JAKARTA, Bisnistoday- Di tengah melemahnya mayoritas indeks saham di bursa Asia karena minimnya sentimen positif, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru ditutup menguat.
IHSG pada perdagangan Rabu (29/12) ditutup menguat titpi 2,33 poin ke posisi 6.600,68. Sementara indeks LQ45 turun 0,86 poin ke posisi 936,22.
Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya, Rabu (29/12) menyebutkan, pelaku pasar tampaknya cemas di tengah kekhawatiran atas meningkatnya kasus Omicron secara global. Hal itu seiring dengan pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebutkan risiko dari varian Omicron masih sangat tinggi.
Terlebih adanya kenaikan kasus di negara yang melaporkan kasus varian Omicron, baik kasus impor atau transmisi lokal. Kasus varian tersebut telah memunculkan gelombang baru di mana Omicron mendorong lonjakan kasus di Eropa.
Inggris mencatat rekor terbaru dengan hampir 130.000 kasus sehari sementara Portugal sebanyak 18.000 kasus. Hal tersebut tentunya memberikan indikasi bahwa risiko varian Omicron sangat tinggi.
Dari dalam negeri, per 26 Desember 2021 penerimaan pajak telah tumbuh 100,19 persen atau menjadi Rp1.231,87 triliun dari target APBN sebesar Rp1.229,6 triliun.
Kontribusi terbesar berasal dari penerimaan Pajak Penghasilan (PPh), yang mencermikan akselarasi proses pemulihan aktivitas masyarakat dalam menopang aktivitas ekonomi telah berjalan lebih baik dan tentunya akan menopang APBN 2021.
Dibuka menguat, tak sampai satu jam IHSG bergerak melemah dan banyak menghabiskan waktu di zona merah hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG bergerak variatif namun berhasil mendarat di teritori positif pada penutupan bursa saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor terkoreksi dimana sektor properti turun paling dalam yaitu minus 0,41 persen, diikuti sektor transportasi dan sektor keuangan masing-masing minus 0,4 persen dan minus 0,22 persen.
Sedangkan lima sektor meningkat dimana sektor teknologi naik paling tinggi yaitu 1,56 persen, diikuti sektor barang konsumen dan sektor kesehatan masing-masing 1,33 persen dan 0,41 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing di seluruh pasar yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing atau “net foreign sell” di seluruh pasar sebesar Rp71,47 miliar. Sedangkan di pasar reguler juga tercatat aksi jual asing dengan jumlah jual bersih Rp110,39 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.235.446 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 34,83 miliar lembar saham senilai Rp9,84 triliun. Sebanyak 222 saham naik, 306 saham menurun, dan 146 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 162,28 poin atau 0,56 persen ke 28.906,88, indeks Hang Seng turun 194,02 poin atau 0,83 persen ke 23.086,54, dan indeks Straits Times meningkat 9,61 atau 0,31 persen ke 3.138,02.
Rupiah Melemah
Sementara nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup melemah 42 poin atau 0,3 persen ke posisi Rp14.256 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.214 per dolar AS.
“Sentimen dari eksternal, pasar sekarang cenderung mix dan tanpa arah yang jelas menjelang akhir tahun,” kata analis DC Futures, Lukman Leong seperti dilansir Antara. Menurut Lukman, fokus investor mulai terpecah antara merebaknya Covid-19 atau Santa Rally dan mulai kembali fokus pada kenaikan suku bunga The Fed yang semakin dekat.
“Volume perdagangan semua counter juga cenderung tipis dan bisa menciptakan volatilitas,” ujar Lukman.
Kendati demikian, lanjut Lukman, hal itu telah diantispasi oleh Bank Indonesia yang terus menjaga volatilitas rupiah agar tidak melemah maupun menguat signifikan.
“Secara fundamental, rupiah masih bagus di mana salah satunya didukung oleh ekspor komoditas energi. Namun USD juga akan semakin menguat dengan semakin mendekati kenaikan suku bunga oleh The Fed,” kata Lukman./








































