JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis (7/1) ditutup menguat 87,95 poin atau 1,45 persen ke posisi 6.153,63. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 11,64 poin atau 1,23 persen ke posisi 957,31.
“Sentimen positif bagi indeks terutama dari eksternal terkait kemenangan kubu Demokrat di Senat sehingga program Joe Biden seperti dukungan terhadap pengembangan energi ramah lingkungan serta stimulus yang lebih besar bisa terwujud,” kata analis Indo Premier Sekuritas, Mino di Jakarta, Kamis (7/1).
Sementara dari dalam negeri, kekhawatiran akan penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) sudah mereda karena hanya diterapkan di beberapa kota yang memenuhi kriteria, tidak diterapkan di seluruh kota Jawa dan Bali.
Pada perdagangan kali ini, IHSG nyaman berada di teritori positif hingga penutupan perdagangan saham.
Secara sektoral, sembilan sektor meningkat dimana sektor pertambangan paling tinggi yaitu 5,61 persen, diikuti sektor industri dasar dan sektor keuangan masing-masing 2,12 persen dan 1,73 persen. Sedangkan satu sektor terkoreksi yaitu sektor aneka industri sebesar minus 1,01 persen.
Penutupan IHSG diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing sebesar Rp845,39 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.622.791 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 23,45 miliar lembar saham senilai Rp21,83 triliun. Sebanyak 279 saham naik, 187 saham menurun, dan 169 saham tidak bergerak nilainya.
Rupiah Melemah
Sementara itu, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup melemah seiring koreksi mayoritas mata uang kawasan Asia. Rupiah ditutup melemah 15 poin atau 0,11 persen ke posisi Rp13.910 per dolar AS dari posisi penutupan hari sebelumnya Rp13.895 per dolar AS.
“Pengetatan PSBB yang dilakukan oleh pemerintah, juga dilakukan oleh berbagai negara di dunia, tujuannya adalah agar pandemi COVID-19 bisa dikendalikan. Namun pengetatan ini bisa berpengaruh terhadap konsumsi masyarakat yang berujung terhadap pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama 2021 yang kemungkinan masih akan terkontraksi,” kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi.
Sebelumnya, banyak pengamat yang mengatakan 2021 merupakan tahun pemulihan karena pandemi Covid-19 sudah bisa teratasi seiring sudah ditemukannya vaksin. Namun pada kenyataannya penyebaran pandemi Covid-19 semakin meluas bahkan sudah berkembang dengan varian baru yang penyebarannya lebih cepat dan tidak bisa terkendali.
“Ini semua di luar prediksi sehingga pemerintah harus lebih sigap lagi dalam penanganan Covid-19 dan tahun 2021 adalah tahun tersibuk bagi pemerintah untuk mengatasi Covid-19 dan menstabilkan ekonomi dari serangan Covid-19 dan variannya,” ujar Ibrahim./

