JAKARTA, Bisnistoday – Saham sektor perbankan besar dan ritel kian menarik perhatian investor di tengah membaiknya sentimen pasar domestik. Aliran dana asing tercatat deras masuk ke pasar modal Indonesia dalam sepekan terakhir, terutama ke saham-saham bank berkapitalisasi besar.
Analis Senior PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengungkapkan investor asing membukukan net inflow selama enam hari berturut-turut. “Nilainya sekitar Rp2,7 triliun kemarin, dengan akumulasi mencapai Rp7,3 triliun, terutama pada saham Bank Rakyat Indonesia dan Bank Central Asia,” ujarnya.
Sentimen positif juga tercermin dari penguatan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp16.785 per dolar AS dan penurunan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun ke level 6,44 persen. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya appetite investor terhadap aset berisiko domestik.
Rully menuturkan inflasi dalam beberapa bulan terakhir mulai meningkat, dipengaruhi efek low base dan faktor musiman Ramadan–Lebaran. Selain itu, percepatan belanja pemerintah turut menjadi katalis pendorong aktivitas ekonomi.
Dalam situasi tersebut, Mirae Asset merekomendasikan fokus pada saham perbankan besar yang menjadi tujuan aliran dana asing, serta emiten sektor konsumer dan ritel yang berpotensi menikmati kenaikan konsumsi selama periode hari besar keagamaan.
Tantangan Struktural Ekonomi
Sementara itu, Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa menyoroti sejumlah isu makro yang membayangi prospek jangka menengah.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi 2025 masih sangat ditopang belanja pemerintah, sementara pemulihan konsumsi rumah tangga menunjukkan pola berbentuk K, dengan kesenjangan pendapatan yang melebar. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat melambat menjadi 7,4 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan 11,3 persen pada periode pra-pandemi. Likuiditas pun semakin terkonsentrasi pada deposan besar.
Kondisi ini terjadi di tengah periode bonus demografi 2020–2030, saat rasio ketergantungan berada di level rendah dan PDB per kapita telah mencapai sekitar USD4.958. Secara teori, kondisi tersebut dapat mendorong konsumsi tambahan hingga sekitar dua persen poin. Namun tanpa reformasi pasar tenaga kerja dan penguatan intermediasi keuangan, Indonesia berisiko tidak mengoptimalkan momentum tersebut.
Pasar Tenaga Kerja Rapuh
Jessica menambahkan, tingkat pengangguran yang turun ke 4,8 persen belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan pasar tenaga kerja. Pertumbuhan upah melambat menjadi 1,9 persen secara tahunan pada 2025, jauh di bawah rata-rata pra-pandemi yang mencapai 9,2 persen.
Sepanjang 2019–2024, jumlah pekerja informal meningkat 15 persen hingga kini mencapai 59 persen dari total tenaga kerja. Upah pekerja informal turun sekitar lima persen, bahkan 54 persen pekerja formal menerima upah di bawah UMP. Kondisi ini menekan daya beli, sehingga pertumbuhan permintaan domestik hanya mencapai 4,82 persen secara tahunan, meskipun ditopang stimulus fiskal.
Inflasi headline tercatat 2,92 persen, lebih banyak didorong faktor penawaran, sementara inflasi inti turun ke 1,15 persen, mengindikasikan lemahnya permintaan dan adanya slack di pasar tenaga kerja.
Ekspansi Fiskal dan Harapan Pertumbuhan
Pemerintah kini mengedepankan ekspansi fiskal berbasis kesejahteraan melalui program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), dengan alokasi masing-masing Rp335 triliun dan Rp181 triliun. Belanja pemerintah pusat pun tumbuh 21 persen secara tahunan tahun ini.
Fokus belanja pada pendidikan, ketahanan pangan, dan perlindungan sosial diharapkan mampu menopang kelompok rentan dan menjaga daya beli. Namun, para analis menekankan pentingnya disiplin fiskal dengan menjaga defisit di bawah tiga persen terhadap PDB, memperkuat penerimaan negara, serta memastikan kualitas belanja dan tata kelola yang kredibel.
Dengan kombinasi sentimen global yang kondusif, aliran dana asing yang kembali masuk, serta momentum konsumsi domestik, saham perbankan dan ritel dinilai masih berpeluang melanjutkan penguatan. Meski demikian, tantangan struktural ekonomi tetap menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa diabaikan./




