JAKARTA, Bisnistoday – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai memiliki daya ungkit besar dalam menggerakkan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Forum Komunikasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah Republik Indonesia (FK-UKM RI), Wahyu Raja Intan.
“Rantai pasok ke dapur MBG harus melibatkan para pelaku usaha kecil. Justru porsinya harus lebih banyak ke sektor UMKM, agar dampaknya nyata bagi perekonomian rakyat,” tegas Wahyu kepada media di Jakarta, Rabu (3/9).
Wahyu mengutarakan, rantai pasok untuk dapur MBG tidak boleh hanya dikuasai oleh pelaku usaha besar. Sebaliknya, pelaku UMKM harus mendapat porsi lebih besar agar manfaat program ini langsung dirasakan masyarakat.
Guna membuka peluang lapangan kerja dan memperkuat kemandirian masyarakat, Wahyu sepakat agar gagasan menjadikan dapur sekolah sebagai pusat pengelolaan MBG. Dengan dapur sekolah, pengawasan mutu makanan bisa dilakukan lebih ketat oleh pihak sekolah.
Selain itu, menu makanan dapat disesuaikan dengan kebutuhan gizi dan selera siswa. Dari sisi biaya, sistem ini juga lebih efisien karena memangkas rantai distribusi dan meminimalkan risiko kerusakan makanan.
“Keunggulan dapur sekolah adalah pengawasan yang lebih baik, menu bisa dikustomisasi, serta biaya distribusi lebih hemat. Ini solusi untuk memastikan program MBG berjalan efektif dan tepat sasaran,”jelasnya.
Perlu Perencanaan Matang
Meski demikian, Wahyu mengingatkan bahwa keberhasilan program MBG sangat bergantung pada perencanaan dan pengelolaan yang matang.“Implementasi MBG memerlukan strategi yang baik, mulai dari pengelolaan dapur, distribusi, hingga keterlibatan UMKM secara maksimal,” pungkas Ketua FK-UKM RI tersebut.
Dengan melibatkan dapur sekolah dan UMKM, program MBG bukan hanya meningkatkan kualitas gizi anak bangsa, tetapi juga memperkuat ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan./



