JAKARTA, Bisnistoday —Film horor legendaris Indonesia kembali hadir melalui Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa. Film produksi Soraya Intercine Films ini diperkenalkan kepada media dalam acara press conference dan screening yang digelar di XXI Plaza Senayan, Sabtu, 14 Maret. Film tersebut menghadirkan pendekatan baru terhadap sosok ikonik Suzzanna dengan cerita yang tetap mempertahankan unsur horor klasik, namun diperkaya dengan drama dan sentuhan komedi.
Disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis dan diproduseri oleh Sunil Soraya, film ini mencoba membawa warisan karakter Suzzanna ke generasi penonton baru. Cerita yang dihadirkan tidak hanya menampilkan sosok hantu menyeramkan, tetapi juga menggali sisi manusia dan konflik emosional yang dialami tokoh tersebut.
Sunil Soraya mengatakan pengembangan film ini dilakukan dengan tetap menjaga identitas klasik Suzzanna yang telah dikenal luas dalam sinema Indonesia. Menurutnya, karakter tersebut memiliki daya tarik kuat yang terus relevan di berbagai generasi penonton. “Kami ingin membawa karakter ini ke level berikutnya tanpa menghilangkan roh klasiknya,” ujarnya.
Sutradara Azhar Kinoi Lubis menilai sosok Suzzanna tidak sekadar figur horor yang menakutkan. Dalam film ini, karakter tersebut diposisikan sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami perempuan. “Suzzanna bukan hanya hantu, tetapi representasi kekuatan perempuan yang melawan,” kata Kinoi dalam konferensi pers.
Alur cerita juga menampilkan sejumlah praktik santet yang menjadi bagian penting dalam konflik cerita. Beberapa adegan digambarkan cukup brutal untuk memperkuat nuansa horor, sekaligus menunjukkan bagaimana teror santet memengaruhi kehidupan para tokohnya. Sutradara menyebut sebagian unsur cerita terinspirasi dari kisah nyata praktik perdukunan di masyarakat, yang kemudian dikembangkan secara dramatik dalam film, termasuk proses menghadapi dan mengalahkan santet yang digambarkan tidak mudah.
Dalam film ini, Luna Maya kembali dipercaya memerankan tokoh Suzzanna. Berbeda dari film sebelumnya, karakter yang ia mainkan kali ini menampilkan sisi emosional yang lebih kuat dan manusiawi. Luna mengaku pendekatan karakter tersebut memberinya tantangan tersendiri sebagai seorang aktor.
“Karakter ini menunjukkan bahwa kecantikan tidak menghilangkan prinsip dan harga diri seorang perempuan,” ujar Luna Maya. Ia menambahkan bahwa proses mendalami peran Suzzanna kali ini membuatnya melihat karakter tersebut dari sudut pandang yang lebih kompleks.
Film ini juga menandai keterlibatan Reza Rahadian yang untuk pertama kalinya bergabung dalam waralaba film Suzzanna. Ia menyebut proyek tersebut sebagai kesempatan menarik untuk berkontribusi dalam menghidupkan kembali salah satu ikon horor Indonesia.
“Nama Suzzanna adalah IP besar dalam film Indonesia. Membawanya kembali dengan pendekatan baru tentu menjadi tantangan sekaligus kebanggaan,” kata Reza Rahadian.
Selain Luna Maya dan Reza Rahadian, film ini juga menghadirkan sejumlah aktor lintas generasi seperti Djenar Maesa Ayu, Adi Bing Slamet, Nunung, hingga Aziz Gagap. Kehadiran sejumlah komedian tersebut memberikan sentuhan humor ringan di beberapa bagian cerita.
Namun, unsur komedi dalam film ini tetap dibatasi agar tidak mengurangi atmosfer horor yang menjadi inti cerita. Sutradara menekankan bahwa humor berfungsi sebagai jeda emosional sebelum ketegangan kembali dibangun dalam alur film.
Melalui Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, tim produksi berharap film ini tidak hanya menghidupkan kembali karakter legendaris tersebut, tetapi juga menghadirkan perspektif baru tentang sosok Suzzanna sebagai figur kuat dalam cerita horor Indonesia.
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 18 Maret 2026. (RF/E2)



