JAKARTA, Bisnistoday,- Aktris berbakat Nirina Zubir kembali menguji totalitasnya di industri layar lebar melalui proyek film drama keluarga terbaru bertajuk Jangan Buang Ibu. Dalam produksi ini, Nirina didapuk memerankan tokoh Ristiana, seorang ibu lanjut usia yang harus menelan pil pahit akibat dinamika hubungan yang merenggang dengan anak-anaknya.
Keterlibatan Nirina dalam proyek ini nyatanya tidak diputuskan dalam semalam karena adanya beban emosional yang sangat masif di balik naskahnya. Nirina mengaku sempat dilanda kebimbangan sebelum akhirnya memantapkan hati untuk mengambil peran yang dianggapnya sangat menantang ini.
“Enggak mudah juga untuk menerima karakter ini. Perlu diyakini berkali-kali. Karena memerankan karakter ini tuh ada memori-memori yang bisa kita korek,” ungkap Nirina Zubir saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (13/3/2026).
Keputusan Nirina untuk menghidupkan karakter Ristiana didasari oleh pertimbangan matang mengenai kemampuan aktingnya dalam menyelami emosi yang belum pernah ia alami sebelumnya. Memerankan sosok wanita berusia 70 tahun menuntutnya untuk melakukan eksplorasi batin yang mendalam demi memberikan performa yang autentik di depan kamera.
Nirina secara jujur mengungkapkan bahwa ada ketakutan tersendiri ketika harus memproyeksikan masa depan yang belum ia jalani dalam kehidupan nyata. Baginya, setiap lapisan emosi dalam skenario tersebut membutuhkan keyakinan diri yang kuat agar pesan moral yang ingin disampaikan dapat tersalurkan dengan baik kepada penonton.
“Tapi kalau memerankan karakter yang belum kita alami, itu kayak ‘Hah, gimana ya?’,” ujar Nirina yang menjelaskan betapa asingnya perasaan menjadi lansia di tengah konflik keluarga yang pelik.
Pada tahap awal produksi, Nirina memiliki visi bahwa film ini akan menjadi sebuah warisan atau “surat cinta” yang ia dedikasikan khusus untuk kedua buah hatinya. Ia membayangkan bahwa suatu saat nanti, anak-anaknya yang kini beranjak remaja dapat melihat karya ini sebagai pengingat akan kasih sayang dan keberadaan dirinya sebagai seorang ibu.
“Waktu Nirina menerima pertama kali tawaran film ini, sebenarnya ini tadinya niatnya adalah surat cintaku buat anak-anakku. Karena punya anak umur 16 tahun dan menjelang 14 tahun. Jadi nanti kalau kamu udah gede, kamu lihat karya-karya ibu kamu, salah satunya ini kamu tonton buat kamu ingat aku,” kata Nirina dengan nada haru.
Namun, seiring dengan pendalaman karakter Ristiana yang ia jalani selama proses syuting, perspektif Nirina justru mengalami pergeseran makna yang sangat drastis. Ia menyadari bahwa perannya kali ini justru lebih banyak membuka memori tentang perjuangan ibundanya sendiri di masa lalu dalam membentuk jati dirinya saat ini.
“Ternyata pas lagi menjalankan karakter ini kebalik. Jadi ceritanya malah aku diingatkan betapa dulu punya ibu dan apa yang sudah ibuku lakukan untuk menjadi seorang Nirina Zubir sekarang. Jadi ternyata ini surat cinta buat aku sendiri kepada ibuku,” ungkapnya lagi.
Selain beban mental dan emosional, Nirina Zubir juga harus berhadapan dengan prosedur teknis yang sangat menguras stamina demi mendapatkan tampilan visual yang meyakinkan sebagai wanita senja. Ia diwajibkan datang jauh lebih awal daripada kru dan pemain lainnya untuk menjalani proses aplikasi special effects makeup yang sangat mendetail.
Pengalaman ini diakuinya sebagai salah satu momen paling melelahkan namun berkesan sepanjang karier panjangnya di dunia akting Indonesia. Nirina harus duduk diam dan bersabar selama berjam-jam agar setiap kerutan dan detail penuaan pada wajahnya terlihat sempurna di layar lebar.
“Empat jam sebelum orang lain datang! Jadi baru ngerti artinya pre-call itu apa. Seumur hidup main film belum pernah ngalamin kayak gitu,” pungkas Nirina menceritakan dedikasinya di balik layar film tersebut.E2-Adit)



