JAKARTA, Bisnistoday – Sebuah pergeseran besar sedang terjadi di pasar kripto terbesar ketiga di dunia, di mana empat institusi strategis nasional mendorong adopsi aset dunia nyata ke dalam teknologi blockchain. Melalui program Tokenize Indonesia, BRI, Pegadaian, Pos Digi, dan MDI Ventures memimpin langkah monumental untuk menjembatani keuangan tradisional dengan ekonomi digital masa depan.
Tokenize Indonesia, yang digagas oleh BRI Ventures, Coinvestasi, dan Saison Capital, berfungsi sebagai platform eksperimental terstruktur untuk mengembangkan kasus penggunaan blockchain yang konkret. Program ini dirancang untuk menghasilkan solusi yang siap diimplementasikan, bukan sekadar mengikuti tren spekulatif di pasar kripto.
“Tujuan kami adalah mendorong kolaborasi yang bermakna antara institusi keuangan besar dengan mitra teknologi yang inovatif,” ujar Markus Liman Rahardja, Chief Investment Officer, BRI Ventures, melalui siaran pers, Jumat (12/9/2025). Ia menambahkan bahwa sinergi ini bertujuan mempercepat inklusi keuangan dan adopsi aset digital secara berkelanjutan di Indonesia.
Dengan total kapitalisasi pasar gabungan lebih dari US$35 miliar, keterlibatan para raksasa ini menandakan keseriusan pergeseran menuju ekonomi digital yang terdesentralisasi. Langkah strategis yang akan dipamerkan di Coinfest Asia pada Agustus 2025 ini juga dipandang sebagai gerbang utama menuju regulatory sandbox Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Proyeksi pasar tokenisasi aset dunia nyata secara global diperkirakan mencapai US16triliunpadatahun2030,denganpotensidiIndonesiasendiridiprediksimenembusUS88 miliar. Peluang ini didorong oleh populasi besar dan permintaan yang terus meningkat terhadap infrastruktur keuangan digital yang tepercaya untuk layanan seperti pinjaman mikro hingga remitansi.
Untuk merealisasikan visi ambisius ini, Tokenize Indonesia menggandeng penyedia infrastruktur blockchain terkemuka di dunia. Platform seperti IOTA, Stellar, Ripple, dan Fireblocks akan menyediakan teknologi fundamental untuk memastikan eksperimen ini berjalan aman dan terukur.
Momentum program ini sangat tepat waktu, seiring dengan transisi pengawasan aset digital dari Bappebti ke OJK pada Januari 2025. Perubahan regulasi ini membuka ruang bagi inovasi terawasi di bawah kerangka sandbox, menempatkan para peserta sebagai pionir dalam lanskap baru.
Setelah bertahun-tahun didominasi oleh pertumbuhan ritel yang masif namun volatil, adopsi oleh institusi menjadi jangkar stabilitas berikutnya. Integrasi blockchain di sektor perbankan, logistik, dan telekomunikasi tidak hanya menciptakan efisiensi, tetapi juga legitimasi yang akan menopang ekonomi digital Indonesia jangka panjang.




