www.bisnistoday.co.id
Minggu , 11 Oktober 2026
Home OPINI Gagasan Halte yang Terbakar, Kota yang Retak: Saat Ruang Publik Jadi Saksi Amarah
Gagasan

Halte yang Terbakar, Kota yang Retak: Saat Ruang Publik Jadi Saksi Amarah

Halte Trans Jakarta
Social Media

Ketika halte TransJakarta terbakar dalam sebuah demonstrasi ricuh, yang hilang bukan hanya bangunan kaca dan logam. Yang ikut terbakar adalah rasa percaya, kebersamaan, dan harapan tentang kota yang seharusnya ramah pada warganya.

Peristiwa yang memicu gelombang amarah kali ini adalah tragedi Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang tewas terlindas kendaraan taktis Brimob. Rekaman yang menyebar luas di media sosial mengguncang nurani publik. Demonstrasi menjalar ke berbagai kota, lalu berubah menjadi kerusuhan. Lagi-lagi, halte, jembatan penyeberangan, dan fasilitas umum lainnya menjadi korban.

Fenomena ini bukan hal baru. Dari 1998, 2019, 2020, hingga 2025, pola kerusakan ruang publik selalu berulang setiap kali terjadi letupan sosial besar. Pertanyaannya: mengapa halte dan jembatan menjadi sasaran kemarahan?

Halte: Simbol Negara yang Rapuh

Halte adalah wajah negara yang paling kasatmata. Tidak seperti gedung DPR atau markas kepolisian yang dijaga aparat, halte berdiri polos di tengah jalan—mudah dijangkau, mudah dirusak. Ia adalah simbol pelayanan publik yang paling dekat dengan warga, namun paling rentan jadi korban pelampiasan.

Dalam psikologi sosial, kemarahan yang gagal menemukan sasaran utama cenderung mencari objek terdekat yang lebih lemah. Di tengah kerumunan penuh emosi, sebuah halte bisa berubah dari ruang tunggu menjadi ruang pelampiasan. Dan begitu satu orang melempar batu, kerumunan segera ikut—kerusakan menjalar cepat, seperti api yang membakar atap halte itu sendiri.

Tidak semua perusakan lahir dari demonstran. Ada provokator yang sengaja memicu kekacauan, ada pula penjarah oportunis yang memanfaatkan situasi. Namun satu hal yang pasti: gambar halte terbakar selalu menjadi ikon visual yang dramatis. Mudah viral, cepat menguasai linimasa, dan membuat publik teringat bahwa ada sesuatu yang salah dalam hubungan negara dan warganya.

Membayangkan Halte yang Tangguh dan Hidup

Solusi tentu bukan sekadar mengganti kaca dengan besi. Kita perlu membayangkan halte yang lebih dari sekadar bangunan fungsional—halte yang kokoh secara fisik dan sosial. Bayangkan jika halte menjadi ruang komunitas kecil: tempat mural warga, pameran karya anak-anak, atau sekadar ruang pertemuan sederhana. Seperti mushola kampung yang dijaga bersama, halte pun bisa dijaga oleh ‘Sahabat Halte’—pengemudi ojek, pedagang kaki lima, pelajar, hingga warga sekitar.

Ketika warga merasa memiliki, mereka akan menjaga. Dari situ lahir ketahanan sosial yang jauh lebih kuat dibanding sekadar pagar besi atau kamera pengawas.

Halte Kita, Martabat Kota Kita

Perusakan halte bukan sekadar soal kerugian finansial. Ia adalah luka pada martabat kota, tanda rapuhnya relasi sosial. Merawat halte berarti merawat kepercayaan antarwarga, sekaligus memperbaiki hubungan warga dengan negara.

Karena itu, membangun kembali halte yang rusak seharusnya tidak hanya berhenti pada beton dan logam. Yang perlu dipulihkan adalah rasa percaya, saluran komunikasi, dan kebersamaan. Kota yang baik dimulai dari halte yang kokoh bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara nilai sosial.

Dari halte, kita bisa mulai merajut ulang ruang publik yang sehat, aman, dan manusiawi. Karena pada akhirnya, halte bukan hanya milik pemerintah. Halte adalah milik kita semua.

Jakarta, September 2025

Oleh: Muhamad Akbar, Pemerhati Transportasi

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

SUMUR MIGAS
Gagasan

Hulu Migas Nasional di Persimpangan: Produksi Bertahan, Investasi dan Perizinan Jadi Ujian

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Ditengah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah yang berpotensi mengguncang harga...

Layanan Transportasi
Gagasan

Integrasi Transportasi Jakarta: Satu Aplikasi, Bukan Banyak Aplikasi

JAKARTA, Bisnistoday.co.id- Integrasi transportasi publik Jakarta memasuki babak penting menjelang 2027. Namun, di...

SIDANG MK
Gagasan

Bola Panas MK kepada MPR: Perlukah Gibran Mengundurkan Diri?

JAKARTA,Bisnistoday.co.id- Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai keabsahan syarat pendidikan Wakil Presiden Gibran...

Latihan Mengemudi
Gagasan

Jangan Asal “Bisa Nyetir”, Saatnya Sekolah Mengemudi Jadi Syarat Wajib Pembuatan SIM

JAKARTA, Bisnistoday.co.id- Keselamatan di jalan raya sangat ditentukan oleh kesadaran, keterampilan, dan...