www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 20 Juni 2026
Home LIFESTYLE Rona & Film Film Horor Indonesia Berlatar Korea, “Tolong Saya (Dowa Juseyo)” Siap Tayang Akhir Januari
Rona & Film

Film Horor Indonesia Berlatar Korea, “Tolong Saya (Dowa Juseyo)” Siap Tayang Akhir Januari

Social Media

JAKARTA, Bisnistoday –
Film horor Indonesia Tolong Saya (Dowa Juseyo) produksi Heart Pictures siap tayang di bioskop mulai 29 Januari 2026. Film ini mengusung kisah lintas negara Indonesia dan Korea Selatan dengan pendekatan horor emosional yang menempatkan konflik psikologis sebagai pusat cerita.

Disutradarai oleh Nur Muhammad Taufik dan Sjahfasyat Bianca, film ini mengangkat perjalanan Tania, mahasiswi asal Indonesia yang melanjutkan pendidikan di Korea Selatan. Kehidupan Tania berubah ketika ia terjebak dalam rangkaian peristiwa misterius yang perlahan membuka trauma, rahasia masa lalu, dan ancaman yang tidak kasatmata.

Kisah Tolong Saya (Dowa Juseyo) tidak hanya mengandalkan kejutan visual, tetapi membangun ketegangan melalui relasi antarkarakter dan lapisan emosi yang berkembang hingga akhir cerita. Plot twist menjadi salah satu elemen penting yang disiapkan untuk menutup narasi film ini.

Nur Muhammad Taufik mengatakan film ini terinspirasi dari kisah nyata yang kemudian dikembangkan secara sinematik. “Kami berangkat dari pengalaman personal, lalu memperluasnya menjadi cerita yang lebih utuh dan relevan secara emosional,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa latar Korea Selatan dipilih bukan sekadar estetika, melainkan bagian dari kebutuhan cerita. “Budaya dan mitos di sana memberi ruang untuk membangun suasana horor yang lebih sunyi dan menekan,” kata Taufik.

Film ini dibintangi Saskia Chadwick sebagai Tania dan Cinta Brian sebagai Dion, sosok misterius dengan masa lalu yang kelam. Keduanya menjadi poros emosi cerita yang mempertemukan rasa takut, cinta, dan keraguan dalam situasi ekstrem.

Salah satu sorotan adalah debut layar lebar Kim Geba sebagai Dr. Park Min Jae. Kim Geba dikenal publik sebagai kreator konten yang aktif memperkenalkan budaya Korea dan memiliki kemampuan berbahasa Indonesia, Korea, dan Inggris. Kehadirannya menghadirkan nuansa autentik dalam dialog dan interaksi antarkarakter.

Kim Geba menyebut keterlibatannya di film ini sebagai pengalaman penting. “Ini pertama kalinya saya terlibat di film layar lebar, dan tantangannya adalah menjaga emosi tetap jujur di tengah cerita yang gelap,” ujarnya.

Deretan pemeran lain seperti Kim Seoyoung, Aruma Khadijah, Dito Darmawan, Yati Surachman, Debby Sahertian, Husein Alatas, hingga William Roberts turut memperkaya lapisan cerita melalui karakter dengan latar dan konflik berbeda.

Dari sisi produksi, film ini melibatkan tim kreatif lintas bidang dengan pengalaman solid. Naskah ditulis oleh Nucke Rachma, sedangkan sinematografi dipercayakan kepada Awank JJ, dan tata artistik dirancang oleh Ferry Anggriawan. Unsur suara menjadi elemen kuat film ini melalui soundtrack berjudul “Urieui Iyagi”, versi bahasa Korea dari lagu legendaris “Semua Tentang Kita” yang dinyanyikan oleh NOAH. Lagu ini diinterpretasikan ulang oleh Shakira Jasmine yang turut menambah nuansa emosional sekaligus romansa dalam film.

Produser Eksekutif Herty Paulina Purba menyampaikan bahwa film ini dirancang untuk memperluas spektrum horor Indonesia. “Kami ingin menghadirkan horor yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga meninggalkan kesan emosional,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi lintas negara menjadi tantangan sekaligus peluang. “Bekerja dengan latar Korea Selatan memberi perspektif baru dalam bercerita dan memperkaya visual film,” kata Herty.

Proses pengambilan gambar dilakukan di sejumlah lokasi di Korea Selatan. Lanskap kota dan ruang-ruang tertutup dimanfaatkan untuk memperkuat rasa isolasi dan tekanan psikologis yang dialami tokoh utama.

Selain horor, film ini juga memuat elemen romansa yang menjadi penyeimbang cerita. Hubungan antarkarakter dikembangkan secara bertahap, sehingga konflik tidak hadir secara instan, melainkan tumbuh bersama narasi.

Dengan pendekatan lintas budaya, debut aktor baru, serta cerita yang berangkat dari pengalaman nyata, Tolong Saya (Dowa Juseyo) diharapkan menawarkan alternatif bagi penonton horor Indonesia. Film ini menargetkan penikmat horor yang mencari cerita dengan kedalaman emosi dan konteks budaya yang kuat. (RF)

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Rona & Film

Debut Shanna Shannon di Film Dan Bandung Karya Pidi Baiq, Angkat Kisah Remaja Penuh Emosi

BANDUNG, Bisnistoday - Aktris muda Shanna Shannon menjalani debut akting layar lebarnya...

Mal Ciputra Jakarta
Rona & Film

CL Music Fest 2026 Kembali Ramaikan Mal Ciputra Jakarta dengan Konser Gratis Musisi Top Indonesia

JAKARTA, Bisnistoday - Setelah sukses menjadi salah satu event musik yang paling...

Caption Foto: Slank rilis album Republik Fufu Fafa penuh kritik sosial, digarap saat Ramadan dan rilis dalam format fisik.
Rona & Film

Sentilan Berani Slank Lewat Album Baru Republik Fufu Fafa yang Bikin Heboh


JAKARTA, Bisnistoday,- Grup band legendaris Indonesia, Slank, kembali menggebrak panggung musik Tanah...

Boy Band Taiwan, F4 (Instagram @ashin_ig)
Rona & Film

F4 akan Gelar Konser Reuni di Singapura

JAKARTA, Bisnistoday – Setelah sukses tampil di Indonesia pada akhir Mei lalu,...