www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 11 Juli 2026
Home EDITOR'S VIEW Malas Jadi Petani Identik Dengan Kemiskinan
EDITOR'S VIEW

Malas Jadi Petani Identik Dengan Kemiskinan

cocok tanam
PETANI tengah melakukan tanam bibit padi (cocok tanam).
Social Media

ANAK MUDA atau milenial ketika ditanya apakah dalam benak pikirannya kalau sudah dewasa nanti menjadi seorang petani? Jawabannya mayoritas tidak mau, karena banyak alasan utamanya identik hidup petani hanya berkutat di kampung, dan elit (ekonomi sulit). Kendati, dari para orang tua petani, terlahir orang-orang besar, namun apakah dirinya ingin menjadi seperti bapaknya petani? Tetap saja, bukan pilihan hidup.

Ternyata, pendapat tersebut, juga berkorelasi dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menerangkan, proporsi pemuda yang bekerja di sektor pertanian terus menurun dalam satu dekade terakhir.  Pada 2011, tercatat ada 29,18% pemuda yang bekerja di sektor ini. Dan angkanya merosot menjadi sebesar 19,18% pada 2021.

Data BPS pada 2018 juga memperlihatkan dari segi umur, hanya 885.077 petani yang berusia di bawah 25 tahun. Petani yang berusia 25-34 tahun tercatat sebanyak 4,1 juta jiwa. Kemudian, petani dalam kelompok usia 35-44 tahun sebanyak 8,17 juta jiwa.

Wajar saja, dengan indikasi ini, dari sisi produksi pangan menurun seiring terus merosotnya keterlibatan kaum muda atau awal regenerasi petani ini. Hal tersebut, menjadi persoalan serius terutama dalam menjaga produksi padi nasional. Fenomena ini, muncul dalam dekade terakhir, bahwa masyarakat yang menjadi petani terus berkurang, sedangkan permintaan terhadap produksi pangan terus meningkat.

Kabar terakhir, bahwa Bulog berencana mengimpor beras atau beras impor mendapat cemoohan masyarakat. Disisi lain, kebutuhan impor beras sendiri juga sebuah ‘keniscayaan’ untuk mengimbangi permintaan kebutuhan pangan pokok seperti beras. “Dicaci pun nanti akhirnya juga dibeli juga beras impor.”

Kepedulian Entitas Swasta

Teringat, terakhir salah satu pelaku industri pangan kelapa sawit, dan sekarang menggeluti komoditas beras menjalankan program yang cukup istimewa, untuk meningkatkan kesejahteraan para petani, wilayah Jawa dan Sumatera. Entitas usaha itu, adalah Wilmar Padi Indonesia. Swasta murni ini menaruh perhatian terhadap kesejahteraan petani Indonesia.

Program unggulannya adalah memberikan program bantuan pendampingan perencanaan benih hingga produksi padi. Dalam program itu, petani mendapatkan tiga fasilitas. Pertama berupa agri input, yaitu asuransi pertanian serta sarana dan prasarana produksi pertanian.

Perusahaan mampu membeli gabah petani dengan harga wajar karena efisiensi produksi dan mampu memanfaatkan produk samping (by product) menjadi produk hilir yang memberikan nilai tambah. Seperti, bekatul,  kulit, menir dan sekam. Sedangkan dasar pembelian gabah ditentukan oleh kualitas yang ditentukan oleh kadar air, kadar kotoran, dan butir hijau. Intinya pembelian ditentukan oleh rendemen.

Dari data di lapangan, peningkatan produktivitas dalam pendampingan tersebut minimal 15 persen. Melalui pendampingan petani dapat meningkatkan produktivitasnya, sehingga dengan sendirinya pendapatan mereka meningkat.

Manajemen Wilmar mengutarakan, pendapatan petani sekarang di pedesaan hanya sekitar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per petani per bulan. Angka ini masih jauh dari harapan dari kebutuhan yang diukur dari Upah Minimum Provinsi yang sudah berkisar Rp2 juta hingga Rp5 jutaan per bulan.

Program yang digulirkan Wilmar ini ternyata juga banyak peminatnya. Program ini terbukti mampu mengangkat kehidupan para petani di desa. Karena sampai sekarang, petani tidak bisa menjual gabah atau berasnya dengan harga premium. Dengan begitu, pendapatanyapun juga terhitung masih jauh dari kebutuhan riil hidupnya.

Data Wilmar mencatat, pada musim tanam I (November 2022-Februari 2023), jumlah petani peserta FEP mencapai 2.302 orang dengan luas lahan 2.815 ha. Angka tersebut melonjak dibanding periode sama tahun lalu yang hanya 1.626 orang dengan luas lahan 1.113 ha.

Sejak musim tanam II (Maret-Juni 2021) hingga saat ini, total petani yang telah bergabung dalam FEP sebanyak 7.561 orang dengan luas lahan 6.798 ha yang tersebar di Jawa dan Sumatera. FEP dimulai sejak musim tanam II 2021 dengan luas lahan kemitraan 141 ha.

Perluasan Program

Wilmar Padi Indonesia menargetkan kemitraan melalui Farmer Engagement Program (FEP) tahun ini meningkat menjadi 10 ribu hektare (ha). Luasan itu naik signifikan dari realisasi kemitraan tahun lalu yang baru 3.366 ha. Bahkan menambah menjadi tiga lokasi baru untuk FEP tahun ini adalah Pandeglang, Lampung, dan Kuala Tanjung dari lima lokasi sebelumnya.

Apa yang dikerjakan oleh swasta ini, lebih menyentuh kepada kehidupan masyarkaat langsung. Dengan membeli produksi para petani lebih tinggi, diharapkan kesejahteraan para petani di sekitar lokasi pabrik pengolahan semakin meningkat.

Dengan begitu diharapkan para petani milenial tergerak kembali menggeluti industri pangan terutama komoditas padi nasional. Hal ini merupakan salah satu aspek penting, untuk menuju kembali Indonesia sebagai swasembada pangan dengan keluar dari keterpasungan impor pangan.

Oleh: Tim Redaksi Bisnistoday

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Maulid Nabi
EDITOR'S VIEW

Tahun Baru Islam :  Tauladan Hijrah yang Relevan Ditengah Tantangan Zaman

MEMASUKI  1 Muharam 1448 atau tahun baru Islam atau dikenal dalam masyarakat...

Hewan Kurban
EDITOR'S VIEW

Ketulusan Nabi Ibrahim dan Relevansi Keikhlasan di Zaman Modern

KISAH pengorbanan Nabi Ibrahim AS menjadi salah satu pelajaran terbesar tentang ketulusan...

Kereta KRL
EDITOR'S VIEW

Saatnya Kemenhub Ambil Kendali Penuh : Keselamatan Jalur Kereta Tak Bisa Ditawar

PEMERINTAH khususnya Kementerian Perhubungan semestinya segera mengambil peran dominan terhadap pengelolaan jalur...

Bendungan Budong
EDITOR'S VIEW

Mundurnya Dirjen PU Berpolemik, Pakar Tekankan Transparansi dan Integritas Audit

JAKARTA, Bisnistoday – Pejabat Kementerian PU akhir-akhir ini menjadi sorotan masyarakat yakni...