www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 13 Juni 2026
Home EKONOMI Pengamat Minta Kementan Hati-Hati Soal Perhitungan Swasembada Beras
EKONOMIEkonomi & Bisnis

Pengamat Minta Kementan Hati-Hati Soal Perhitungan Swasembada Beras

PANEN PADI : Masyarakat bersama memanen padi, di salah satu ladang padi, di Bali.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Pengamat mengingatkan Kementerian Pertanian berhati-hati terhadap perhitungan swasembada beras, sebab jika sampai perhitungan kurang tepat akan membahayakan kepentingan nasional. Angka-angka yang keliru dalam perhitungan dapat menimbulkan gejolak sosial ketika kenyataanya justru mengalami defisit.

Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) Suroto, Rabu (11/2) mengatakan klaim Kementan bahwa sepanjang tahun 2025 produksi beras nasional sebesar 34,69 juta ton. Meningkat 4,07 juta ton atau 13,29 persen dibandingkan tahun 2024. Diklaim surplus beras sebesar 3,52 juta ton. Sementara luasan panen sebanyak 11,32 juta hektar atau meningkat 12,69 persen.

Perhitungan produksi beras nasional tersebut didasarkan pada asumsi perhitungan rendemen konversi Gabah Kering Giling (GKG) menjadi beras sebesar 64,12 persen.

Suroto menyebutkan asumsi tersebut kurang representatif karena hanya didasarkan pada satu musim kemarau di bulan Agustus-September 2025. Apalagi dipengaruhi oleh obsesi untuk penyerapan gabah oleh Bulog yang menurunkan kualitas beras dan otomatis rendemen.

“Kalau mau rasional, sebetulnya yang lebih mendekati kenyataan adalah hitungan dari USDA (United State Departement Of Agriculture) yang angkanya sebesar 57,69 %. Data rendemen USDA ini juga menjadi lebih aman juga bagi kepentingan nasional agar kita tidak bias politik,” kata Suroto dalam keterangan tertulis.

Ia juga meminta Presiden menurunkan tim intelejen khusus untuk mengecek ini secara independen. Menurutnya angka-angka ini over confident dan sudah mendekati obsesif-ilutif dan politis.

Suroto berpendapat program yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian saat ini orientasinya short cut, dan keberlajutanya sangat diragukan. Rekayasa kelembagaan dan juga pembiayaan yang memungkinkan petani tidak maju.

“Nasib petani kita selalu berada di sektor on farm yang tinggi resiko, dan bermarjin rendah. Ini artinya dalam perspektif politik juga menjadi ancaman serius bagi kepentingan stabilitas politik nasional,” tegasnya.

Menurutnya, sektor bisnis off farm  dan bahkan non farmnya seperti pembiayaan di sektor pertanian tidak menunjukkan daya dukung ke petani. Semua masih dikuasai oleh mafia kartel. Mereka panen tapi tidak panen, terjebak para pengijon.

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Mendag Busan
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Mendag Busan Dorong CEO Perusahaan Manufaktur Optimalkan Ajang Bisnis Trade Expo Indonesia

JAKARTA, Bisnistoday - Menteri Perdagangan Budi Santoso mengajak perusahaan manufaktur nasional untuk...

Nama Lionel Messi masih menjadi daya tarik, termasuk untuk produk asesoris Piala Dunia 2026. (Unsplash/Dwlly)
EKONOMISport & Health

Meraup Cuan di Piala Dunia Melalui Penjualan Boneka Messi

JAKARTA, Bisnistoday – Timnas Tiongkok memang gagal lolos ke Piala Dunia 2026,...

Menperin
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Realisasikan Program Prioritas, Kemenperin Minta Tambah Anggaran Rp1,59 Triliun

JAKARTA, Bisistoday - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp1,59 triliun...

Aktifitas Bongkar Muat di Pelabuhan Belawan.
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Kemendag Terbitkan Tiga Aturan Tata Kelola Ekspor SDA Strategis

JAKARTA, Bisnistoday-  Kementerian Perdagangan menerbitkan tiga Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) yang masing-masing...