JAKARTA, Bisnistoday- Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan, Senin (17/10) kembali melemah sebesar 61 poin ke posisi Rp15.488 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di Rp15.427 per dolar AS.
Pergerakan rupiah masih dipengaruhi sentimen global, yakni kekhawatiran akan terjadinya resesi yang diakibatkan oleh kenaikan suku bunga di banyak negara secara agresif tahun ini.
Selain itu, likuiditas dolar di banyak negara semakin mengetat sehingga mendorong tingginya permintaan terhadap dolar AS.
Dari domestik, surplus neraca perdagangan September pun tampaknya belum mampu menahan pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus 4,99 miliar dolar AS pada September 2022, dengan nilai ekspor 24,8 miliar dolar AS dan impor 19,81 miliar dolar AS.
Neraca perdagangan Indonesia sampai September 2022 membukukan surplus selama 29 kali berturut-turut sejak Mei 2020.
Dengan demikian neraca perdagangan RI pada Januari-September 2022 mengalami surplus sebesar 39,87 miliar dolar AS dengan surplus neraca perdagangan nonmigas sebesar 58,75 miliar dolar AS, dan defisit neraca perdagangan migas 18,89 miliar dolar AS.
Pada saat yang bersamaan impor juga menurun. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi global yang melambat mulai berdampak kepada kinerja ekspor dan impor Indonesia.
Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp15.468 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp15.461 per dolar AS hingga Rp15.500 per dolar AS.
Sementara itu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin melemah ke posisi Rp15.480 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp15.390 per dolar AS./









































