JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis (19/8) ditutup terkoreksi 125,83 poin ke posisi 5.992,32. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 19,18 poin ke posisi 850,74.
“Pergerakan pasar saham Asia bergerak melemah, merespons negatif di tengah kenaikan dolar AS setelah pertemuan The Fed tadi malam,” tulis Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Kamis (19/8).
Pendorong utama untuk pasar minggu ini adalah data aktivitas ekonomi yang lebih lemah di China yang telah mendorong banyak ekonom untuk menurunkan perkiraan, situasi di Afghanistan, dan juga risalah Federal Reserve (Fed).
Dibuka melemah, IHSG terus merosot dan tak mampu beranjak dari zona merah baik pada sesi pertama maupun pada sesi kedua perdagangan saham hingga akhirnya ditutup di teritori negatif.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh sektor terkoreksi dengan sektor keuangan turun paling dalam yaitu 2,45 persen, diikuti sektor energi dan sektor kesehatan masing-masing turun 2,42 persen dan 2,27 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy sebesar Rp310,95 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.547.168 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 24,78 miliar lembar saham senilai Rp14,11 triliun. Sebanyak 120 saham naik, 407 saham menurun, dan 120 tidak bergerak nilainya.
Sementara itu, bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei melemah 304,74 poin atau 1,1 persen ke 27.281,17, Indeks Hang Seng turun 550,68 poin atau 2,13 persen ke 25.316,33, dan Indeks Straits Times terkoreksi 42,23 poin atau 1,35 persen ke 3.089 21.
Rupiah Melemah
Sementara itu, kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup melemah 30 poin ke posisi Rp14.403 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.373 per dolar AS. Pelemahan dipicu kemungkinan tapering yang lebih cepat oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (Fed).
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, dolar menguat seiring pelaku pasar yang mengantisipasi pengurangan stimulus oleh The Fed akan dimulai tahun ini.
“Dalam risalah yang dirilis semalam, pejabat The Fed melihat potensi untuk mengurangi stimulus pembelian obligasi tahun ini jika ekonomi terus membaik seperti yang diharapkan,” ujar Ibrahim.
Fokus pasar sekarang tertuju ke Simposium Jackson Hole yang berlangsung 26-28 Agustus pekan depan di mana para pedagang akan mengamati dengan cermat pidato utama Ketua The Fed Jerome Powell untuk setiap petunjuk tentang waktu pengumuman pengurangan pembelian obligasi.
Dari domestik, Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di level 3,5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Agustus 2021.
Selain itu, suku bunga deposit facility juga tetap di level 2,75 persen, beserta suku bunga lending facility di 4,25 persen.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan keputusan tersebut sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan sistem keuangan, di tengah perkiraan inflasi yang rendah dan upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp14.410 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.400 per dolar AS hingga Rp14.423 per dolar AS.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis melemah ke posisi Rp14.414 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp14.384 per dolar AS./

