www.bisnistoday.co.id
Kamis , 9 Juli 2026
Home OPINI Gagasan Sistem Patrimonialisme Sebabkan Kualitas Parlemen Buruk
Gagasan

Sistem Patrimonialisme Sebabkan Kualitas Parlemen Buruk

Kampanye Pemilu
Social Media

MASALAH sistem pemilihan umum (Pemilu) untuk anggota parlemen saat ini sedang menuai kontroversi antara sistem proporsional tertutup atau proporsional terbuka. Hal ini dipicu uji materi yang dilakukan di Mahkamah Konstitusi (MK) atas Undang Undang Pemilu oleh sekelompok masyarakat akhir akhir ini.

Suroto

Hampir semua fraksi, kecuali PDI Perjuangan menyatakan tetap ingin pertahankan sistem pemilu proporsional terbuka. Sementara PDI Perjuangan menyatakan tidak setuju dan ingin dikembalikan ke sistem proporsional tertutup.

Sistem proporsional terbuka yang dilaksanakan saat ini memang menuai masalah serius karena  menyebabkan pemilu menjadi mahal karena antar kader partai harus bersaing secara terbuka. Saling tikam menikam di dalam tubuh partai.

Misi kepentingan perjuangan ideologi partai menjadi tergerus. Fenomena “politisi artis” yang hanya andalkan basis elektoral dan abaikan soal karya, kedisiplinan ideologi, dan kadar intelektualitas kader masuk dalam kontestasi pemilu adalah bagian dari penjelasan betapa bobrok dan liberalnya sistem pemilu terbuka ini.

Sementara itu, sistem proporsional tertutup dianggap otoriter karena keputusan calon legislatif yang ada di tangan pengurus partai dan kepentingan  masyarakat konstituenya dapat saja tereduksi.

Partai politik itu pada dasarnya adalah organisasi perjuangan ideologi. Melalui pemilu legislatif, partai politik mendapatkan ruang kontestasi demokrasi untuk menentukan wakil wakil mereka di parlemen dalam memperjuangkan aspirasi ideologinya itu.

Lebih Baik

Jadi sesungguhnya sistem proporsional tertutup itu memiliki relevansi lebih baik karena hakekat perjuangan partai itu bukan soal siapa yang duduk mewakili konstituennya di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tapi bagaimana kepentingan ideologi partai dapat diperjuangkan.

Namun demikian, walaupun diterapkan sistem pemilu proporsional tertutup kembali ataupun terbuka seperti saat ini, pada dasarnya hanya akan hasilkan kualitas anggota parlemen  yang buruk jika tidak dilakukan perombakan sistem kepartaian yang patrimonial yang berlaku di hampir seluruh partai politik di Indonesia saat ini.

Sistem patrimonialisme adalah sistem regenerasi  partai yang  mengutamakan ikatan genealogis atau pewarisan dengan penujukam oleh elite partai.  Dimana secara legal mereka melakukan proses rekayasa agar anak atau keluarga para elit partai masuk di partai tanpa melihat kapasitasnya. Mereka tidak pertimbangkan kualitas kader dan prestasi karyanya bagi masyarakat, sehingga membuat orang yang tidak kompeten memiliki kekuasaan.

Bahkan melalui kekuatan klik tertentu mereka dapat terus  menyetir kepentinganya. Inilah yang kemudian membuat  proses rekrutmen dan kaderisasi di partai politik tidak berjalan. Semakin berkuasa satu kelompok atau bahkan keluarga dalam tubuh partai maka semakin berbahaya bagi berjalannya demokrasi.

Jadi, jika memang putusan Mahkamah Konstitusi (MK) memang akan mengembalikan sistem proporsional tertutup agar tidak liberal seperti saat ini, maka  koreksi sistem demokrasi di partai politik harus menjadi praayaratnya.

Di dalam undang undang kepartaian harus diatur tegas mengenai misalnya putusan strategis yang bersifat kolektif kolegial bukan privelege ketua umum, batasan jabatan pengurus parpol dibatasi maksimal dua periode, dilakukan  pembatasan terhadap hubungan keluarga semenda dalam kepengurusan partai dan lain sebagainya.

Masalahnya adalah, apakah dengan struktur partai partai politik yang didominasi oleh paham  patrimonialisme ini mungkin akan terjadi perombakan total dari sistem kapartaian kita?. Ini juga sama saja mengharap sebuah perubahan yang tidak mungkin. Harapan perubahan satu satunya adalah melalui jalur formal lakukan uji materi terhadap UU Kepartaian atau desakan luas dari rakyat sebagai pemegang kedaulatan syah dari negara ini./ Oleh :  Suroto, Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES)

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Kemiskinan
Gagasan

Pengakuan Seorang Anak Tentang Kehidupan Keluarga Miskin Kota

SEJAK tahun 2021, ayah saya bekerja sebagai buruh harian lepas di Yogyakarta....

Orasi Ilmiah
Gagasan

“Dramaturgi” Dibalik Skandal Riset “Bodong”

DUNIA akademik Indonesia baru saja dihantam badai yang memalukan di panggung internasional....

Kopdes Merah Putih
Gagasan

Jangan Dipersempit, Koperasi Desa Merah Putih Mesti Dipandang Lebih Holistik

RASANYA, perlu diselaraskan dalam pemikiran koperasia atas hadirnya program Koperasi Desa /Kelurahan...

Dream Job
Gagasan

Secercah Harapan Muncul, Semoga Badai Ekonomi Segera Berlalu

BELUM LAMA INI, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan perlunya disiplin fiskal. ...