www.bisnistoday.co.id
Rabu , 1 Juli 2026
Home EDITOR'S VIEW Kisruh Utang Anies, Adakah Pamrih dan KKN?
EDITOR'S VIEW

Kisruh Utang Anies, Adakah Pamrih dan KKN?

Utang Pemerintah
TERBEBANI Utang Masa Lalu.
Social Media

DARI KETERANGAN  mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yaitu,  “Hutang Lunas Karena Menang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2017 di DKI Jakarta.”  Untuk mengurai masalah ini, penting juga merujuk pada surat hutang Anies Baswedan yang beredar di Media Sosial (Medsos). Jumlah hutang Anies yang katanya diketahui senilai Rp 92 miliar.

Jumlah hutang dengan nilai Rp 92 miliar bukan jumlah yang kecil. Sepertinya sangat tak masuk akal apabila ada orang yang membuat klasul perjanjian seperti ini tampa ada pamrih.

Oleh karena itu, maka patut diduga kuat ada pamrih atau ada maksud dan tujuan tertentu dari pihak yang meminjamkan hutang Pilkada kepada Anies Baswedan dengan syarat “Hutang Lunas Bila Menang Pilkada.”

Kemudian, pertanyaanya adalah, ada duggan pamrih apa? Atau apa maksud dan tujuan tertentu dari meminjamkan hutang Pilkada itu?

Dari pertanyaan tersebut diatas, maka boleh jadi akan muncul jawaban pamrih negatif dimasyarakat. Jawaban itu seperti, duggan ada maksud yang tersembunyi dalam memenuhi keinginan untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Duggaan keuntungan pribadi itu bisa didapat dari dugaan memanfaatkan jabatan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sehingga dugaan keuntungan pribadi ini diduga dapat dinikmati baik oleh pemberi pinjaman atau  pun bagi penerina pimjaman.

Lalu akan juga muncul pertanyaan lain, bagaimana keuntungan pribadi tersebut bisa terwujud?

Untuk pertanyaan tersebut, bisa saja muncul jawaban negatif lain di masyarakat. Jawaban itu seperti, pemberi pinjaman hutang Pilkada didugga bisa bebas mendapat berbagai keistimewaan (Privilege).

Duggaan privilege itu bisa berupa akses atau keuntungan yang tidak diterima atau dimiliki oleh orang lain, seperti dugaan bisa betemu kapan saja dan dugaan mendapatkan berbagai proyek-proyek atau pekerjaan dan lainnya di Pemprov DKI Jakarta

Menanti Peran KPK

Untuk bisa membuktikan dugaan KKN tersebut, maka sebaiknya Komisi pemberantasan Korupsi (KPK) juga dapat merespon dan mendalami tentang pengakuan hutang Pilkada Anies Baswedan.

Lembaga antirasuah ini bisa menganalisa berbagai persoalan di DKI Jakarta. Hal ini penting karena boleh jadi ada kaitannya dengan klausul hutang Anies lunas karena menang Pilkada.

Atas hal tersebut, maka menjadi penting bagi KPK untuk juga dapat segera bersikap atas masalah ini.  Slogan KPK, “BERANI JUJUR HEBAT,” bisa dijadikan dasar untuk memita penjelasan tentang masalah ini dari Eks Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan.

Dalam hal pengakuan hutang Pilkada Anies Baswedan masih dianggap belum lunas, atau baru dianggap lunas pada beberapa hari ini,  maka KPK bisa menyorot dari Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Tentang LHKPN Anies, dan berdasarkan data dari berbagai  sumber, diketahui total harta kekayaan Anies Baswedan pada 31 Desember 2021 yang laporannya disampaikan pada 31 Maret 2022 adalah  berkisar Rp. 18,56 miliar.

Dari jumlah tersebut diketahui  Anies hanya memiliki utang sebesar Rp 7,60 miliar, sehingga total kekayaan Anies menjadi senilai Rp10,95 miliar.

Jadi bila hutang pilkada Anies dianggap belum lunas atau dianggap baru lunas pada beberapa hari ini, maka mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dapat didugga tidak jujur dalam membuat LHKPN.

Artinya, bila hutang Anies Rp 92 miliar dianggap belum lunas atau baru dianggap lunas saat ini, maka laporan hutang Anies pada LHKPN adalah bukan Rp7,60 miliar melainkan lebih dari itu. (Angka laporan harta Anies Baswedan yang akurat dapat di lihat pada LHKPN di LHKPN-KPK).

Pada persoalan LHKPN Anies Baswedan tersebut dapat didugga ada persoalan “KREDIBILITAS” pemimpin jujur yang juga menjadi bagian dari perhatian KPK.

Pengakuan Terbuka

Jadi intinya, peryataan pengakuan hutang Pilkada Anies Baswedan ketika menjawab pertanyaan Merry Riana soal hutang Rp50 miliar yang tayang di channel Youtube Merry Riana, Jumat (10/2) adalah blunder. Terlebih, Anies Baswedan juga mengakui menandatangani surat pernyataan hutang.

Dengan demikian, peryataan pengakuan hutan Anies Baswedan tersebut selain memunculkan dugaan pidana pilkada dan dugaan pembohongan publik juga dapat merembet pada hal lain yaitu dugaan ada Pamrih dan KKN, khususnya dugaan korupsinya.

Sejatinya pengakuan hutang Pilkada 2017 Anies Baswedan adalah masalah besar. Tentang anggapan mindset baru juga keliru. Bila tidak diluruskan maka seolah-olah dapat dianggap wajar dan benar. Padahal malah sebaliknya, merupakan tindakan fatal.

Bila merujuk aturan Pilkada, masalah hutang Pilkada Anies Baswedan ini adalah kesalahan yang yang dapat berujung menjadi bumerang. Selain itu bisa menjadi preseden. Untuk itu, pemerintah sebaiknya dapat cepat merespon permasalahan ini.

Betapa pun kusutnya masalah hutang Pilkada Anies Baswedan tetap harus diurai. Alasannya karena Pilkada harus dijalankam seseuai peraturan Perundang-Undangan. Selain itu, tujuan diselenggarakannya Pilkada adalah untuk mencari pemimpin yang jujur dan cakap.

Untuk itu, agar permasalahan ini tidak menjadi preseden, maka sebaiknya pemerintah dapat segera merespon masalah ini. Menjadi aneh bin ajaib bila masalah besar ini tidak mendapat respon serius dari pemerintah.

Dalam hal ini adalah respon dari lembaga-lembaga nega terkait. Selain  respon dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Pusat, respon cepat juga dapat dilakukan oleh Komisi Pembratasan Korupsi atau KPK.

Jakarta, 22 Februari 2023

Oleh : Tim Redaksi & Sugiyanto

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Maulid Nabi
EDITOR'S VIEW

Tahun Baru Islam :  Tauladan Hijrah yang Relevan Ditengah Tantangan Zaman

MEMASUKI  1 Muharam 1448 atau tahun baru Islam atau dikenal dalam masyarakat...

Hewan Kurban
EDITOR'S VIEW

Ketulusan Nabi Ibrahim dan Relevansi Keikhlasan di Zaman Modern

KISAH pengorbanan Nabi Ibrahim AS menjadi salah satu pelajaran terbesar tentang ketulusan...

Kereta KRL
EDITOR'S VIEW

Saatnya Kemenhub Ambil Kendali Penuh : Keselamatan Jalur Kereta Tak Bisa Ditawar

PEMERINTAH khususnya Kementerian Perhubungan semestinya segera mengambil peran dominan terhadap pengelolaan jalur...

Bendungan Budong
EDITOR'S VIEW

Mundurnya Dirjen PU Berpolemik, Pakar Tekankan Transparansi dan Integritas Audit

JAKARTA, Bisnistoday – Pejabat Kementerian PU akhir-akhir ini menjadi sorotan masyarakat yakni...