www.bisnistoday.co.id
Senin , 27 Juli 2026
Home BURSA & KORPORASI Bursa Geopolitik Memanas, Pasar Keuangan Dibayangi Sentimen Risk-Off
Bursa

Geopolitik Memanas, Pasar Keuangan Dibayangi Sentimen Risk-Off

GEDUNG BEI
Papan Pemantau Digital Pasar Saham di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, belum lama ini.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Pasar keuangan Indonesia diperkirakan menghadapi tekanan di awal pekan ini seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Serangan terkoordinasi antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran global dan mendorong pelaku pasar mengalihkan dana ke aset safe haven.

Rully Arya Wisnubroto,Analis Senior PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia di Jakarta, Senin (2/3), mengatakan bahwa pasar saham domestik berpotensi dibayangi sentimen risk-off. “Kami memperkirakan awal pekan ini pasar saham akan dibayangi sentimen risk off menyusul memburuknya situasi geopolitik di Timur Tengah pasca serangan terkoordinasi AS–Israel terhadap Iran. Tekanan jual berpotensi mendorong koreksi dan memicu arus keluar asing dari pasar saham dan SBN Indonesia, disertai pelemahan Rupiah,” ujarnya.

Menurutnya, dalam kondisi seperti ini, respons kebijakan moneter menjadi krusial. Bank Indonesia (BI) dinilai berpotensi mengintensifkan intervensi di pasar valuta asing, baik melalui spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta melakukan stabilisasi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) guna meredam volatilitas berlebihan pada nilai tukar dan imbal hasil obligasi.

Lonjakan Harga Minyak Mengintai

Rully menjelaskan, bahwa eskalasi konflik antara Washington dan Teheran juga meningkatkan risiko lonjakan harga minyak dunia. Ketegangan di kawasan produsen energi utama tersebut berpotensi mengganggu rantai pasok dan memperketat suplai global.

Kenaikan harga minyak dapat memperburuk imported inflation di Indonesia, terutama pada komponen energi dan transportasi. Di sisi lain, tekanan terhadap subsidi energi berpotensi meningkat apabila pemerintah mempertahankan harga domestik di tengah lonjakan harga global.

“Bagi Indonesia, kanal utama yang perlu diwaspadai adalah imported inflation dan tekanan subsidi akibat kenaikan harga energi, potensi pelebaran defisit transaksi berjalan, serta arus keluar portofolio yang menekan nilai tukar,” jelas analis tersebut.

Rupiah dan Arus Modal Asing Jadi Sorotan

Di tengah situasi global yang tidak menentu, Rully Arya Wisnubroto menambahkan,  investor cenderung melakukan rebalancing portofolio dengan mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan emas. Fenomena ini dapat memicu capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat jika arus keluar asing terjadi secara signifikan, terutama dari pasar saham dan obligasi pemerintah. Pelemahan nilai tukar yang berlarut dapat berdampak pada stabilitas harga dan kepercayaan pasar.

Pelaku pasar kini menanti langkah konkret otoritas moneter dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Kombinasi intervensi pasar, pengelolaan likuiditas, serta komunikasi kebijakan yang terukur dinilai penting untuk menahan gejolak agar tidak berkembang menjadi tekanan sistemik.

Dengan latar belakang ketidakpastian global yang masih tinggi, investor domestik diimbau untuk mencermati perkembangan geopolitik serta dinamika harga komoditas, khususnya minyak, yang berpotensi menjadi katalis utama pergerakan pasar dalam jangka pendek./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Didi Max
Bursa

Perdagangan Berjangka : Didimax Broker Terbaik Menjadi Pilihan Banyak Trader

JAKARTA, Bisnistoday - Dalam dunia perdagangan berjangka, memilih broker terbaik Indonesia merupakan...

GEDUNG BEI
Bursa

Penguatan Pasar Sangat Dipengaruhi Sentimen Isu Makro Ekonomi Global pada Semester II 2026

JAKARTA, Bisnistoday – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai setelah fase rebound,...

Rully Arya Wisnubroto
Bursa

Mirae Asset Sekuritas: Investor Tetap Perlu Cermati Tantangan Domestik

JAKARTA, Bisnistoday - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan global...

Bursa

Intercontinental Exchange dan OKX Bentuk Joint Venture, Jembatani Pasar Aset Tradisional dan Digital

JAKARTA, Bisnistoday - Intercontinental Exchange (NYSE: ICE) dan OKX mengumumkan pembentukan joint...