Dalam suatu jamuan makan kecil sekadar membatalkan puasa di pelataran Masjid Nabawi, Madinah. Seorang anak muda, dengan iklas sebagai volunter dalam penyelenggaraan pembagian takjil di Masjid Nabawi. Anak muda sekitar umur belasan tahun berkulit hitam, negri itu menyapa dengan ramah kepada jemaah, menghantarkan jemaah ke tempat shaf yang kosong untuk menyambut adzan magrib dan berbuka puasa.Mereka cekatan, ramah, dan memposisikan dirinya sebagai pelayan yang bangga sebagai anak negeri…
Satu per satu jemaah, diantarkan ke karpet nuansa hijau yang ditengah-tengah antara shaf sholat itu dihamparkan plastik memanjang sebagai tempat menaruh takjil. Dengan senang hati, pemuda itu menyapa” haji-haji from Jakarta Indonesia? apa sedang marah- marah? Anak muda ini, menganggap apabila jemaah tidak mau pelayanan dia, dianggap tidak suka, atau marah. dan ketika jemaah mengangguk terus diantarkan ke tempat shaf yang lebih kosong.
Setelah jemaah duduk di karpet, mereka membagikan makanan takjil satu per satu. Sambil menunggu magrib tiba, jemaah melakukan baca Quran, dzikir, sholat masjid, atau amalan sholat lainnya. Makanan Takjil, kali ini berisikan kurma lima butir, roti tawar, Yougurt, air mineral botol. Bagi yang beruntung, dapat air zam zam, serta makanan biji bijian seperti kacang almont, mede dan sejenisnya.
Jemaah yang hadir sertiap magrib, mencapai ribuan dan datang dari beberapa penjuru dunia. Takjubnya, setiap maghrib jemaah memenuhi shaf masjid dari depan hingga belakang dan semua pelataran masjid dipadati jamaah. Tak terhitung, mungkin ribuan jemaah hadir, dan tak putus-putusmya memenuhi shaf sholat hingga ke pelataran masjid Nabawi.
Semua jemaah berlomba-lomba berbuat baik, dengan harapan imbalan pahala Allah SWT. Pendonor, shodagoh atau penderma, berbagi dengan iklas, dan pendistribusi dilakukan para pemuda-pemuda, secara sukarela. begitupun penerima takjil atau jemaah bersukacita menerimanya. Perputaran ekonomi dari takjil, per jemaah mungkin sekitar Rp50 ribuan dengan jemaah katakannlah 3 ribuan, sudah Rp 15 juta per hari, dan selama puasa atau sebulan bisa mencapai Rp450-500 jt yang dikeluarkan penghibah. Masyaallah..
Penghibah melakukan secara ikhlas dan senang hati semata untuk mendpatkan pahala. Penghibah bisa datang juga secara perseorangan atau kelompok, dengam ikhlas membawa roti tawar, seperti warga Sudan yang bangga membagikan rotinya ke jemaah. Dengan senyum ramah, pria negro itu, membagikan potongan roti tawar ke jemaah. “roti Sudan, Sudan food” katanya. Seperti diketahui Sudan juga bukan negara kaya, namun diantara mereka ada yang rela berjuang membawa roti, untuk jemaah. Masyaallah…Mereka senang apabila rotinya dimakan oleh jemaah..
Benar-benar, semua berlomba-lomba mencari pahala. tidak ada kata mahal atau murah, semua dilakukan dengan ikhlas, untuk semata mencari ridhonya, berbuat baik menabung untuk dinikmati di surga kelak..
Ketika adzan berkumandang, seluruh takjil sudah siap disantap. dan tidak berselang lama para pemuda dan petugas kebersihan membereskan sampah dari bekas makanan takjil dari seluruh jemaah. Seusai adzan magrib, jemaah bergegas kembali ke kediamannya masing masing, dan penduduk setempat untuk makan bersama keluarga masing-masing.
Kali ini, jemaah dari Indonesia rupanya dipenuhi para jemaah yang sudah berumur. Terlihat sedikit wajah muda yang mengikuti jemaah sholat magrib beberapa hari terakhir.Termasuk jemaah dari Indonesia, rata-rata sudah berumur diatas 55 tahun. Lalu dimana anak mudanya, apakah mereka belum menyadarinya.
Padahal sejarah penyebaran Islam sangat penting, tidak hanya menjalankan sholat dan berdoa, tetapi memahami perjuangan sejarah bagaimana tantangan menyampaikan ayat-ayat suci Allah SWT. Kebesaran Islam dimulai dari tapak tilas Masjid Nabawi.atau Madinah..Semoga menebalkan iman dan menambah takwa bersama. Amin YRA. Wasalam dari Madinah
Oleh : Jurnalis Senior, Tito Suharto







































