www.bisnistoday.co.id
Kamis , 9 Juli 2026
Home BURSA & KORPORASI Bursa Pasar Khawatirkan Kebijakan Moneter AS, Rupiah Melemah
Bursa

Pasar Khawatirkan Kebijakan Moneter AS, Rupiah Melemah

Rupiah pada perdagangan Rabu (12/06) ditutup melemah
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday- Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin (13/2) ditutup melemah 71 poin ke posisi Rp15.295 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya di Rp15.134 per dolar AS.

Pelemahan rupiah seiring dengan kekhawatiran pasar terhadap potensi kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Fed yang lebih ketat.

“Sejak rilis data Non Farm Payroll AS bulan Januari di minggu pertama bulan Februari lalu yang hasilnya lebih dari dua kali ekspektasi pasar, pelaku pasar kembali mewaspadai kalau-kalau kebijakan moneter AS akan kembali lebih ketat,” kata pengamat pasar uang, Ariston Tjendra seperti dikutif Antara.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Jumat (3/2/2023) bahwa data ketenagakerjaan nonpertanian (Non Farm Payroll) meningkat 517.000 pada Januari, jauh lebih baik dari yang diharapkan 187.000.

Ariston menuturkan membaiknya situasi ketenagakerjaan AS berpotensi meningkatkan konsumsi dan berujung pada kenaikan inflasi. Padahal inflasi AS masih jauh dari target dua persen. Inflasi tinggi tersebut yang berusaha diturunkan oleh The Fed dengan cara mengetatkan kebijakan moneternya.

Pelaku pasar akan mengonfirmasi ekspektasi tersebut dengan data inflasi konsumen dan penjualan ritel AS bulan Januari yang akan dirilis pada Selasa dan Rabu malam.

“Kebijakan moneter AS yang lebih ketat biasanya memicu penguatan dolar AS terhadap nilai tukar lainnya,” ujarnya.

Di sisi lain, menurut Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF), perekonomian global tahun ini diperkirakan tidak seburuk perkiraan tahun lalu. Ekonomi China yang mulai aktif kembali usai dilepasnya kebijakan pembatasan, mendukung ekspektasi tersebut.

Hal itu mendorong pelaku pasar masuk kembali ke aset-aset berisiko dan bisa menahan pelemahan harga yang terjadi di aset-aset berisiko saat ini, termasuk rupiah.

IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari 2,7 persen menjadi 2,9 persen pada tahun 2023 berkat pembukaan kembali perekonomian China.

Sementara dari dalam negeri, ekspektasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 yang di atas 5 persen juga membantu menahan pelemahan rupiah.

Rupiah pada pagi hari dibuka turun ke posisi Rp15.207 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp15.191 per dolar AS hingga Rp15.234 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin melemah ke posisi Rp15.216 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya pada Jumat (10/2) Rp15.140 per dolar AS./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Rully Arya Wisnubroto
Bursa

Mirae Asset Sekuritas: Investor Tetap Perlu Cermati Tantangan Domestik

JAKARTA, Bisnistoday - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan global...

Bursa

Intercontinental Exchange dan OKX Bentuk Joint Venture, Jembatani Pasar Aset Tradisional dan Digital

JAKARTA, Bisnistoday - Intercontinental Exchange (NYSE: ICE) dan OKX mengumumkan pembentukan joint...

Trading Saham
BursaHEADLINE NEWS

Investor Asing Mulai Berani Masuk Selektif ke Saham Perbankan

JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (17/6) kemarin...

Ilustrasi pergerakan saham (dok:Unsplash/jakub Żerdzicki)
Bursa

Dampak Perdamaian AS Iran: Harga Minyak Turun, Saham Naik

JAKARTA, Bisnistoday –Kesepakatan AS-Iran untuk mengakhiri perang berdampak pada melonjaknya harga saham...