KALTIM, Bisnistoday – Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan pertumbuhan ekspor sampai pertengahan tahun 2025 tercatat tetap positif, ditengah gejolak perdagangan dunia. Hingga Juni 2025, pertumbuhan ekspor berada diatas target yang diperkirakan.
“Ekspor kita terus mengalami kenaikan. Ekspor Indonesia dari Januari hingga Juni 2025 tercatat tumbuh sebesar 7,7 persen, melampaui target tahunan yang sebesar 7,1 persen. Ini tentu tidak terlepas dari kontribusi Bapak dan Ibu semua,” ujar Menteri Busan, saat berdiskusi bersama diaspora Indonesia dalam Congress of Indonesian Diaspora ke-8 (CID-8) yang diselenggarakan oleh Indonesian Diaspora Network (IDN) Global di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, akhir pekan.
“Untuk itu, melalui sinergi dengan diaspora di berbagai negara, kita dapat terus mendorong peningkatan ekspor dan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sesuai dengan target program pemerintah,” ujar Mendag Busan.
Mendag Busan mencontohkan peran diaspora Indonesia di luar negeri yang telah menjadi pelaku usaha, termasuk importir produk Indonesia. Salah satu kisah sukses yang dibagikan, yaitu produk makanan instan Indonesia seperti mi instan yang menyebar luas ke berbagai negara, seperti India dan Nigeria, berkat peran Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan diaspora yang mengenalkan produk tersebut secara organik kepada masyarakat lokal.
“Awalnya mi instan ini dikonsumsi oleh PMI, lalu dikenalkan kepada keluarga tempat mereka bekerja. Anak-anak majikan yang tadinya sekadar mencoba, lama-kelamaan menyukai rasa mi Indonesia. Dari situ, merek ini tumbuh kuat dan dikenal luas ke berbagai negara hingga ke Afrika,” jelas Mendag Busan.
Mendag Busan meyakini, peran diaspora sebagai mitra UMKM akan memudahkan proses ekspor karena kedekatan budaya, bahasa, dan jejaring yang sudah dimiliki. Ia berharap sinergi ini dapat mempercepat pertumbuhan ekspor nasional dan mendukung pencapaian target pembangunan ekonomi Indonesia.
Sementara Sulistyawan menyambut baik dialog dengan pemerintah Indonesia. Ia berharap dialog ini dapat memberi ruang seluas-luasnya bagi para pelaku usaha diaspora untuk menyampaikan pengalaman, tantangan, serta aspirasi dalam mengembangkan usaha dan mendorong produk UMKM masuk ke pasar global. Kehadiran diaspora sangat diharapkan menjadi pintu pembuka ekspor karena memiliki pemahaman budaya, selera pasar, dan bahasa yang memudahkan penetrasi produk Indonesia ke luar negeri.
“Kami harap pemerintah dan diaspora dapat bersinergi untuk menemukan solusi yang mendukung kelangsungan ekspor produk Indonesia, khususnya dari pelaku UMKM yang berada di bawah naungan dan dukungan diaspora,” tambah Sulistyawan.
Peluang Pasar UMKM
Salah satu diaspora dari AS mengungkapkan, kebijakan tarif bea masuk oleh Presiden AS menjadi peluang baik bagi produk Indonesia, khususnya UMKM, untuk menembus pasar AS. Namun, tentu diperlukan strategi bertahap dan terkoordinasi. Salah satu pendekatan yang bisa dipertimbangkan adalah penyesuaian harga dari hulu ke hilir agar tetap kompetitif di pasar tujuan. Menurutnya, dengan mekanisme yang tepat, daya beli konsumen tetap terjaga tanpa mengorbankan kualitas produk. Ini saat yang tepat untuk melakukan penetrasi pasar secara lebih agresif dan terstruktur.
Ia pun berharap, Kemendag dapat mempertimbangkan kebijakan yang memberikan kemudahan dalam pengiriman untuk mendukung ekspor UMKM. Ia juga mendorong agar diaspora di negara tujuan ekspor dapat dilibatkan dalam pengadaan barang oleh pemerintah Indonesia di luar negeri. Dengan melibatkan diaspora sebagai mitra strategis, harga dan distribusi produk akan lebih efisien karena mereka memahami dinamika pasar setempat.







































