BANDUNG, Bisnistoday – Eka Cahya Prima menjadi sorotan dalam pengukuhan guru besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tahun 2026. Dosen bidang Fisika Material Sel Surya tersebut tercatat sebagai profesor termuda 35 tahun di bidang fisika di Indonesia.
Ia memperoleh SK Guru Besar pada 1 Desember 2025 dan kini mengembangkan Laboratorium Material Energi Surya di lingkungan UPI bersama mahasiswa-mahasiswanya. Penelitiannya berfokus pada pengembangan sel surya berbahan organik dan anorganik sebagai bagian dari upaya menghadirkan energi ramah lingkungan di masa depan.
“Saya dibimbing oleh Pak Menteri, Prof. Brian Yuliarto. Bidang saya adalah fisika material, khususnya material sel surya,” ujar Eka, ujarnya, ditemui awak media usai acara Pengukuhan Guru Besar UPI Tahun 2026, di Gedung Ahmad Sanusi/ BPU UPI, jalan Dr. Setiabudhi no 229 Bandung (7/5/2026).
Baca Juga:UPI Atur WFH Setiap Jumat, Pastikan Layanan Publik Tetap Optimal
Menurut Prof. Eka, perkembangan teknologi seperti kendaraan listrik membutuhkan energi dalam jumlah besar sehingga dunia tidak bisa terus bergantung pada energi fosil. Karena itu, pengembangan energi baru terbarukan menjadi sangat penting.
“Energi tidak bisa lagi hanya berbasis fosil, tetapi juga harus berbasis energi ramah lingkungan,” katanya.
Selain melakukan penelitian, ia juga aktif membangun literasi energi terbarukan melalui pendidikan. UPI dinilainya memiliki peran penting dalam mengenalkan energi ramah lingkungan kepada generasi muda sejak dini.
Sebagai bagian dari kontribusi di bidang pendidikan, Prof. Eka juga dipercaya menjadi editor utama buku Teknik Energi Surya, Hidro, dan Angin untuk kebutuhan pembelajaran. Riset yang dikembangkannya juga berkaitan dengan STEM Education dan pengembangan material energi surya berbahan lokal.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam riset saat ini adalah pengembangan laboratorium berkualitas tinggi, terutama karena sebagian besar material nanoteknologi masih bergantung pada impor luar negeri. Karena itu, ia bersama tim berupaya mengembangkan material berbahan lokal agar dapat dimanfaatkan para peneliti di Indonesia.
Melalui pengembangan produk riset bersama TikTok Shop Prima Edu, beberapa material yang dikembangkan bahkan telah digunakan oleh peneliti di BRIN, ITB, dan berbagai perguruan tinggi lainnya.
Di tengah kesibukannya sebagai akademisi dan peneliti, Prof. Eka mengaku tetap harus membagi waktu dengan keluarga. Ia juga menyebut proses menuju jabatan guru besar membutuhkan perjuangan panjang karena harus melewati berbagai tahapan birokrasi dan penilaian akademik.
“Pesan saya untuk generasi muda dan akademisi muda adalah jangan pernah berhenti berkarya. Walaupun kita berada dalam kondisi keterbatasan, bukan berarti kita tidak bisa berinovasi,” tuturnya.
Sementara itu, Rektor UPI, Didi Sukyadi, menegaskan bahwa pengukuhan guru besar bukan sekadar seremoni akademik, tetapi momentum memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap masyarakat.
Menurutnya, guru besar tidak boleh hanya berhenti pada status akademik atau publikasi ilmiah semata. Para profesor harus mampu menghadirkan solusi nyata bagi berbagai persoalan masyarakat, mulai dari pendidikan, literasi, pengelolaan sampah, hingga energi alternatif.
“Pengukuhan guru besar kali ini bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi juga menjadi momentum lahirnya sesuatu yang baru bagi UPI,” ujarnya.
Saat ini, UPI memiliki sekitar 254 guru besar dari total 1.628 dosen atau sekitar 15,60 persen. Angka tersebut dinilai telah melampaui rata-rata nasional dan menjadi modal penting dalam memperkuat kualitas pendidikan tinggi serta daya saing global universitas.
Rektor juga menegaskan bahwa kehadiran guru besar muda seperti Prof. Eka menjadi tren positif yang terus didorong UPI agar dosen-dosen dapat mencapai jabatan akademik tertinggi pada usia yang masih produktif.
“Dengan begitu, produktivitas dan dampak risetnya akan lebih panjang dan lebih dirasakan oleh masyarakat,” pungkasnya.E2

