Press "Enter" to skip to content

Aksi Jual oleh Investor Asing Berlanjut, IHSG Kembali Melemah

IHSG pada perdagangan akhir pekan, Jumat (9/4) ditutup melemah tipis.

JAKARTA, Bisnistoday- Setelah pada perdagangan akhir pekan lalu sempat menguat, pada awal perdagangan pekan ini, Senin (5/4), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah ke bawah level psikologis 6.000. Hal ini lebih dipengaruhi oleh berlanjutnya aksi jual oleh investor asing.

IHSG ditutup melemah 41,17 poin atau 0,68 persen ke posisi 5.970,29. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 6,18 poin atau 0,69 persen ke posisi 895,68.

Menurut analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Okie Ardhiastama saat ini pelaku pasar terfokus pada depresiasi rupiah yang berpotensi menuju Rp14.700. Momentum Lebaran tahun 2021 dinilai masih belum dapat mengembalikan kepercayaan diri pelaku pasar terhadap pemulihan daya beli masyarakat. “Namun kami melihat momentum Lebaran tahun ini dapat lebih baik daripada 2020 lalu,” katanya.

Pemulihan ekonomi di negara-negara maju Asia, lanjut Okie, dinilai juga memberikan alternatif investasi lain bagi investor sehingga saat ini tekanan terhadap aliran modal keluar masih dapat terjadi.

Dibuka menguat, pada satu jam sesi awal sesi pertama IHSG berfluktuasi lalu melemah dan terus berada di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, delapan sektor terkoreksi dimana sektor keuangan turun paling dalam yaitu minus 0,92 persen, diikuti sektor properti & real estat dan sektor infrastruktur masing-masing minus 0,81 persen.

Sedangkan tiga sektor meningkat dimana sektor teknologi naik paling tinggi yaitu 1,13 persen, diikuti sektor barang konsumen non primer dan sektor transportasi & logistik masing-masing 0,91 persen dan 0,16 persen.

Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing atau “net foreign sell” sebesar Rp619,86 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 946.033 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 15,56 miliar lembar saham senilai Rp8,16 triliun. Sebanyak 190 saham naik, 301 saham menurun, dan 153 saham tidak bergerak nilainya.

Rupiah Menguat

Sementara itu, kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan ditutup menguat di tengah stabilnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Rupiah ditutup menguat 10 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp14.515 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.525 per dolar AS.

“Rupiah kemungkinan terbantu sentimen stabilnya yield US treasury dan indeks dolar. Sementara itu inflasi Maret yang cukup rendah sebesar 1,37 persen (yoy) lebih rendah dibandingkan Februari 1,38 persen (yoy) menunjukkan masih belum benar-benar pulihnya ekonomi Indonesia di triwulan pertama dan kemungkinan membatasi impor” kata analis Samuel Sekuritas Ahmad Mikail dalam kajiannya.
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS cenderung stabil di tengah kuatnya data pasar tenaga kerja di AS pada Maret, yang menunjukkan bahwa imbal hasil obligasi cenderung stabil di level saat ini.

“Di level sekarang imbal hasil obligasi AS kemungkinan sudah cukup atraktif bagi investor global untuk berinvestasi di obligasi AS,” ujar Ahmad./

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *