JAKARTA, Bisnistoday – Tekanan pasar saham diperkirakan masih berlanjut pasca rebalancing MSCI berlangsung. Investor diminta selektif dan berhati-hati menyikapi tren capital outflow. Pada perdagangan, Jumat (9/5) kemarin, IHSG ditutup melemah 2,81 poin atau 0,05 persen ke posisi 6.127,38.
Analis Senior PT Mirae Asset Indonesia, Rully Arya Wisnubroto mengatakan, ketahanan indeks terutama ditopang lonjakan tajam saham-saham grup PP, yakni BREN, BRPT, dan PTRO, yang masing-masing menguat sekitar 25%.
“Pergerakan tersebut menegaskan bahwa kinerja IHSG saat ini sangat terkonsentrasi pada segelintir nama dengan kapitalisasi besar namun free float terbatas, sehingga level indeks perlu dibaca hati-hati karena tidak sepenuhnya mencerminkan breadth pasar yang sesungguhnya,” urainya.
Menurutnya, menjelang efektifnya rebalancing MSCI pada akhir pekan lalu, pasar mencatat net outflow asing jumbo sekitar Rp 8,4 triliun, dengan tekanan terbesar terjadi di BBCA, TPIA, AMMN, BBRI, dan BMRI. Meski demikian, arus keluar sebesar ini hanya menekan IHSG tipis 0,05% ke 6.127, bahkan indeks sempat menguat intraday hingga 1,6% ke kisaran 6.230.
Sementara, Jessica Tasijawa, Analis PT Mirae Asset Sekuritas menambahkan, kondisi rupiah masih berada di bawah tekanan pada level Rp 17.881/US Dollar Jumat lalu. Ini mencatat rekor terlemah sepanjang sejarah dengan depresiasi sekitar 3,1% MTD (mount to date) meskipun DXY (Indeks Dollar AS) telah kembali turun ke bawah level 99.
“Ini, mencerminkan masih tingginya ketidakpastian eksternal serta permintaan valas musiman terkait repatriasi dividen dan kebutuhan Haji.”
Sebagai respons, lanjut Jessica, BI terus melakukan langkah stabilisasi melalui pasar SBN dengan yield 2 Y naik ke 6,70% sementara yield 10 Y tetap terjaga di 6,72%. Dengan begitu, kurva yield menjadi semakin datar.
“Ini, memperkuat pandangan kami bahwa BI kemungkinan akan mempertahankan suku bunga di level 5,25% hingga akhir 2026 guna menjaga daya tarik yield dan mendukung aliran modal masuk, meskipun prospek Rupiah yang lebih stabil berpotensi muncul pada semester depan, seiring meredanya tekanan musiman dan implementasi DHE SDA yang memperkuat likuiditas valas domestik.”//

