JAKARTA, Bisnistoday- Menteri BUMN Erick Thohir telah mencanangkan budaya AKHLAK sebagai core values BUMN melalui Surat Edaran Menteri BUMN Nomor SE-7/MBU/07/2020 tanggal 1 Juli 2020. Penetapan itu bersamaan dengan perubahan logo dan slogan Kementerian BUMN.
AKHLAK memiliki singkatan Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif dan masing-masing nilai memiliki penjabaran sendiri serta panduan perilaku dan kode etik yang diterapkan di masing-masing perusahaan BUMN.
“Oleh sebab itu AKHLAK yang dicanangkan sebagai budaya perusahaan oleh Kementerian BUMN menurut analisa peneliti kurang tepat disebut sebagai budaya perusahaan, tetapi lebih kepada ‘Corporate Management Ethics’ ujar Dr Zuhdi Saragih, dalam promosi gelar doctoral di Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Sahid, Jakarta, Kamis (29/2) malam.
Dalam forum Sidang Terbuka Promosi Doktor Ketua Sidang: Dr Ridzki Rinanto Sigit, MM, Promotor; Prof Dr. Puji Lestari, SIP., M.Si, Co-Promotor: Dr. Jamalullail, M.M ; Prof. Dr. Muhammad Khairil, M.Si. Dr. Marlinda Irwanti Poernomo, M.Si, Dr. Morissan, M.A., Dr. Frengki Napitupulu, M.Si. dan Sekretaris Sidang Dr Hayu Lusianawati, M.Si.
Budaya perusahaan menurut peneliti tidak dapat digeneralisasi sebab setiap perusahaan memiliki core business yang berbeda dengan visi dan misi dan tata nilai perusahaan yang berbeda pula. Budaya Organisasi AKHLAK seyogyanya diposisikan sebagai grand values yang secara simultan dijadikan sumber rujukan dan inspirasi dalam setiap mendesain program kerja sesuai dengan perkembangan perusahaan dimasa mendatang.
Sebagai perusahaan BUMN Jasa Marga merupakan perusahaan yang high regulated terikat pada sejumlah aturan Pemerintah. Dalam pelaksanaannya setiap keputusan penting korporasi berada pada RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) sebagai organ tertinggi perseroan.
Transformasi Budaya Jasa Marga dari APIC ke AKHLAK secara definisi dan melihat pada makna dan perilaku utamanya, Tata Nilai APIC sudah terkandung pada Tata Nilai AKHLAK.
Menurut peneliti, dengan praktek program organisasi Jasa Marga pada momen-momen penting yang melibatkan berbagai stake holders dan pihak otoritas, serta beberapa perubahan peraturan perundang-undangan, maka hal tersebut memberikan dampak cara individu-individu bereaksi terhadap organisasi yang menciptakan iklim komunikasi. Bahwa reaksi dan respon individu-individu dalam organisasi Jasa Marga dalam setiap perubahan yang terjadi tidak saja merubah tata kelola perusahaan, tetapi juga secara bersamaan memberikan dampak terhadap Iklim Komunikasi.
Peristiwa dalam lingkup yang terdapat pada agenda besar perusahaan dan rutin dilakukan dalam ukuran standard pelayanan Service Level Agreement (SLA), merupakan bentuk communication performance. Menurut peneliti hal ini merupakan “theoretical gap” dimana teori Budaya Organisasi Pacanowsky tidak mencakup adanya Iklim Komunikasi Organisasi.
Salah satu narasi yang mendramatisasi kehidupan oganisasi menurut Pacanowsky adalah cerita – cerita yang diulang terus menerus menyediakan jendela yang nyaman untuk melihat budaya korporasi.
Enam faktor yang mempengaruhi iklim komunikasi yang dikembangkan dalam Inventaris Iklim Komunikasi (IIK) sebagiamana dipaparkan oleh Pace dan Faules (1998: 159-160) adalah sebagai berikut: 1. Keperyaan, 2. Pembuatan keputusan bersama, para pegawai disemua tingkatan harus selalu berkomunikasi mengenai segala permasalahan yang relevan dengan kedudukan mereka. 3. Kejujuran 4. Keterbukaan dalam komunikasi ke bawah 5. Mendengarkan dalam komunikasi ke atas 6. Perhatian pada tujuan kinerja yang tinggi.
Perubahan Budaya Perusahaan
Perubahan budaya yang dicanangkan pemerintah ini, sebagai bentuk antisipasi bahwa perusahaan-perusahaan plat merah merupakan pelaku yang terlibat dalam dunia bisnis yang semakin dinamis.
Peran BUMN yang signifikan untuk perekonomian nasional namun disparitas yang tinggi dari sisi sistem pengelolaan talenta antar BUMN, maka Kementerian merasa harus melakukan transformasi dan penyelarasan pedoman SDM di BUMN bertajuk “Transformasi Human Capital BUMN”.
Transformasi tersebut salah satunya adalah penyelarasan core values seluruh BUMN menjadi satu, yakni AKHLAK. Penetapan core values SDM BUMN merupakan aksi yang esensial sebagai identitas dan perekat budaya kerja yang mendukung peningkatan kinerja BUMN secara berkelanjutan.
Dengan dicetuskannya AKHLAK sebagai pedoman berperilaku, Kementerian menginginkan adanya perubahan ke arah yang lebih positif agar seluruh budaya kerja di BUMN memiliki prinsip dan cara pandang yang sama, sehingga dalam setiap tindakan baik personel maupun kegiatan BUMN, seluruhnya dilandasi dengan nilai-nilai tersebut.
Transformasi Budaya Organisasi AKHLAK menitik beratkan peran human capital sebagai pelaku budaya untuk meningkatkan daya saing di pasar sebagai pemain global dan menjadikan BUMN sebagai pabrik talenta.
Budaya adalah Organisasi dan Komunikasi
Penafsiran Pacanowsky dan O’Donnel-Trujillo (1982) mengenai jaring Geertz menunjukkan sikap rangkap budaya sebagai struktur dan budaya sebagai proses. Budaya bukan sekedar sesuatu yang dimiliki organisasi (artifak, struktur), tetapi juga sesuatu yang merupakan organisasi dalam proses pemahaman (Pace, Faules, 2018:94).
Implementasi Budaya AKHLAK memerlukan peran organisasi sebagai wadah dalam merumuskan, mendesain dan melaksanakan program transformasi budaya perusahaan. Tujuannya untuk membentuk nilai dan budaya perusahaan yang mendukung pencapaian visi dan misi perusahaan melalui pendefinisian tata nilai dan budaya perusahaan yang baru. Organisasi adalah prilaku simbolik dan eksistensinya bergantung pada makna bersama dan pada penafsiran yang diperoleh melalui interaksi manusia.
Budaya organisasi bukan hidup dalam suatu lingkungan yang statis namun berada dalam lingkungan yang dinamis, ini berarti bahwa budaya sebagai faktor internal organisasi harus respon terhadap perubahan yang terjadi.
Iklim Komunikasi dan Proses Novelty
Salah satu narasi yang mendramatisasi kehidupan oganisasi menurut Pacanowsky adalah cerita – cerita yang diulang terus menerus menyediakan jendela yang nyaman untuk melihat budaya korporasi.
Enam faktor yang mempengaruhi iklim komunikasi yang dikembangkan dalam Inventaris Iklim Komunikasi (IIK) sebagiamana dipaparkan oleh Pace dan Faules (1998: 159-160) adalah sebagai berikut: 1. Keperyaan, 2. Pembuatan keputusan bersama, para pegawai disemua tingkatan harus selalu berkomunikasi mengenai segala permasalahan yang relevan dengan kedudukan mereka. 3. Kejujuran 4. Keterbukaan dalam komunikasi ke bawah 5. Mendengarkan dalam komunikasi ke atas 6. Perhatian pada tujuan kinerja yang tinggi.
Menurut peneliti, dengan praktek program organisasi Jasa Marga pada momen-momen penting yang melibatkan berbagai stake holders dan pihak otoritas, serta beberapa perubahan peraturan perundang-undangan, maka hal tersebut memberikan dampak cara individu-individu bereaksi terhadap organisasi yang menciptakan iklim komunikasi. Bahwa reaksi dan respon individu-individu dalam organisasi Jasa Marga dalam setiap perubahan yang terjadi tidak saja merubah tata kelola perusahaan, tetapi juga secara bersamaan memberikan dampak terhadap Iklim Komunikasi.
Peristiwa dalam lingkup yang terdapat pada agenda besar perusahaan dan rutin dilakukan dalam ukuran standard pelayanan Service Level Agreement (SLA), merupakan bentuk communication performance. Menurut peneliti hal ini merupakan “theoretical gap” dimana teori Budaya Organisasi Pacanowsky tidak mencakup adanya Iklim Komunikasi Organisasi.
Internalisasi Komunikasi Budaya AKHLAK
Internalisasi Tata Nilai AKHLAK sudah berada di tahap komitmen, dimana pada fase ini, roadster Jasa Marga Group telah mampu mengimplementasikan dan mengidentifikasi perbaikan bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga yang dapat mempengaruhi orang lain.
Program komunikasi dilakukan melalui berbagai saluran komunikasi dan transmisi diantaranya pemanfaatan media sosial seperti instagram, pemasangan banner, slogan spirit, daily quiz dan konten sosial media untuk sosialisasi transformasi Tata Nilai AKHLAK. Namun strategi internalisasi ini dilakukan tidak hanya terlihat keberadaannya di kantor pusat, tetapi harus dilakukan diseluruh wilayah atau anak perusahaan.
Diperlukan keseragaman dalam menempatkan identitas/logo AKHLAK pada kop surat sebagai produk corporate writing.
Implementasi Budaya Organisasi AKHLAK
Implementasi AKHLAK di beberapa unit kerja baik kantor pusat, wilayah kerja operasional dan anak perusahaan masing-masing memberikan inovasi dan kreatifitas tersendiri. Oleh sebab itu perlu dibuat buku pintar AKHLAK sebagai guidence terutama pada wilayah operasional.
Implementasi Budaya AKHLAK konsentrasi penguatan komitmennya masih terbatas pada lingkup leader dimana dalam behaviour tim cenderung mengikuti pimpinan. Seyogyanya dapat dilakukan proses penguatan kembali dari karyawn bawah ke atas (leader) sebagai sarana evaluasi.
Tata Nilai AKHLAK belum diimplementasikan dengan baik di unit kerja lapangan sebagai produk layanan yang merupakan core business perusahaan yang tidak sesuai ketentuan Standard Pelayanan Minimal (SPM).
Saran Teroritis
Peristiwa dalam lingkup yang merupakan agenda besar perusahaan secara rutin dilakukan dalam ukuran Service Level Agreement (SLA), merupakan bentuk communication performance, merupakan “theoretical gap” sekaligus Novelty dimana teori Budaya Organisasi Pacanowsky tidak mencakup Iklim Komunikasi Organisasi.
Penelitian Budaya AKHLAK berikutnya di perusahaan milik negara, peneliti menyarankan dapat menggunakan Teori Max Weber mengenai birokrasi yang berkaitan dengan pola kewenangan (otoritas) yang hierarkis.
Saran Praktis
Organisasi Budaya AKHLAK seyogyanya berada dibawah Corporate Communication & Community Development Group (CCO Group) dimana fungsi Budaya itu sendiri sejalan dengan lingkup tugas utama dari CCO Group Jasa Marga yaitu pengelolaan informasi dan komunikasi yang efektif serta pengembangan marketing dan brand perusahaan. Hal ini sesuai dengan bahwa adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang dapat terjadi dengan melibatkan penyampaian informasi organisasi secara efektif dan berkesinambungan kepada berbagai pemangku kepentingan.
Beberapa temuan dalam observasi di lapangan dijadikan evidence ‘triangulasi’ sekaligus dilakukan crosscheck terhadap unsur tata nilai yang menjadi makna dan perilaku utama dalam Budaya AKHLAK.
Jakarta, Maret 2024
Oleh : Dr.Zuhdi Saragih, Akademisi UNAS Jakarta.


