JAKARTA, Bisnistoday– Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani kesepakatan tarif 0% untuk sejumlah barang ekspor dari Malaysia, Kamboja, dan Thailand dalam KTT ASEAN di Kuala Lumpur. Langkah ini menjadi angin segar bagi kawasan Asia Tenggara, di mana Indonesia juga berpeluang ikut menikmati manfaat serupa melalui negosiasi intensif yang sedang berlangsung.
Sebelumnya, ketiga negara tersebut terkena tarif resiprokal 19% dari AS, yang kini dicabut untuk produk unggulan seperti minyak sawit dan karet. Menurut laporan Reuters, kesepakatan ini mencakup pembebasan bea masuk untuk peralatan kedirgantaraan, farmasi, serta komoditas pertanian, membuka peluang ekspor lebih luas ke pasar AS yang bernilai triliunan dolar.
Menteri Perdagangan Malaysia Tengku Zafrul Aziz menyambut baik inisiatif ini sebagai kemenangan bagi sektor ekspor negara tetangga. “Negara kami mendapat pembebasan tarif untuk peralatan kedirgantaraan, produk farmasi, serta komoditas seperti minyak sawit, kakao, dan karet,” ujarnya, dikutip Reuters.
Indonesia tidak ketinggalan dalam euforia kesepakatan dagang ini, dengan negosiasi tarif resiprokal yang sempat tertunda akibat shutdown pemerintahan AS kini kembali bergulir. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengonfirmasi bahwa pembicaraan dengan United States Trade Representative (USTR) Jamieson Greer telah memasuki tahap akhir, menargetkan penyelesaian dalam waktu dekat.
“Ya tentu akan dilanjutkan lebih intensif lagi bulan ini dan harapannya bisa diselesaikan dalam 2-3 minggu ke depan,” kata Airlangga Hartarto di Jakarta International Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, pada 9 Oktober 2025.
Pernyataan Airlangga menandakan optimisme tinggi bagi eksportir Indonesia yang selama ini terbebani tarif 19% ke AS. Airlangga menjelaskan bahwa Indonesia berfokus pada komoditas unggulan yang tidak diproduksi secara signifikan di AS, seperti kelapa sawit dan kakao.
“Intinya secara prinsip, komoditas yang bisa ditanam di Indonesia tapi tidak bisa di Amerika, dan sebaliknya. Seperti kelapa sawit, kakao, cokelat, itu mereka memberikan tarif 0%,” tambahnya.
Kesepakatan ini tidak hanya menguntungkan ASEAN secara keseluruhan, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam rantai pasok global. Dengan KTT ASEAN 2025 sebagai momentum, negosiasi ini diharapkan membuka babak baru perdagangan bilateral yang lebih adil dan saling menguntungkan, mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan di tengah ketegangan dagang global.(E2-Danu)




