www.bisnistoday.co.id
Selasa , 17 Maret 2026
Home OPINI Indepth Ojol Jadi Bintang Politik, Pengemudi Konvensional Tertinggal di Pinggir Jalan
Indepth

Ojol Jadi Bintang Politik, Pengemudi Konvensional Tertinggal di Pinggir Jalan

Ojek Online
TARIF OJOL (Ilustrasi)
Social Media

Dalam satu dekade terakhir, wajah transportasi Indonesia berubah drastis. Ojek online (ojol) yang dulunya dianggap pendatang baru, kini justru menjelma jadi kekuatan sosial bahkan politik. Mereka hadir bukan hanya di jalanan kota besar, tetapi juga di ruang-ruang simbolik: layar ponsel, panggung media, hingga pertemuan resmi di Istana.

“Politisi melihat ojol sebagai kelompok strategis. Jumlah mereka besar, solid, dan punya pengaruh ke keluarga maupun lingkungan sekitar,” ujar pengamat transportasi, Muhamad Akbar.

Tak heran, menjelang pemilu, banyak politisi rajin menyambangi basecamp ojol, berfoto bersama, atau berdialog dengan komunitas mereka.

Sementara itu, pengemudi konvensional—truk, bus, angkot, hingga taksi—nyaris tak terdengar gaungnya. Padahal mereka sudah jauh lebih lama hadir dan menjadi tulang punggung transportasi nasional. Identitas yang terpecah-pecah serta minimnya organisasi membuat suara mereka kerap tenggelam.

Identitas dan Solidaritas

Ojol unggul dalam hal identitas. Jaket dan helm hijau bukan sekadar seragam, tetapi simbol kebersamaan. “Dari jauh saja orang sudah tahu, itu ojol,” kata Akbar. Ditambah lagi, solidaritas mereka terjalin erat melalui grup WhatsApp, Telegram, dan media sosial. Koordinasi aksi bisa berlangsung hanya dalam hitungan jam.

Sebaliknya, pengemudi konvensional tak punya identitas kolektif yang kuat. Seragamnya berbeda-beda, organisasinya tercerai-berai, bahkan sering kali lebih condong ke kepentingan pemilik armada daripada pengemudi.

Ketimpangan Media

Media pun memperkuat jurang ini. Kisah heroik atau perjuangan hidup ojol mudah diangkat dan dekat dengan pembaca. Sebaliknya, pengemudi truk yang tidur berhari-hari di kabin atau sopir bus malam yang rela tak pulang demi mudik aman jarang sekali muncul sebagai narasi positif.

Apa yang Bisa Dilakukan? Menurut Akbar, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh agar pengemudi konvensional tidak semakin terpinggirkan. Mulai dari membentuk organisasi lintas moda yang benar-benar mewakili pengemudi, membangun identitas kolektif (misalnya rompi oranye nasional), hingga memperluas perlindungan sosial seperti BPJS dan jaminan hari tua.

Tak kalah penting, kisah inspiratif pengemudi konvensional harus lebih sering dipublikasikan. “Kalau ojol punya cerita viral, pengemudi konvensional pun sebenarnya punya banyak kisah humanis yang layak diangkat,” ujarnya.

Menuju Transportasi yang Berimbang

Ojol sudah membuktikan kekuatan solidaritas dan narasi positif. Namun, pengemudi konvensional tetap fondasi utama transportasi Indonesia. Truk, bus, angkot, dan taksi memastikan pergerakan barang dan manusia tetap berjalan.
Indonesia membutuhkan keseimbangan.

“Hijau jaket ojol dan oranye rompi pengemudi konvensional harus berdampingan sebagai simbol kebanggaan profesi transportasi,” tegas Akbar.

Jakarta, September 2025

Oleh : Pengamat Transportasi, Muhamad Akbar. 

Arsip

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

TRADE EXPO INDONESIA 2025

SOROTAN BISNISTODAY

Beritasatu Network

Related Articles

Kendaraan Listrik
Indepth

Gejolak Energi Global dan Peringatan bagi Indonesia: Saatnya Mempercepat Transisi Energi

JAKARTA, Bisnistoday - Ketegangan geopolitik dunia kembali memberikan peringatan keras bagi sistem...

Truk Kelebihan Beban dan Muatan.
Indepth

Zero ODOL 2027, Ujian Serius Negara Menata Logistik dan Keselamatan Jalan

JAKARTA, Bisnistoday - Target ambisius pemerintah mewujudkan kebijakan Zero Over Dimension Over...

Ilustrasi Oposisi
Indepth

Kesepakatan Dagang atau Konsesi Sepihak?

JAKARTA, Bisnistoday - Kesepakatan Agreement on Reciprocal Tariff (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat memantik perdebatan tajam di...

Mahasiswa
Indepth

Kebijakan dan Praktik Diskriminatif Pendidikan Tinggi Indonesia

ADA PARADOKS yang makin terasa di pendidikan tinggi Indonesia: kampus negeri kian...