JAKARTA, Bisnistoday- Surplus neraca transaksi berjalan pada 2021 sebesar 3,3 miliar dolar AS yang merupakan surplus kumulatif pertama sejak 2021 menjadi sentimen positif perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (18/2).
IHSG ditutup menguat 57,7 poin ke posisi 6.892,82. Sementara indeks LQ45 naik 6,56 poin ke posisi 979,96.
Tim Riset Indo Primier Sekuritas dalam kajiannya menyebutkan, kenaikan IHSG didukung oleh pengumuman Bank Indonesia terkait transaksi berjalan pada 2021 yang membukukan surplus sebesar 3,3 miliar dolar AS atau 0,3 persen dari PDB, setelah mencatat defisit pada 2020 sebesar 4,4 miliar dolar AS AS atau 0,4 persen dari PDB
Surplus tersebut terutama ditopang oleh pesatnya kinerja ekspor sejalan dengan meningkatnya permintaan dari negara mitra dagang dan tingginya harga komoditas global, di tengah impor yang juga meningkat seiring perbaikan ekonomi domestik.
Selain itu, katalis positif lainnya hari ini yaitu naiknya beberapa harga komoditas seperti CPO, nikel, timah, dan emas
Sementara, indeks di bursa Wall Street yang terkoreksi cukup dalam pada hari sebelumnya menjadi katalis negatif bagi indeks.
Dibuka menguat, IHSG mayoritas menghabiskan waktu di zona hijau hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih terus bertahan di teritori positif hingga penutupan bursa saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh sektor meningkat dimana sektor infrastruktur naik paling tinggi yaitu 2,23 persen, diikuti sektor properti & real estat dan sektor barang konsumen non primer masing-masing 1,13 persen dan 1,12 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing di seluruh pasar yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau “net foreign buy” di seluruh pasar sebesar Rp799,42 miliar. Sedangkan di pasar reguler tercatat aksi beli asing dengan jumlah beli bersih Rp845,09 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.518.972 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 25,74 miliar lembar saham senilai Rp12,07 triliun. Sebanyak 295 saham naik, 225 saham menurun, dan 170 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 110,8 poin atau 0,41 persen ke 27.122,07, indeks Hang Seng turun 465,06 poin atau 1,88 persen ke 24.327,71, dan Straits Times terkoreksi 12,67 poin atau 0,37 persen ke 3.428,9.
Rupiah Turun Tipis
Sementara itu, kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup melemah tipis satu poin atau 0,01 persen ke posisi Rp14.327 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.326 per dolar AS.
“Eskalasi ketegangan di wilayah perbatasan Rusia dan Ukraina membuat sebagian para pelaku pasar masuk ke aset aman hari ini dan ini menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,” kata Pengamat Pasar Uang, Ariston Tjendra seperti dilansir Antara.
Serangan militer Ukraina kemarin ke kantong-kantong separatis LPR pendukung Rusia bisa menjadi pemicu serangan Rusia ke Ukraina, seperti kejadian di Krimea pada 2014 yang juga melibatkan separatis yang bergerak di dalam negara Ukraina.
Amerika Serikat dan NATO masih belum melepaskan skenario perang di wilayah Ukraina meskipun bantahan dilontarkan oleh Rusia.
“Selain itu dari dalam negeri, kasus Covid-19 yang terus meninggi melampaui puncak gelombang kedua Covid-19 tahun lalu, menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap pemulihan ekonomi dalam negeri dan ini juga menjadi penekan rupiah,” ujar Ariston.
Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp14.330 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.317 per dolar AS hingga Rp14.3462 per dolar AS.
Sementara itu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat melemah ke posisi Rp14.339 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp14.301 per dolar AS./










































