www.bisnistoday.co.id
Kamis , 25 Juni 2026
Home HEADLINE NEWS INSTRAN : Masyarakat Jabotabek Masih Terbebani Mahalnya Ongkos Transportasi
HEADLINE NEWS

INSTRAN : Masyarakat Jabotabek Masih Terbebani Mahalnya Ongkos Transportasi

Diskusi Intrans
DISKUSI INSTAN bersama KPBB, sebagai Catatan Transportasi Awal Tahun 2026, bertema “Menjaga keberlanjutan Layanan Angkutan Umum di Tengah Efisiensi Anggaran” di Jakarta, Kamis (8/1)./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Pengamat transportasi yang tergabung dalam INSTRAN (Inisiatif Transportasi Strategi) menilai, masyarakat sekitar Jabotabek menuju ke pusat aktifitas Kota Jakarta masih terbebani ongkos transportasi yang mahal. Beban transportasi masyarakat masih belum ideal, karena belum menjadikan Kota Jakarta sebagai pusat aktifitas kehidupan warga penglaju sekitarnya.

Hal in terungkap dalam diskusi INSTRAN (Inisiatif Transportasi Strategi) bersama Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB),  sebagai Catatan Transportasi Awal Tahun 2026, bertema “Menjaga keberlanjutan Layanan Angkutan Umum di Tengah Efisiensi Anggaran” di Jakarta, Kamis (8/1).

Hadir dalam kegiatan ini, Prof Bambang Susantono, Pakar Transportasi, Mantan Wamenhub dan Kepala OIKN, Staff Khusus Gubernur DKI Jakarta, Nirwono Yoga, Pendiri Koalisi Pejalan Kaki/KPBB, Alfred Sitorus, serta Ketua MTI DKI Jakarta, Yusa Cahya Permana.

Bambang Susantono, Pakar Transportasi mengatakan, bahwa beban angkutan umum bagi setiap individu relative masih tinggi, atau sekitar 12-20% dari pengeluaran, dan bahkan ada yang mengakui sekitar 30% dari pengeluaranya. “Idealnya, masyarakat apabila bertransportasi tidak lebih mengeluarkan 10% dari pengeluaranya. Apabila cost transportasi ditekan, maka alokasi digunakan ke layanan lainnya.”

Hal kedua, lanjut Bambang, pemerintah bersama stakeholder semestinya memiliki sistem transportasi yang handal ketika datang bencana. Kota besar tidak luput dari area bencana secara geografis, ring of fire, memerlukan transportasi yang handal ketika terjadi bencana, seperti transporasi darat, sungai, udara atau drone dan lainnya.”

Selanjutnya, kata Bambang, semua harus memikirkan ancaman polutan udara dari sistem transportasi. Kualitas udara perkotaan yang buruk khususnya perkotaan menstimulan munculnya penyakit ISPA, bahkan berkontribusi stunting.” Ini masih kendala, seperti diketahui kualitas udara Jakarta terkadang masih diatas ambang batas atau merah.”

Menurut Bambang, bukannya pemerintah tidak bertindak, hanya saja proses koordinasinya berbagai lembaga terkadang masih menyulitkan. Seperti keterkaitan, berapa kemenko, dan kementerian. “Hasil penanganan tidak terlihat significant, dan agar segera bisa tertangani maka harus tingkatkan koordinasi lintas kementerian,” urainya.

Bagi Bambang, selayaknya pergerakan orang atau masyarakat menjadi human right atau hak setiap warga. Pergerakan dengan dilandasi keselamatan dan keamanan (safety, keterjangkauan (affodibility), kehandalan (reliability), maupun kenyamanan (level servis) bertransportasi.”Kenyamanan masih menjadi bagian terakhir dari penyediaan transportasi.”

Ini seperti terjadi di Tokyo pada waktu puncak aktifitas(peak hour) pintu kereta sulit tertutup sendiri, karena kepadatan pengguna transportasi kereta. “Artinya bahwa pergerakan manusia merupakan hak warga (human right)”

Sementara, pergerakan masyarakat melalui transportasi selayaknya juga tidak hanya mengedepankan faktor untung rugi, tetapi lebih lebih bagaimana transportasi bisa menstimulus pertumbuhan ekonomi wilayah. “Tidak hanya keuntungan saja, tapi bagaimana menggerakan ekonomi.”

Kota Jakarta Belum Jadi Pusat Aktifitas Warga

Staff Khusus, Gubernur DKI Jakarta, Nirwono Yoga menguraikan,  Kota Jakarta sudah berkembang secara luas hingga Karawang, Sukabumi maupun Serang. Masyarakat mengandalkan angkutan kereta, angkutan umum lainnya menuju Jakarta hingga terjadi kemacetan. “Seharusnya, seperti yang dilakukan Kota di Cina, bahwa warga harus difasilitasi tinggal di pusat kota tidak penglaju. Ini agar transportasi efisien dan Kota menjadi pusat pergerakan ekonomi.“

Mengenai transportasi Jabotabek, Nirwono meminta partisipasi pemerntah kota untuk turut menyediakan prasarana seperti halte trans Jakarta untuk rute Lebak Bulus-Sawangan. Ia mendorong Pemkot untuk tidak mengandalkan pendanaan dari APBD, tetapi melibatkan swasta. “Pemda harus terbiasa, pembangunan tak mengandalkan APBD,” tuturnya.

Menurut Nirwono Yoga, bahwa dari berbagai studi banding dengan ibukota negara lainnya, seperti Rio De Janero, Paris, Brazil dan lainnya, bahwa transportasi umum terintegrasi menjadi bagian penting kota. “Keberhasilan kota itu, didukung dengan pejalan kaki, trotoar yang bagus, maupun pesepeda.”//

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

GEDUNG BEI
HEADLINE NEWS

IHSG Anjlok, Sentimen MSCI Downgrade Pasar Saham Masih Kuat

JAKARTA, Bisnistoday – Pengamat saham memperkirakan pasar saham di Indonesia masih tetap...

GT Banyudono
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Kementerian PU Pastikan Sepuluh Ruas Tol Baru Beroperasi Fungsional Jelang Nataru

JAKARTA, Bisnistoday– Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menargetkan sedikitnya 10 ruas jalan tol...

Pelaku Usaha
HEADLINE NEWS

“Business Networking” Jembatani Pelaku Usaha dengan Negara Mitra

JAKARTA, Bisnistoday – Kementerian Perdagangan menggelar jejaring bisnis (business networking) yang mempertemukan...

Menaker
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Menaker Yassierli : Pekerja Mesti Menyikapi Tantangan Dunia Kerja Baru

BANDUNG, Bisnistoday - Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, transformasi digital, ekonomi...