JAKARTA, Bisnistoday – Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO menggelar Regional Meeting on Education for Sustainable Peace in Southeast Asia di Jakarta, Rabu (24/9). Pertemuan ini dihadiri lebih dari 300 peserta yang terdiri atas pejabat kementerian pendidikan, akademisi, organisasi internasional, serta perwakilan negara-negara ASEAN dan Timor Leste.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, yang menjadi pembicara kunci menegaskan pentingnya pendidikan lintas budaya dan agama sebagai jalan menuju masyarakat damai.
“Ketika anak-anak belajar tentang keyakinan dan tradisi orang lain, kebencian memudar, stereotip lenyap, dan jembatan empati mulai tumbuh,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan tidak hanya sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga sarana transformatif untuk menyamakan kedudukan, membuka kesempatan, dan menumbuhkan pemahaman. “Perdamaian tidak bisa dicapai sendirian oleh sebuah bangsa. Hal ini membutuhkan solidaritas regional dan kemitraan yang kuat,” tambah Mu’ti.
Pelaksana tugas Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Ananto Kusuma Seta, dalam sambutannya menyoroti meningkatnya rasisme dan prasangka global yang memicu konflik. “Pendidikan harus membentuk nilai-nilai, menumbuhkan empati, serta membina generasi yang memilih dialog daripada kekerasan,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur dan Representatif Kantor Regional UNESCO Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa, menekankan peran pendidikan dalam membangun ketangguhan dan fondasi perdamaian abadi. Ia menyerahkan secara simbolis instrumen Recommendation on Education for Peace, Human Rights, and Sustainable Development yang telah diadopsi 194 negara anggota UNESCO kepada Menteri Mu’ti.
Pertemuan ini diharapkan menjadi momentum bagi negara-negara Asia Tenggara untuk mengubah aspirasi bersama dalam pendidikan perdamaian menjadi aksi nyata di kawasan.//

