JAKARTA, Bisnistoday- Pelaku pasar modal tetap optimistis terhadap pemulihan ekonomi domestik. Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kian bergairah.
Pada Perdagangan Senin (18/10), Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 25,43 poin ke posisi 6.658,77. Sementara Indeks LQ45 naik 4,28 poin ke posisi 976,43.
Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya menyebutkan, dari dalam negeri, menjelang rilis data kinerja keuangan kuartal III, pelaku pasar terlihat menaruh harapan yang tinggi terhadap perbaikan kinerja perusahaan. “Pemulihan serta pelonggaran ekonomi pada kuartal III dinilai menjadi trigger pada membaiknya kepercayaan diri pelaku pasar terhadap sektor riil di kuartal III”.
Selain itu penguatan nilai tukar rupiah dalam dua pekan terakhir dinilai dapat mendorong impor bahan baku guna mendukung produksi sektor manufaktur terjaga di arah positif.
Pergerakan pasar saham Asia hari ini berbanding terbalik dengan pergerakan pasar saham Amerika. Pelaku pasar menurunkan ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi China di mana pelaku pasar juga mencermati perkembangan kasus Evergrande.
Pelaku pasar mengkhawatirkan risiko kredit dari sektor properti China berdampak pada kinerja pemulihan ekonomi yang lebih luas.
Dibuka menguat, IHSG lebih banyak menghabiskan waktu di zona hijau hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih berada di teritori positif hingga penutupan bursa saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, delapan sektor meningkat dengan sektor transportasi & logistik naik paling tinggi yaitu 1,8 persen, diikuti sektor perindustrian, dan sektor barang baku masing-masing 1,45 persen dan 1,25 persen.
Sedangkan tiga sektor terkoreksi dengan sektor barang konsumen primer turun paling dalam yaitu 0,14 persen, diikuti sektor energi dan sektor infrastruktur turun masing-masing 0,12 persen dan 0,1 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy sebesar Rp1,02 triliun.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.398.659 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 24,5 miliar lembar saham senilai Rp16,45 triliun. Sebanyak 324 saham naik, 186 saham menurun, dan 159 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei melemah 43,17 poin atau 0,15 persen ke 29.025,46, Indeks Hang Seng naik 78,79 poin atau 0,31 persen ke 25.409,75, dan Indeks Straits Times meningkat 2,17 poin atau 0,07 persen ke 3.176,08.
Rupiah Melemah
Sementara itu, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta melemah, di tengah ekspektasi pelaku pasar terkait kebijakan tapering bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (Fed).
Rupiah ditutup melemah 35 poin atau 0,25 persen ke posisi Rp14.110 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupaun perdagangan sebelumnya Rp14.075 per dolar AS.
“Dolar AS mampu menguat di tengah ekspektasi bank sentral AS akan memperketat kebijakan moneter lebih cepat dari yang diperkirakan,” tulis Tim Riset Monex Investindo Futures dalam kajiannya.
Federal Reserve akan memperketat kebijakan moneter lebih cepat dari prediksi sebelumnya di tengah membaiknya ekonomi dan melonjaknya harga energi.
Notulen rapat The Fed pada September mengkonfirmasi bahwa pengurangan stimulus pasti akan dimulai tahun ini, meskipun pembuat kebijakan terbagi tajam mengenai inflasi dan apa yang harus mereka lakukan tentang hal itu.
Rupiah pada pagi hari dibuka menguat di posisi Rp14.060 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.057 per dolar AS hingga Rp14.113 per dolar AS.
Sementara itu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin melemah ke posisi Rp14.096 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp14.084 per dolar AS./

