www.bisnistoday.co.id
Minggu , 5 Juli 2026
Home OPINI Gagasan Mengintip Masa Depan Bauran Energi Indonesia
GagasanOPINI

Mengintip Masa Depan Bauran Energi Indonesia

GENJOT PRODUKSI : Salah satu Wilayah Kerja PT Pertamina Hulu Energi, sebagai Subholding Upstream Pertamina. Kini PHE fokus tingkatkan produksi.
Social Media
Perlunya kebijakan energi yang komprehensif dan adaptif untuk mengelola dinamika pasokan dan kebutuhan energi nasional yang semakin hari kian genting. Keterbatasan pasokan dan terus meningkatnya kebutuhan mendudukan energi jadi komoditi strategis dalam perekonomian nasional. 

Seperti diketahui bersama, proyeksi konsumsi minyak dan gas berdasarkan skenario Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) sampai dengan tahun 2050 memberikan gambaran bahwa hulu migas masih akan memiliki peran penting dalam roadmap energi dan perekonomian Indonesia. 

Didalam Outlook Energi Indonesia 2021 oleh BPPT (Outlook Energy BPPT) juga memberikan gambaran yang relatif sama, migas masih akan memiliki peran penting dalam roadmap energi Indonesia. 

Dalam ketiga skenario Outlook Energy BPPT, yaitu skenario Business As Usual (BAU), skenario Electric Vehicle (EV), dan skenario New Renewable Energy (NRE), ditemukan bahwa migas masih akan memiliki peran penting dalam bauran energi Indonesia bahkan sampai dengan tahun 2050 mendatang. 

Baca juga : Industri Butuh Pasokan Energi Berkesinambungan 

Berbagai catatan atau pandangan ReforMiner menyimpulkan sejumlah fakta bahwa peran penting hulu migas dalam roadmap energi Indonesia diantaranya dapat dilihat melalui proyeksi RUEN dan Outlook Energy BPPT yang menyebutkan bahwa sampai dengan tahun 2050 mendatang konsumsi migas Indonesia masih akan terus meningkat. 

“Disisi lain, diketahui bersama bahwa produksi migas terutama produksi minyak bumi Indonesia diproyeksikan akan menurun.” 

Didalam RUEN memproyeksikan konsumsi minyak Indonesia sampai dengan tahun 2050 akan terus meningkat. Tiga skenario Outlook Energy BPPT (BaU, EV, NRE) juga memproyeksikan bahwa volume konsumsi minyak bumi Indonesia sampai dengan 2050 akan terus meningkat. Konsumsi minyak tertinggi terjadi pada skenario BAU. Sementara konsumsi minyak pada skenario EV dan NRE relatif sama, lebih rendah dari skenario BAU 

“Meskipun kebijakan transisi energi diimplementasikan, RUEN dan tiga skenario Outlook Energy BPPT memproyeksikan defisit neraca minyak bumi Indonesia sampai dengan tahun 2050 akan terus meningkat.”

RUEN dan tiga skenario Outlook Energy BPPT memproyeksikan volume konsumsi gas Indonesia sampai dengan 2050 akan terus meningkat. Terdapat perbedaan dalam proyeksi produksi gas. RUEN memproyeksikan produksi gas Indonesia akan meningkat sampai dengan tahun 2040, selanjutnya menurun. 

Sementara tiga skenario Outlook Energy BPPT memproyeksikan produksi gas Indonesia akan terus menurun. Defisit neraca gas Indonesia pada tahun 2030-2050 baik berdasarkan skenario RUEN maupun tiga skenario Outlook Energy BPPT diproyeksikan akan terus meningkat. 

RUEN dan tiga skenario Outlook Energy BPPT memproyeksikan volume konsumsi LPG Indonesia sampai dengan tahun 2050 akan terus meningkat. Begitupun, RUEN memproyeksikan kemampuan produksi LPG Indonesia akan dalam kondisi stagnan. Sementara Outlook Energy BPPT memproyeksikan kemampuan produksi LPG Indonesia akan terus menurun. 

“RUEN dan tiga skenario Oulook Energy BPPT memproyeksikan defisit neraca LPG Indonesia tahun 2030-2050 akan terus meningkat.” 

Sejatinya, kondisi ini sedikit dapat terobati dengan upaya optimalisasi penemuan cadangan dan produksi migas nasional merupakan solusi terbaik untuk meminimalkan defisit neraca migas Indonesia. Akan tetapi upaya tersebut dihadapkan pada fakta bahwa sekitar 70% WK migas produksi telah mengalami penurunan produksi alamiah dan sekitar 50% WK migas produksi merupakan mature fields. 

“Pada umumnya pengembangan mature fields terkendala aspek keekonomian. Biaya produksi dan pemeliharaan mature fields terus meningkat sejalan dengan penurunan kemampuan produksinya.’ 

Munculnya kendala pada aspek keekonomian dalam pengembangan mature fields terjadi karena regulatory framework hulu migas yang ada saat ini tidak mengatur adanya bentuk Kontrak Kerja Sama Khusus untuk mature fields. Kontrak pengembangan mature fields cenderung diperlakukan sama dengan lapangan migas secara umum. 

“Akibatnya ketentuan fiskal dalam Kontrak Kerja Sama yang berlaku seringkali kemudian tidak (lagi) menarik secara ekonomi bagi pengembangan lapangan migas mature fields.” 

ReforMiner menilai terdapat sejumlah aspek yang perlu diatur dalam Kontrak Kerja Sama khusus untuk mature fields di Indonesia. 

Peran Penting CCS/CCUS 

Rencana pelaksanaan kegiatan Carbon Captutre Utilization and Storage (CCS/CCUS) pada kegiatan usaha hulu migas memiliki peran penting tidak hanya untuk pengurangan karbon, tetapi juga akan memberikan manfaat ekonomi yang besar untuk perekonomian nasional. 

Proyek CCS/CCUS untuk ketiga lapangan yaitu Gundih-Pertamina EP, Sukowati-Pertamina EP, dan Tangguh EGR-BP berpotensi memberikan manfaat ekonomi dengan rentang sekitar Rp 66,99 triliun – Rp 468,74 triliun. 

Sejumlah studi juga menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatan CCS/CCUS global akan memberikan manfaat ekonomi yang besar. Kegiatan CCS/CCUS diproyeksikan akan memberikan kontribusi dalam peningkatan PDB sekitar USD 30-100 miliar dan membuka lapangan kerja baru antara 4-12 juta orang di China pada tahun 2050, 

Demikian juga, memberikan kontribusi dalam peningkatan PDB sekitar USD 600 miliar dan membuka lapangan kerja baru sekitar 150 ribu orang di Uni Eropa pada tahun 2050, dan memberikan kontribusi dalam peningkatan PDB sekitar USD 2-4 miliar dan membuka lapangan kerja baru sekitar 15-30 ribu orang di United Kingdom pada tahun 2030 

Kebutuhan Devisa Impor Melambung

Apabila menggunakan acuan neraca migas RUEN, dalam kurun lima tahun ke depan atau pada tahun 2027 mendatang kebutuhan devisa impor migas Indonesia akan mencapai kisaran Rp 1.148 triliun. 

Sementara jika menggunakan acuan neraca migas pada tiga skenario Oulook Energy BPPT, kebutuhan devisa impor migas pada tahun 2027 mendatang diproyeksikan sekitar Rp 201,03 triliun – Rp 243,72 triliun. 

Dalam kurun sepuluh tahun ke depan atau tahun 2032, jika menggunakan acuan neraca migas RUEN, kebutuhan devisa impor migas Indonesia pada tahun tersebut mencapai kisaran Rp 1.554,33 triliun. Sementara jika menggunakan acuan tiga skenario Outlook Energy BPPT, kebutuhan devisa impor migas Indonesia pada tahun 2032 diproyeksikan sekitar Rp 685,92 triliun – Rp 757,47 triliun. 

Kebutuhan devisa impor migas berpotensi meningkat signifikan jika Indonesia tidak dapat lagi memproduksikan migas di dalam negeri. Jika menggunakan acuan skenario konsumsi migas RUEN, kebutuhan devisa migas pada 2027 dan 2032 mendatang masing-masing akan mencapai kisaran Rp 1.873,72 triliun dan Rp 2.330,44 triliun jika Indonesia tidak lagi dapat memproduksikan minyak dan gas. 

“Tiga skenario Outlook Energy BPPT juga memberikan kesimpulan yang sama bahwa kebutuhan devisa impor migas Indonesia akan meningkat signifikan jika Indonesia tidak lagi dapat memproduksikan minyak dan gas.” 

Jika Indonesia tidak lagi dapat memproduksikan migas, kebutuhan devisa migas pada tahun 2027 dan 2032 mendatang masing-masing diproyeksikan sekitar Rp 1.241,40 triliun – Rp 1.284,08 triliun dan Rp 1.464 triliun – Rp 1.535,54 triliun. 

Sementara, diketahui bersama kontribusi hulu migas terhadap perekonomian Indonesia tercatat sangat signifikan. Selama kurun sepuluh tahun terakhir (2012-2021), secara kumulatif hulu migas menyumbang sekitar Rp 2.035 triliun untuk APBN, mendatangkan investasi sekitar Rp 2.080 triliun, dan berkontribusi membentuk PDB Indonesia sekitar Rp 4.132 triliun. 

Peran penting hulu migas juga tercermin dari angka indeks pengganda nilai tambah ekonomi atau multiplier effect index yang meningkat. Peningkatan nilai pengganda menggambarkan bahwa daya dorong dan daya tarik hulu migas terhadap sektor-sektor ekonomi yang terkait semakin besar. /

Jakarta, Juli 2022

Oleh : Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Orasi Ilmiah
Gagasan

“Dramaturgi” Dibalik Skandal Riset “Bodong”

DUNIA akademik Indonesia baru saja dihantam badai yang memalukan di panggung internasional....

Kopdes Merah Putih
Gagasan

Jangan Dipersempit, Koperasi Desa Merah Putih Mesti Dipandang Lebih Holistik

RASANYA, perlu diselaraskan dalam pemikiran koperasia atas hadirnya program Koperasi Desa /Kelurahan...

Dream Job
Gagasan

Secercah Harapan Muncul, Semoga Badai Ekonomi Segera Berlalu

BELUM LAMA INI, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan perlunya disiplin fiskal. ...

KTT BRICS+
Gagasan

Ketika “The President’s Men” Mengalahkan Peraih Adhi Makayasa

JAKARTA, Bisnistoday - Pada penutupan Pendidikan Reguler (Dikreg) LXVI Tahun 2026 di...