JAKARTA, Bisnistoday – Tingkat penetrasi asuransi di Indonesia masih menjadi yang terendah di Asia Tenggara, hanya 1,4% menurut laporan IFG Progress (Februari 2025). Angka ini jauh tertinggal dari Vietnam (2,2%), Filipina (2,5%), Malaysia (3,8%), hingga Singapura yang mencapai 12,5%. Rendahnya angka tersebut salah satunya dipicu oleh berbagai miskonsepsi yang berkembang di masyarakat.
“Rendahnya penetrasi dan literasi asuransi di Indonesia menunjukkan masih besarnya tantangan dalam meningkatkan edukasi keuangan. Banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa asuransi bukan sekadar biaya, melainkan investasi perlindungan jangka panjang bagi diri dan keluarga,” ujar Fabiola Noralita, Direktur Bisnis Individu IFG Life melalui keteranganya di Jakarta, baru-baru ini.
Mitos dan Fakta Seputar Asuransi
IFG Life mencatat beberapa anggapan keliru yang masih melekat di masyarakat, di antaranya:
- Klaim Asuransi Sulit dan Ribet
Banyak yang menganggap proses klaim berbelit. Faktanya, IFG Life menghadirkan layanan digital lewat aplikasi One by IFG yang memungkinkan klaim dilakukan secara cepat, transparan, dan tanpa biaya tambahan. - Asuransi Hanya untuk Kalangan Mapan
Masih ada persepsi bahwa proteksi asuransi hanya untuk orang berpenghasilan tinggi. Padahal, produk IFG Life dirancang fleksibel sesuai kebutuhan dan kemampuan masyarakat di berbagai tahap kehidupan, mulai dari anak muda hingga persiapan pensiun. - Manfaat Asuransi Jiwa Hanya Saat Meninggal
Pandangan ini keliru. Produk seperti IFG LifeCHOICE juga melindungi nasabah dari risiko penyakit kritis, sehingga manfaatnya dapat dirasakan bahkan saat pemegang polis masih hidup. - Klaim di Daerah Sulit Dilakukan
Dengan digitalisasi layanan, klaim kini bisa diakses dengan mudah tanpa harus datang ke kantor cabang. - Premi Asuransi Mahal
IFG Life menegaskan premi bisa disesuaikan dengan kemampuan finansial, sehingga perlindungan bisa dimulai sejak dini tanpa harus menunggu mapan.
Tantangan dan Edukasi
Menurut survei, tiga faktor utama yang membuat masyarakat enggan berasuransi adalah: belum merasa membutuhkan, kurangnya kepercayaan pada perusahaan asuransi, dan persepsi premi yang mahal. Bahkan, 47% responden yang belum memiliki asuransi menyatakan belum berencana membeli dalam waktu dekat.
“Asuransi bukanlah beban biaya, melainkan perlindungan finansial yang semakin penting di tengah ketidakpastian. Karena itu, kami mendorong masyarakat untuk memiliki proteksi sejak dini, agar manfaat perlindungan dapat dirasakan lebih optimal dengan premi yang tetap terjangkau,” tutur Fabiola./




