalu terlihat. Tidak sedikit warga yang masih kesulitan memahami sistem digital, bahkan dengan saldo terbatas yang mereka miliki.
“Banyak masyarakat kecil yang belum paham aplikasi, ada yang keblokir, bahkan ada yang sampai tertipu,” katanya.
Ketelitian Kunci Utama
Pengalaman tersebut membuat peran agen BRILink tidak sekadar sebagai penyedia layanan, tetapi juga sebagai pendamping yang membantu masyarakat memahami sistem keuangan yang terus berubah.
Dalam praktiknya, ketelitian menjadi kunci utama agar transaksi berjalan aman.
“Kita harus teliti, salah satu nomor rekening saja bisa berbahaya,” ujar Iman.
Selain faktor manusia, tantangan lain datang dari sisi teknis yang bergantung pada jaringan internet dan sistem perbankan.
Gangguan kecil dapat berdampak langsung pada kepercayaan masyarakat terhadap layanan yang diberikan.
Meski demikian, Iman tetap melihat BRILink sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat. Baginya, layanan ini menjadi alternatif yang lebih efisien dibandingkan harus mengakses bank konvensional.
“Dengan BRILink, masyarakat tidak perlu antre lama, transaksi bisa langsung selesai,” katanya.
Keberadaan agen BRILink di Cibatu memperlihatkan bahwa akses keuangan tidak hanya ditentukan oleh teknologi.
Ia juga ditopang kehadiran layanan yang dekat, mudah dijangkau, dan mampu menjembatani kesenjangan pemahaman di tengah masyarakat.E2


