JAKARTA, Bisnistoday – Pada akhir pekan kemarin, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengunjungi Tiongkok untuk bertemu Presiden Xi Jinping. Kedua pemimpin itu membahas berbagai hal, salah satunya konflik di Timur Tengah, terutama terkait perang AS-Israel dengan Iran.
Perang ini dimulai pada 28 Februari ketika AS dan Israel menyerang Iran. Padahal, saat itu pemerintah AS dan Iran sedang berunding mengenai program nuklir Iran.
Iran membalas serangan itu dengan meluncurkan rudal dan drone di seluruh wilayah, termasuk target di Israel serta aset militer AS di Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Pemerintahan Trump bersikeras bahwa perang tersebut dibenarkan. Ia beralasan serangan itu bertujuan untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir, meskipun Teheran telah berulang kali secara terbuka membantah sedang mengembangkan senjata pemusnah massal tersebut.
Tiongkok, yang sebelumnya juga mengutuk perang itu, semakin mempertegas penentangannya terhadap konflik tersebut, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan saat Trump berada di Beijing.
“Posisi Tiongkok mengenai situasi Iran sangat jelas. Konflik tersebut telah menimbulkan kerugian besar bagi rakyat di Iran dan negara-negara lainnya,” kata Kementerian Luar Negeri Tiongkok dalam sebuah pernyataan di akun X-nya, seperti dilansir Al Jazeera.
“Menemukan cara untuk menyelesaikan situasi ini sedini mungkin adalah kepentingan bukan hanya AS dan Iran, tetapi juga negara-negara regional dan seluruh dunia,” kata pernyataan itu lagi.
Tiongkok pada intinya menyambut baik upaya gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan dan percaya bahwa dialog adalah jalan terbaik. “Penting untuk mencapai gencatan senjata yang komprehensif dan langgeng sesegera mungkin,” tambah pernyataan itu.
Pernyataan itu menunjuk pada rencana empat poin untuk perdamaian dan stabilitas Timur Tengah yang sebelumnya diajukan Xi, yang menyerukan hidup berdampingan secara damai, penyelesaian yang dinegosiasikan secara politik, keamanan bersama, dan kerja sama yang didorong oleh pembangunan. Tiongkok akan terus bertindak sesuai dengan rencana ini.
Selat Hormuz
Sejak awal Maret, Iran telah membatasi pengiriman melalui Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur distribusi 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Iran telah mengizinkan kapal dari negara-negara tertentu untuk melintas, tetapi mereka diharuskan untuk bernegosiasi untuk transit dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Dalam proposal perdamaian sebelumnya, Iran telah mengusulkan pengenaan tarif bagi kapal yang ingin melewati negara tersebut. AS telah berulang kali menolak usulan tersebut. Pada April lalu, angkatan laut AS memblokade kapal yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan Iran, kebijakan yang semakin menambah gangguan pasokan energi global.
Pernyataan Gedung Putih menambahkan: “Presiden Xi juga memperjelas penentangan Tiongkok terhadap tindakan militer di Selat Hormuz dan setiap upaya untuk mengenakan tarif atas penggunaannya, dan beliau menyatakan minat untuk membeli lebih banyak minyak Amerika untuk mengurangi ketergantungan Tiongkok pada selat tersebut di masa mendatang.”
Dalam pernyataannya Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengakui bahwa konflik tersebut telah memberikan tekanan berat pada pertumbuhan ekonomi global, rantai pasok, tatanan perdagangan internasional, dan stabilitas energi global, yang merugikan kepentingan bersama komunitas internasional”.//


