JAKARTA, Bisnistoday- Meningkatkan jumlah kasus positif Covid-19 di tanah air menjadi sentimen negatif bagi pelaku pasar modal dan pasar uang. Akibatnya, IHSG dan kurs rupiah terus melemah.
Pada perdagangan akhir pekan, Jumat (18/6) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 61,33 poin ke posisi 6.007,12. Sementara, indeks LQ45 turun 14,36 poin ke posisi 863,16.
“Selain dari sisi teknikal di mana IHSG sudah menutup dua gap-nya, di sisi lain pelemahan IHSG adalah karena tingginya kembali kasus Covid-19 di dalam negeri, ditambah dengan respons pasar atas kebijakan hawkish dari The Fed sendiri dalam kebijakan moneternya,” kata analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana sepeti dikutif Antara di Jakarta, Jumat (18/6).
Menurut Herditya, sikap hawkish The Fed memang masih membayangi dan menyebabkan pasar saham global dan Asia ditutup bervariasi cenderung terkoreksi dan juga mempengaruhi pergerakan IHSG sendiri.
Dibuka melemah, IHSG tak mampu beranjak dari zona merah pada sesi pertama dan sesi kedua perdagangan saham hingga akhirnya ditutup di teritori negatif.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sepuluh sektor terkoreksi dimana sektor barang baku turun paling dalam yaitu minus 2,29 persen, diikuti sektor kesehatan dan transportasi & logistik masing-masing minus 1,99 persen. Sedangkan satu sektor naik yaitu sektor teknologi sebesar 0,04 persen.
Penutupan IHSG diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing atau net foreign sell sebesar Rp193,77 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.440.453 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 26,57 miliar lembar saham senilai Rp17 triliun. Sebanyak 112 saham naik, 412 saham menurun, dan 122 tidak bergerak nilainya.
Sementara itu, bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 54,25 poin atau 0,19 persen ke 28.964,08, indeks Hang Seng naik 242,68 poin atau 0,85 persen ke 28.558,59, dan indeks Straits Times meningkat 5,85 poin atau 0,19 persen ke 3.144,16.
Rupiah Melemah
Sementara itu, kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Jumat (18/6) melemah 20 poin atau 0,14 persen ke posisi Rp14.375 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.355 per dolar AS.
Analis Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Nikolas Prasetia mengatakan, pernyataan The Fed terkait potensi kenaikan suku bunga yang lebih cepat pada 2023, menjadi faktor utama terkoreksinya rupiah.
“Saya melihat sentimen The Fed ini masih berpengaruh. Jadi pelaku pasar masih menyerap optimisme The Fed hingga tahun 2023. Karena fokus yang relatif minim, jadinya memang masih tertuju ke sentimen The Fed,” ujar Nikolas.
Sementara dari dalam negeri, tren bertambahnya jumlah kasus positif Covid-19 belakangan ini menjadi sentimen negatif bagi rupiah.
“Isu dari dalam negeri ini juga bisa jadi penghalang ke gerak rupiah. Apalagi kasus Covid-19 yang naik lagi, ada kekhawatiran lockdown bisa picu resesi di Indonesia,” kata Nikolas.
Menurut Nikolas, pada pekan depan rupiah masih akan kesulitan untuk bisa bergerak menguat. Rupiah berpotensi melemah menembus level Rp14.500 per dolar AS jika pada Senin (21/6) rupiah mencapai level resisten Rp14.400 per dolar AS.
“Tapi kalau ada tindakan tegas dari pemerintah untuk penerapan PPKM yang lebih ketat, mungkin bisa saja mengerek sedikit nilai rupiah,” ujar Nikolas./

