JAKARTA, Bisnistoday – Ketidakpastian ekonomi global kembali meningkat. Kombinasi ketegangan geopolitik, konflik kawasan, serta potensi perang dagang baru membuat pasar keuangan dunia berada dalam tekanan. Investor pun mulai mengalihkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar Amerika Serikat.
Analis Senior dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai kondisi global saat ini semakin rapuh setelah munculnya babak baru ketegangan dagang yang dipicu oleh langkah Amerika Serikat membuka investigasi perdagangan terhadap sejumlah mitra dagang utamanya.
Investigasi tersebut dilakukan melalui mekanisme Section 301 yang menyasar sejumlah ekonomi besar dunia seperti Uni Eropa, Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan. Kebijakan ini dipandang sebagai langkah awal untuk membuka peluang penerapan tarif baru sebagai pengganti pungutan perdagangan yang sebelumnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS.
Menurut Rully, langkah tersebut berpotensi memperparah fragmentasi rantai perdagangan global. Negara-negara yang terdampak kemungkinan akan melakukan retaliasi atau pembalasan tarif, sehingga memperbesar ketidakpastian dalam perdagangan internasional.
“Risiko geopolitik dan perang dagang yang meningkat membuat investor global cenderung mencari perlindungan pada aset yang lebih aman,” ujar Rully.
Harga Minyak Mendekati USD100
Di saat yang sama, menurut Rully, konflik di kawasan Timur Tengah turut menambah tekanan pada pasar global. Ketegangan geopolitik di wilayah tersebut telah mendorong harga minyak dunia mendekati level USD100 per barel.
Ia menambahkan, lonjakan harga energi ini memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global. Ketika harga energi meningkat, biaya produksi dan distribusi barang juga ikut naik, yang pada akhirnya dapat mendorong inflasi di berbagai negara.
Kondisi tersebut memperkuat narasi kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama atau dikenal dengan istilah higher for longer. Bank sentral, terutama di negara maju, kemungkinan akan menahan suku bunga pada level tinggi guna menekan inflasi.
Tekanan bagi Pasar Negara Berkembang
Rully Arya Wisnubroto mengutarakan, situasi ini memberikan dampak langsung bagi pasar negara berkembang (emerging markets). Ketika dolar AS menguat dan investor global mencari aset aman, aliran modal dari negara berkembang cenderung keluar menuju pasar yang dianggap lebih stabil.
Akibatnya, pasar saham dan obligasi di negara berkembang menghadapi tekanan jual yang lebih besar. Mata uang negara berkembang juga berpotensi melemah karena meningkatnya permintaan terhadap dolar AS.
Bagi Indonesia dan negara berkembang lainnya, dinamika global tersebut menjadi tantangan tersendiri. Stabilitas ekonomi domestik, ketahanan fiskal, serta kebijakan moneter yang tepat menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor di tengah gejolak global.
Di tengah kondisi ini, pelaku pasar diimbau tetap mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi global. Sebab, arah kebijakan perdagangan serta dinamika konflik kawasan akan menjadi faktor penentu bagi pergerakan pasar keuangan dunia dalam beberapa waktu ke depan./



