JAKARTA, Bisnistoday- Melonjaknya kasus Covid-19 masih menjadi ‘momok’ bagi para pelaku pasar saham. Pada perdagangan awal pekan, Senin (24/5) indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 9,45 poin ke posisi 5.763,63, sementara indeks LQ-45 naik tipis 0,28 poin ke posisi 858,61.
“Investor mengambil sikap hati-hati di tengah lonjakan jumlah kasus penularan virus Covid-19 di sejumlah negara Asia, serta potensi terjadinya tekanan inflasi di Amerika Serikat,” kata Analis Phillip Sekuritas Indonesia ,Anugerah Zamzami Nasr di Jakarta, Senin (24/5).
Anugerah menambahkan kenaikan harga saham di sektor perbankan dan teknologi berhasil dibayangi oleh penurunan harga saham di sektor material, termasuk pertambangan, setelah Pemerintah China berjanji memberi hukuman berat bagi spekulator dan penimbun bahan baku mentah serta penyebar berita bohong mengenai pasar komoditas.
“Lalu, kasus Covid masih jadi momok. Minggu lalu lonjakan kasus penularan Covid-19 telah memaksa Malaysia kembali berada dalam kondisi lockdown hingga tanggal 7 Juni dan hari ini mendorong Thailand untuk memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2021,” ujar Anugerah.
Dibuka menguat, IHSG sebenarnya lebih banyak bergerak di zona hijau namun melemah pada sesi akhir perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, delapan sektor terkoreksi dengan sektor barang baku paling dalam yaitu minus 2,62 persen, diikuti sektor transportasi & logistik dan sektor properti & real estat masing-masing minus 2,38 persen dan minus 0,82 persen.
Sedangkan tiga sektor meningkat dengan sektor teknologi naik paling tinggi yaitu 1,1 persen, diikuti sektor keuangan dan sektor energi masing-masing 0,47 persen dan 0,1 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy sebesar Rp362,76 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.100.431 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 17,84 miliar saham senilai Rp9,04 triliun. Sebanyak 191 saham naik, 320 saham menurun, dan 138 saham tidak bergerak nilainya.
Rupiah Stagnan
Sementara itu, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan ditutup stagnan atau sama dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.355 per dolar AS.
Analis Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Nikolas Prasetia mengatakan rupiah awal pekan ini sebenarnya ada sedikit penguatan karena dolar AS mengalami pelemahan.
“Pelemahan dolar AS ini mengindikasikan bahwa pengetatan pada kebijakan moneter AS belum akan terjadi dalam waktu dekat,” ujar Nikolas.
Sementara dari dalam negeri, pergumulan rupiah juga masih terpaku pada kasus Covid-19, dengan kasus harian masih terlihat datar dibandingkan dengan negara tetangga yang mulai menunjukkan lonjakan tajam.
“Isu ini perlu diwaspadai karena bisa saja mendorong kekhawatiran bahwa kasus di Indonesia bisa melonjak tajam. Sementara vaksin gotong royong mulai berjalan dan menunggu giliran untuk program vaksinasinya,” kata Nikolas./




