www.bisnistoday.co.id
Rabu , 3 Juni 2026
Home OPINI Indepth Ojol Jadi Bintang Politik, Pengemudi Konvensional Tertinggal di Pinggir Jalan
Indepth

Ojol Jadi Bintang Politik, Pengemudi Konvensional Tertinggal di Pinggir Jalan

Ojek Online
TARIF OJOL (Ilustrasi)
Social Media

Dalam satu dekade terakhir, wajah transportasi Indonesia berubah drastis. Ojek online (ojol) yang dulunya dianggap pendatang baru, kini justru menjelma jadi kekuatan sosial bahkan politik. Mereka hadir bukan hanya di jalanan kota besar, tetapi juga di ruang-ruang simbolik: layar ponsel, panggung media, hingga pertemuan resmi di Istana.

“Politisi melihat ojol sebagai kelompok strategis. Jumlah mereka besar, solid, dan punya pengaruh ke keluarga maupun lingkungan sekitar,” ujar pengamat transportasi, Muhamad Akbar.

Tak heran, menjelang pemilu, banyak politisi rajin menyambangi basecamp ojol, berfoto bersama, atau berdialog dengan komunitas mereka.

Sementara itu, pengemudi konvensional—truk, bus, angkot, hingga taksi—nyaris tak terdengar gaungnya. Padahal mereka sudah jauh lebih lama hadir dan menjadi tulang punggung transportasi nasional. Identitas yang terpecah-pecah serta minimnya organisasi membuat suara mereka kerap tenggelam.

Identitas dan Solidaritas

Ojol unggul dalam hal identitas. Jaket dan helm hijau bukan sekadar seragam, tetapi simbol kebersamaan. “Dari jauh saja orang sudah tahu, itu ojol,” kata Akbar. Ditambah lagi, solidaritas mereka terjalin erat melalui grup WhatsApp, Telegram, dan media sosial. Koordinasi aksi bisa berlangsung hanya dalam hitungan jam.

Sebaliknya, pengemudi konvensional tak punya identitas kolektif yang kuat. Seragamnya berbeda-beda, organisasinya tercerai-berai, bahkan sering kali lebih condong ke kepentingan pemilik armada daripada pengemudi.

Ketimpangan Media

Media pun memperkuat jurang ini. Kisah heroik atau perjuangan hidup ojol mudah diangkat dan dekat dengan pembaca. Sebaliknya, pengemudi truk yang tidur berhari-hari di kabin atau sopir bus malam yang rela tak pulang demi mudik aman jarang sekali muncul sebagai narasi positif.

Apa yang Bisa Dilakukan? Menurut Akbar, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh agar pengemudi konvensional tidak semakin terpinggirkan. Mulai dari membentuk organisasi lintas moda yang benar-benar mewakili pengemudi, membangun identitas kolektif (misalnya rompi oranye nasional), hingga memperluas perlindungan sosial seperti BPJS dan jaminan hari tua.

Tak kalah penting, kisah inspiratif pengemudi konvensional harus lebih sering dipublikasikan. “Kalau ojol punya cerita viral, pengemudi konvensional pun sebenarnya punya banyak kisah humanis yang layak diangkat,” ujarnya.

Menuju Transportasi yang Berimbang

Ojol sudah membuktikan kekuatan solidaritas dan narasi positif. Namun, pengemudi konvensional tetap fondasi utama transportasi Indonesia. Truk, bus, angkot, dan taksi memastikan pergerakan barang dan manusia tetap berjalan.
Indonesia membutuhkan keseimbangan.

“Hijau jaket ojol dan oranye rompi pengemudi konvensional harus berdampingan sebagai simbol kebanggaan profesi transportasi,” tegas Akbar.

Jakarta, September 2025

Oleh : Pengamat Transportasi, Muhamad Akbar. 

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Peringatan WHO tentang Wabah Ebola (Tangkapan layar dari X)
GLOBALIndepth

Mengenal Virus Ebola yang Kini Kembali Merebak di Afrika

JAKARTA, Bisnistoday - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan merebaknya wabah Ebola...

Seseorang mengibarkan Bendera Palestina (dok:Unsplash/Ahmed Abu Hameeda)
GLOBALIndepth

Nakba, Luka Sejarah Palestina, dan Amnesia Politik Amerika

JAKARTA, Bisnistoday - Pada 1948, ribuan warga Palestina diusir paksa dari tanah...

Demontrasi Menolak Pemanfaatan Teknologi Kecerdasan Buatan untuk Perang (dok: Unsplash/kuczmarski
EKONOMIGLOBALIndepth

Waspadai Tirani Teknologi dan Munculnya Kolonialisme Baru

JAKARTA, Bisnistoday -  Pada September 2024, masyarakat dunia terkejut dengan meledaknya ribuan...

Kesehatan Masyarakat di Asia Terancam Dampak Perang AS-Iran. (dok:unsplash/Leo Vision)
IndepthKawasan GlobalLingkungan

Kesehatan Masyarakat di Asia Terancam Dampak Perang AS-Iran

JAKARTA, Bisnistoday - Di sebuah kawasan permukiman kumuh di Delhi selatan, India,...